Jamaah Masjid Darussalam Sambut Hj. Siti Mufattahah

PULUHAN jamaah Masjid Darussalam di kawasan Haurpanggung, Tarogong, Kabupaten Garut antusias menerima kunjungan anggota DPR RI Dari Partai Demokrat Komisi IX Hj. Siti Mufattaah. Gelaran taraweh keliling yang dilakukan oleh Hj. Siti Mufattahah itu, kali ini bertempat di daerah terdampak banjir bandang Garut beberapa waktu yang lalu.

“Saat bajir bandang beberapa waktu lalu saya hadir disini, karena itu kali ini ketika Garut dikejutkan kembali dengan bencana banjir, saya teringat masa banjir bandang, ” ujarnya, lirih.

Malam itu, Hj. Siti diterima warga Haurpanggung di Masjid Darusalam. Ketua DKM Darusalam, Ajengan Aan mengatakan, ia tidak mengira akan kedatangan tamu istimewa anggota DPR RI.

“Seingat saya baru pertama kali ini ada kunjungan teraweh keliling langsung dari pejabat ke pinggiran kali Cimanuk ini. Di tempat yang mulia ini kami jamaah Masjid Darusalam dan warga Haurpanggung mendoakan ibu Hj. Siti agar diberikan kebarokahan, kesehatan dan lindungan Allah Swt,” kata Ajengan Aan.

Sementara itu, Tika, salah seorang warga menyebutkan, ibu Hj. Siti sudah dua kali berkunjung ke tempat ini. “Saat Banjir bandang melanda Garut tempo hari, Ibu juga berkunjung ke tempat ini. Dan kini saat bulan yang penuh berkah Ibu Hj. Siti kembali bersama warga Haurpanggung dalam gelaran taraweh keliling,” ungkapnya.

Dikatakannya, Hj. Siti adalah sosok wanita yang patut dicontoh dan ditauladani. Meski seorang pejabat tapi ia enggan menampakkan dirinya sebagai seorang pejabat.

“Ibu merakyat sekali dan dekat dengan warganya. Biasanya anggota DPR itu akan sibuk turun kelapangan bila menjelang kampanye dalam pemilu. Tapi beda dengan Ibu Hj. Siti Mufattahah, turun ke lapangan sudah menjadi kebiasaan rutinnya. Ini yang membuat warga Garut cinta pada Ibu Hj. Siti,” tuturnya.

Diuraikannya, untuk mengejar waktu dalam menemui warganya tak sungkan ia harus naik kendaraan roda dua.

Seusai melakukan teraweh keliling iapun masih ada agenda lain ditempat yang lain yaitu melakukan pertemuan dengan kaula muda Garut. (TAF.Senopati/ADV)***

Jembatan Terputus, Siswa dan Warga Garut Bertaruh Nyawa Lintasi Derasnya Sungai Cisarua

BUNGBULANG, (GE).– Jembatan Cisarua yang ambruk akibat sapuan banjir bandang telah memutus akses jalan penghubung Kecamatan Bungbulang menuju Kecamatan Mekarmukti. Pagi tadi, Kamis (10/11/2016),  sejumlah siswa dan warga terpaksa melintasi derasnya Sungai Cisarua agar bisa bersekolah dan menjalani aktivitas.

Salah seorang siswa, Dinan Aulia (12), mengaku memberanikan diri melintasi derasnya Sungai Cisarua agar bisa sampai ke sekolahnya. Ia mengaku khawatir saat arusnya tiba-tiba membesar. Padalnya arus air tak dapat diprediksi.

“Sebenarnya saya takut, tapi mau bagaimana lagi. Ini satu, satunya jalan menuju sekolah. Kalau pun ada harus memutar puluhan kilo meter,” ujarnya kepada “GE”, Kamis (10/11/2016), saat ditemui di lokasi kejadian.

Tak hanya kegiatan siswa yang terganggu, warga setempat pun turut kesulitan menjalankan aktivitasnya. Pasalnya jembatan Cisarua yang terletak di Kampung Cisarua, Desa Hanjuang, Kecamatan Bungbulang ini menjadi akses vital mereka.

Warga setempat, Heri (42),  mengaku saat jembatan roboh dan terbawa arus Sungai Cisarua dirinya baru pulang kerja. Kendaraan roda duanya tak bisa melintas. Jadi saat pulang sepeda motornya dititipkan di rumah warga yang ada di sebrang jembatan.

“Kemarin suasananya mencekam. Jembatan putus, air meluber di mana-mana,” kata Heri.

Heri berharap pemerintah bergerak cepat menanggulangi permasalahan ini. Pasalnya, bukan hanya jembatan namun banyak rumah warga dan lahan pertanian yang tersapu banjir bandang.

Sementara itu, Kepala Desa Hanjuang, Asep Rahayu Efendi mengatakan, banjir bandang yang terjadi kemarin Rabu (9/11/2016) telah memutus Jembatan Cisarua yang terletak di Kampung Cisarua, Desa Hanjuang, Kecamatan Bungbulang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Selain itu, masih ada dua jembatan desa lainnya yang ikut terputus.

Tidak hanya jembatan, kata Asep, 4 irigasi dan 10 rumah warga ruskak berat. Berdasarkan data yang dimilikinya tak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun aparat desa dibabtu BPBD saat ini sedang melakukan penyisiran.

Berdasarkan pantauan “GE” di lokasi kejadian pascabanjir bandang akses jalan Bungbulang ke Mekarmukti terputus total. Sementara akses jalan dari Cikajang ke Bubgbulang masih bisa dilalui meski banyak longsoran kecil. Akses jalan lainnya dari Bungbulang ke Rancabuaya masih bisa dilalui meski ada longsoran kecil. Bagi warga yang akan bepergian ke daerah Bungbulang dan sekitarnya direkomendasikan agar menggunakan kendaraan roda dua. Pasalnya banyak longsoran tanah.

Diberitakan sebelumnya, hujan deras di wilayah Garut Selatan mengakibatkan jembatan Cisarua terputus. Puluhan rumah terendam dan hektaran lahan pertanian disapu banjir bandang. Setidaknya ada lima sungai besar yang meluap di wilayah Garut Selatan. Sungai tersebut adalah, Sungai Cikandang di Mekarmukti, Sungai Cikaengan di Kecamatan Peundeuy, Sungai Cipalebuh di Pameungpeuk, SUngai Cipasarangan di Cikelet dan Sungai Cikawung di Kecamatan Bungbulang. (Idrus Adriawan)***

Breaking News ! Garut Dikepung Banjir

GARUT, (GE).- Sejumlah kawasan di Garut direndam banjir. Berdasarkan pantauan “GE” kawasan yang terkena dampak banjir salah satunya akibat luapan Sungai Cimanuk. RSU. dr. Slamet Garut ikut terkena dampak. Pasien yang sedang menjalani perawatan langsung dievakuasi ke lantai dua.

Informasi yang berhasil dihimpun, banjir melanda Jalan Cimanuk, Sukapadang, Rengganis, Karangpawitan, Banyongbong dan Pakenjeng. Sejumlah warga terjebak di atap rumah. Bahkan ada empat orang warga di Bayongbong terbawa hanyut arus sungai.

Warga Rengganis, Nureka Prasetya (39), mengatakan banyak warga terjebak di atap genteng guna menghindari kepungan banjir. Dirinya pun terpaksa harus mengungsi ke rumah saudaranya yang ada di kawasan gordah.

Sementara itu, warga Cimacan, Yadi (42), banjir mengepung kawasan Cimacan sàat hujan lebat terjadi. Warga berhamburan ke luar rumah saat air mulai masuk ke rumah mereka.

“Suasananya mencekam. Kami semua ketakutan,” katanya Selasa (20/9/2016).

Sementara itu, sejumlah ruangan di RSU. dr. Slamet juga ikut terendam banjir. Sejumlah pasien terpaksa dievakuasi ke lantai dua.

Keluarga vasien, Nunung (29), mengaku suasana mencekam sempat terjadi di sejumlah ruangan rawat inap RSU. dr. Slamet Garut. Bahkan ada pasien yang menangis karena takut.

“Kini babyak pasien yang menggelar tikar atau kasur seadanya di lantai dua rumah sakit. Penanganan pengobatan pun menjadi terganggu,” pungkas Nunung.

Sampai berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari BPBD. Saat dikonfirmasi via telpon semua anggota BPBD sibuk. (Farhan SN)***

Sejumlah Dokter di RSUD dr. Slamet Garut Jadi Pemilik Apotek Ilegal

TARKI, (GE).-  Ironis, sejumlah dokter yang berdinas diduga memiliki apotek tak berijin. Menurut Kepala Bidang Regulasi Kebijakan Kesehatan pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Garut, Avi Anshori, apotek tersebut dipastikan tidak berijin karena tidak memiliki apoteker. “Dengan tidak adanya apoteker, berarti apotek tersebut tidak mengantongi perpanjangan surat izin apotek,” kata Avi.

Avi menyebutkan, apotek yang tidak memiliki apoteker di Garut di antaranya Apotek Perdana yang berlokasi di samping RSUD dr. Slamet Garut. Dinas Kesehatan dipastikan tidak akan mengeluarkan rekomendasi perpanjangan surat izin apotek kepada Apotek Perdana.

Lebih mengejutkan lagi, berdasarkan keterangan karyawan Apotek Perdana, Arip Munandar, ternyata apotek tersebut merupakan milik salah seorang pejabat di lingkungan RSUD dr Slamet Garut, Een Suryani, yang juga Wakil Direktur Pelayanan RSUD Dr. Slamet Garut. Bahkan, lebih ironis lagi, bukan hanya Een yang menjadi pemilik apotek bermasalah tersebut tapi juga ada sederet nama dokter yang bertugas di RSUD dr. Slamet Garut.

Saat dikonfirmasi terkait hal itu, Een mengakui dirinya sebagai pemilik dari Apotek Perdana. Namun menurutnya, sebenarnya dirinya sudah menyatakan keberatan dan minta segera diganti akan tetapi tidak disetujui yang lainnya.
“Hingga hari ini saya memang masih menjadi pemilik dari Apotek Perdana. Sebenarnya saya sudah mengajukan keberatan dan minta agar diganti tapi yang lainnya tak mau saya diganti,” ujar Een, Selasa (20/9/2016).

Terkait kepemilikan apotek tak berijin tersebut, Een menyebutkan ada empat dokter lainnya yang juga menjadi pemilik dari Apotek Perdana, salah satunya Neneng Yuliani.

Een mengakui juga meski tanpa apoteker, Apotek Perdana masih terus beroperasi. Kondisi itu terjadi sejak apoteker yang semula bekerja mengundurkan diri. Di sisi lain, calon apoteker yang baru saat ini masih dalam proses membuat Surat Ijin Praktik Apoteker.

“Kenapa saya tidak menutup Apotek Perdana meski tanpa adanya seorang apoteker? Itu semata-mata saya ingin terus memberikan pekerjaan kepada karyawan apotek. Kalau apaoteknya saya tutup, berarti karyawannya harus berhenti bekerja, kan kasihan juga,” kata Een.

Sebagaimana diketahui, merujuk Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1980 tentang Apotek, apotek menjadi tanggung jawab apoteker sehingga setiap apotek harus mempunyai apoteker. Dengan demikian, apotek tersebut dipastikan telah melanggar ketentuan.

Terkait pelanggaran aturan yang dilakukannya sehingga bisa saja pihak Dinas Kesehatan menutup apotek miliknya tersebut, Een mengaku tidak keberatan. Bahkan Een terkesan menantang. “Tutup saja sekarang kalau memeng Dinas Kesehatan mau menutupnya,” ujar dia.

Sementara itu Direktur RSUD dr. Slamet Garut,  Maskut Farid, mengaku tidak mengetahui ada dokter RSUD dr. Slamet yang menjadi pemilik Apotek Perdana. Namun, ia menyatakan, kepemilikan apotek menjadi hak masing-masing dokter.

“Kalau memang ada dokter yang memiliki apotek, itu hak mereka dan saya tak punya kewenangan untuk melarangnya. Namun yang perlu diperhatikan, dokter tidak boleh ada kepentingan dalam memberi obat,” komentar Maskut.

Maskut berjanji akan segera memanggil dokter-dokter yang disebut-sebut menjadi pemilik dari Apotek Perdana. Selain itu dia juga menyatakan akan mempelajari lebih jauh terkait permasalahan tersebut, termasuk melakukan pengecekan terkait legalitas Apotek Perdana. (Slamet Timur).***

Apes ! Bermaksud Hindari Razia, Pengendara Bermotor Malah Tabrak Blokade Polisi

KOTA, (GE).- Bermaksud hindari razia Polisi seorang pemuda paruh baya malah menabrak blokade Polisi yang sedang menjalankan operasi. Untung saja, petugas yang sedang bekerja berhasil menghindar dari serudukan sepeda motor yang sudah oleh itu. Pengendara nahas tersebut akhirnya tersungkur di atas aspal dan menabrak papan razia.

Kanit Turjawali Satlantas Polres Garut, IPTU. Tejo Reno, membenarkan peristiwa tersebut. Kondisi korban yang tidak membawa identitas tersebut mengalami lecet di bagian kaki dan tangan. Kini pengendara tersebut diamankan jajaran Polres Garut guna dimintai keterangan lebih lanjut.

“Dia datang dari arah barat menuju Timur di Jalan Ahmad Yani. Kaget melihat razia, pengendara malah tancap gas dan menabrak papan pemberitahuan,” kata Tejo, saat ditemui “GE” saat menggelar razia di Jalan Ahmad Yani, Senin (5/9/2016).

Saat diperiksa, lanjut Tejo, pengendara tersebut tidak memiliki surat kelengkapan berkendara. Bahkan ia tak membawa kartu identitas apa pun. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, pengendara tersebut diamankan di Mapolres Garut berikut sepeda motornya.

Tejo melanjutkan, razia kali ini bertujuan untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas khususnya di Kabupaten Garut. Dalam razia kali ini, Polisi berhasil menjaring puluhan pengendara kendaraan bermotor yang tidak melengkapi surat-surat berkendara.

“Hari ini ada 50 pengendara yang mendapatkan sanksi berupa tilang. Pelanggarannya tidak membawa surat kelengkapan berkendara seperti SIM dan STNK. Ada juga yang tidak memakai helm dan kelengkapan kendaraan seperti kaca spion, dan knalpot bising,” pungkasnya. (Hakim AG)***

Rhoma Irama Serahkan SK Partai Idaman Garut

TARKID, (GE).- Dalam rangka mempersiapkan Partai Idaman agar lolos Verifikasi Kemenhumkam dan KPU, Ketua Umum DPP IDAMAN, H. Rhoma Irama melakukan berbagai kegiatan. Seperti yang dilakukan pada hari Minggu, 28 Agustus 2016, Rhoma Irama hadir ke Kabupaten Garut untuk mengisi acara Pembinaan dan Konsolidasi Partai bagi Pengurus DPC dan PAC Partai Idaman se-Kabupaten Garut di Gedung Sasakadana, Jalan Patriot Garut Kecamatan Tarogong Kidul.

Nampak hadir selain Rhoma, H. Lutfi Pengurus DPP Idaman, DR. Nandang Harun Ketua DPW IDAMAN Provinsi Jawa Barat, Ketua Wilayah IPHI Jawa Barat H. Rd. Holil Ahsan Umarzen, Para Ketua Parpol seperti Hanura, PAN, Demokrat, Golkar dan para tamu undangan lainnya.

Dalam laporannya Aep Saepudin selaku Ketua DPC Partai Idaman Kabupaten Garut mengucapkan terimakasih kepada Ketum DPP Idaman Rhoma Irama yang telah hadir memenuhi undangan. Ketua DPW Idaman Jawa barat, Ketua IPHI Wilayah Jabar, Para Ketua Partai dan para tamu undangan lainnya. Perlu disampaikan bahwa selama hampir 10 bulan kami bekerja untuk menyusun kepengurusan DPC dan PAC Partai Idaman se-Kabupaten Garut.

“Alhamdulilah telah terbentuk kepengurusan DPC sebanyak 24 orang personil, 36 PAC telah terbentuk dan 23 PAC telah mendapatkan SK dari DPW,” ungkapnya penuh semangat.

Selanjutnya di jelaskan Aep, target dari partai Idaman untuk menjadi peserta Pemilu 2019 sangat yakin dan optimis. Partai besutan dari Raja Dangdut Rhoma Irama ini akan lolos verifikasi Kemenhumkam dan KPU. Sehingga bisa menjadi Peserta Pemilu 2019 nanti.

“Untuk itu kami mengucapkan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para pengurus PAC Idaman di tingkat kecamatan yang telah bersusah payah membentuk kepengurusan. Mari kita rapatkan barisan untuk menyongsong kejayaan partai idaman nanti dan DPC Idaman Kab. Garut telah siap untuk bersaing secara sehat dengan parpol lainnya karena Kab. Garut,” ujarnya.

Mudah-mudahan, harap Aep, dengan hadirnya Rhoma Irama ke Kab. Garut selaku Ketum Idaman bisa menjadi pertanda akan bangkitnya Satria Pininggit dari Tatar Sunda untuk menjadi pemimpin bangsa Indonesia. Ada Pribahasa jawa kuno, bahwa untuk menjadi Presiden RI itu rumusnya NOTONOGORO, (Soekarno, Soeharto, Yudoyono, Joko Widoyo dan RO yang terakhir adalah Rhoma Irama.

Sementara itu Bupati Garut sangat menyambut positif dengan hadirnya partai Idaman di Kabupaten Garut yang merupakan barometernya politik di Jawa Barat. Kalau Partai Idaman ingin menang di Jawa Barat maka Garut harus di kuasai dulu. Semua orang sudah pada tahu akan sosok dari H. Rhoma Irama Seorang musisi, seniman dan juru dakwah.

“Mudah-mudahan yang suka Golput bisa berpaling ke idaman, lumayan ada 29%,” ungkap Bupati penuh Diplomasi.

Sementara itu, Rhoma Irama menjelaskan tentang visi di bentuknya partai Idaman. Tujuan utamanya adalah membentuk Partai Islam yang Damai dan Aman. Makanya ia ingin menampilkan partai ini dengan Citra Islam yang Rahmatan Lilalamin dan membangun Indonesia berdasarkan pancasila.

Untuk itu umat islam jangan takut untuk memunculkan identitasnya sebagai seorang muslim. Islam bukan teroris, anti pluralisme, radikalisme tapi islam adalah rahmat bagi sekalian alam.

Saatnya sekarang untuk berjihad demokrasi, karena untuk megubah sistem pemerintahan di NKRI tidak bisa dengan nyanyi dan dakwah saja. Dibutuhkan partai politik, Insya Allah kepada para pengurus dan kader idaman jangan pesimis, kita harus optimis bahwa partai Idaman akan lolos Verifikasi Kemenhumkam, KPU dan akan menjadi Peserta Pemilu 2019 nanti. (Farhan SN)***

TPA Pasirbajing Mendesak untuk Dibenahi

BANYURESMI, (GE).- Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pasirbajing semakin memprihatinkan. Tumpukan sampah yang menggunung menunjukkan buruknya manajemen sampah di TPA tersebut. Oleh sebab itu, pembenahan TPA Pasirbajing mendesak untuk segera dilakukan.

“Hari biasa volume sampah terangkut ke TPA sekitar 120 ton per hari. Namun pada Ramadhan hingga Lebaran, volumenya mencapai sekitar 150 ton per hari,” ungkap Kepala DLHKP Aji Sukarmaji.

Padahal sampah terlayani armada angkutan sejauh ini masih seputar kawasan perkotaan, meliputi Kecamatan Garut Kota, Tarogong Kidul, sebagian Tarogong Kaler, Cilawu, dan sebagian Kecamatan Banyuresmi. Jenis sampahnya didominasi sampah rumah tangga, sampah pasar, serta pembungkus makanan/minuman.

Meningkatnya volume sampah tersebut terbilang lumrah. Sejalan meningkatnya jumlah pendatang ke Garut berikut pola konsumsi masyarakat yang meningkat.

Berdasar kasat mata, kata Aji, peningkatan volume sampah tak hanya terdapat di lingkungan permukiman penduduk, melainkan juga di pusat keramaian, jalan raya, dan kawasan objek wisata.

Mengantisipasi tak terangkutnya sampah, sistem rotasi pengambilan sampah di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) diintensifkan. Diperparah jumlah armada mobil pengangkut sampah hanya 35 unit, saat ini dinilai masih kurang dibandingkan kebutuhan.

Aji berharap, masyarakat juga agar membuang sampah tepat waktu, dan pada tempatnya. Hingga kini kesadaran masyarakat terkait penanganan sampah masih belum sesuai harapan.

Peningkatan volume sampah diduga lebih besar lagi jika ditambah dengan peningkatan volume sampah di luar kawasan perkotaan. Termasuk di puluhan objek wisata, tak termasuk objek layanan pengangkutan sampah DLHKP. (Farhan SN)***

Menegangkan, Warga Pakenjeng Bentrok dengan Satpam Perkebunan PT. Condong

PAKENJENG, (GE).– Berawal dari kasus perselingkuhan yang terjadi antara oknum satpam PT. Condong dengan seorang perempuan bersuami asal kampung Cimareme, Desa Tegalgede, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, kini warga setempat mengaku resah. Pasalnya,  puluhan oknum Satpam bersenjata tajam tiba-tiba menyerang warga, Senin, (13/06/2016).
Saat penyerangan berlangsung kondisi Kampung Cimareme sedang sepi. Sehingga bentrokan fisik pun bisa dihindari.
Salah seorang warga kampung Cimareme, yang sekaligus sebagai Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa Tegalgede, Epen Sopendi (37), menceritakan kronoligis kejadian. Menurut Epen, kasus penyerangan oknum Satpam PT. Condong, berawal dari digerebegnya salah seorang oknum Satpam PT. Condong, yang kedapatan sedang berada didalam rumah salah seorang perempuan yang memiliki suami. Saat itu, suami dari perempuan tersebut sedang bekerja di luar kota.
Setelahnya ada penggerebegan, lanjut Epen, dilakukan mediasi dari kedua belah pihak, dan membuahkan kesepakatan yaitu pos penjagaan Satpam PT. Condong yang ada di area pemukiman warga tersebut, dinonaktifkan.
Tetapi rupanya kesepakatan itu dilanggar oleh pihak PT. Condong, bahkan ada penambahan personil Satpam, yang berjaga. Wargapun geram, dan melempari kaca pos satpam tersebut hingga pecah. Selain itu warga sempat menyegel pintu masuk pos Satpam PT. Condong tersebut.
Tak terima dengan apa yang warga lakukan, keesokan harinya, saat suasana kampung Cimareme masih sepi karena para laki-lakinya berada di kebun, puluhan oknum Satpam dengan bersenjatakan golok serta pentungan kayu, menyerbu kampung Cimareme dan mengancam serta menantang warga untuk berkelahi.
Untung saja kejadian tersebut tidak berkepanjangan, komandan regu Satpam PT. Condong bisa meredam upaya penyerangan yang akan dilakukan oleh anak buahnya terhadap warga. Akhirnya setelah Polisi tiba di lokasi, para oknum satpam, keluar dari area Kampung Cimarema, sedangkan sebagian barang bukti, diamankan petugas Polsek Pakenjeng.
Saat ini, masyarakat Kampung Cimareme merasa tidak nyaman dan resah, karena takut terjadi serangan susulan dari oknum Satpam PT. Condong. Warga meminta aparat Kepolisian bisa memediasi agar ada jaminan keselamatan warga setempat.
“Terus terang saja kami masih ketakutan pascapenyerangan tempo hari. Hawatir penyerangan susulan kami berjaga-jaga di pintu masuk PT. Condong,” kata Epen kepada “GE”, Kamis (16/6/2016). Useu G Ramdani***

Normalisasi Situ Bagendit Janggal, Dinas SDAP Garut Tidak Dilibatkan

KEJANGGALAN menyeruak pada pengerjaan proyek normalisasi Situ Bagendit. Pasalnya, dinas yang berkompeten untuk melaksanakan teknis pengerjaan yaitu Dinas Sumber Daya Air dan Pertambangan (SDAP) Garut tidak dilibatkan di dalamnya.

Ditemui di kantornya, Kabid Konservasi pada Dinas SDAP Garut, M. Iwan S. Wiradisastra, SST, mengatakan Dinas SDAP tidak pernah dilibatkan dalam proyek normalisasi Situ Bagendit. Bahkan sampai saat ini, SDAP tidak pernah mengeluarkan rekomendasi apa pun terkait proyek normalisasi Situ Bagendit.

Saat ditanya kemungkinan Situ Bagendit akan kekeringan di Tahun 2020, Iwan membantahnya. Ia beranggapan, pernyataan itu tidak berdasarkan kajian ilmiah.

Berdasarkan kajian SDAP Garut, kemungkinan Situ Bagendit akan kekeringan di Tahun 2020 sangat kecil kemungkinannya. Pasalnya, saat ini Situ Bagendit akan terbantu mulai dioperasikannya Bendung Copong. Jadi meski musim kemarau berlangsung, Situ Bagendit akan tetap teraliri air.

Iwan memaparkan, sebenarnya penyusutan air Situ Bagendit pernah terjadi di Tahun 2009. Hal tersebut terjadi karena, kemarau panjang selama sembilan bulan. Namun peristiwa tersebut tak akan terulang lagi karena tertolong oleh Bendung Copong.

Terkait besaran proyek normalisasi Situ Bagendit yang mencapai Rp 15 Miliar, ia mengaku sama sekali tidak mengetahui besaran proyek tersebut. Pasalnya, SDAP tak begitu dilibatkan dalam proyek ini.

Namun berdasarkan kajian SDAP, untuk proyek normalisasi Situ Bagendit yang luas kawasannya mencapai 84 hektar ini dana sebesar itu diyakini tidak akan cukup. Berdasarkan perhitungan kasarnya, untuk normalisasi kawasan Situ Bagendit dibutuhkan dana sebesar Rp 52 miliar.

Disinggung terkait peluncuran studi normalisasi, Iwan mengatakan tetap harus berizin. Pasalnya, lokasi yang digunakan untuk studi merupakan milik publik. Jadi tidak bisa asal melakukan studi.

“Bagaimana dengan Analisa Dampak Lingkungannya (Amdal), tentunya semua itu harus dilakukan. Belum lagi, normalisasi ini akan melibatkan banyak pihak yang tentunya harus ditempuh secara prosedural,” papar Iwan, Senin (9/5/2016). (Useu G Ramdhani/Farhan SN/Slamet Timur)***

Penyerahan Asset TPS Pasopati Limbangan Diwarnai Ketegangan

LIMBANGAN, (GE).- Menyusul selesainya pembangunan Pasar Limbangan yang diikuti dengan seruan kepindahan bagi para pedagang sejak tanggal 21 April lalu, akhirnya PT. Elva Primandiri selaku pengembang, Selasa, (10/5) secara resmi menyerahkan asset pasar darurat yang ada di Lapang Pasopati kepada Pemerintahan Desa Limbangan Tengah selaku pemangku wilayah lokasi pasar sementara tersebut.

Selain Direktris PT. Elva Primandiri, Elva Waniza dan Perangkat Desa Limbangan Tengah, hadir pula dalam acara tersebut para pedagang pasar dan aparat keamanan dari berbagai satuan, baik Kepolisian, Satuan Brimob, TNI maupun Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Garut.

Elva Waniza menyebutkan, penyerahan asset tersebut merupakan salah satu bentuk ucapan terimakasih kepada pemerintahan Desa Limbangan Tengah yang telah memberikan fasilitas dan dukungan selama pelaksanaan pembangunan Pasar Limbangan dengan telah menampung para pedagang selama lebih dari dua tahun. “Ini sebagai salah satu bentuk terima kasih kami selaku pengembang yang merasa telah banyak dibantu selama proses pembangunan. Saya berharap asset bekas pasar darurat tersebut bisa dimanfaatkan oleh Desa Limbangan,” tutur Elva.

Selain penyerahan asset TPS Lapang Pasopati, kata Elva, juga akan diikuti dengan pencabutan sambungan listrik ke pasar darurat tersebut terhitung mulai Selasa (10/5) yang akan dilakukan para instalatir dari PLN Rayon Leles. “Ini kami lakukan, karena itu merupakan bagian dari kontrak kerja sama dalam pembangunan pasar darurat dua tahun lalu, yang kini masa kontraknya telah habis,” imbuhnya.

Menurut Elva, pembangunan fasilitas pasar sementara di Lapang Pasopati tersebut, dulu menghabiskan biaya sekitar Rp. 2 milyar. “Tentu saja setelah digunakan selama lebih dua tahun ini, nilai assete tersebut sudah jauh berkurang. Tetapi, paling tidak assete tersebut saya harapkan masih bisa dimanfaatkan oleh pemerintahan desa dan masyarakatnya,” kata Elva.

Lebih lanjut Elva mengungkapkan, pasca pembersihan Lapang Pasopati dan kepindahan para pedagang ke Pasar Limbangan yang baru, pihaknya akan segera melakukan pemugaran Lapang dan perbaikan jalan menuju lapang tersebut.

“Tadi sempat sebagian masyarakat meminta pembangunan jalan dengan betonisasi, tapi karena pertimbangan besaran biaya dan waktu pengerjaan yang relatif lama, maka kami tetap akan membangun jalan sesuai janji awal dulu, yaitu dengan hotmix kelas satu. Nah, untuk lapang Pasopati akan kami pugar sebagus lapang Arsenal lah,” ungkapnya sambil berseloroh.

Sempat diwarnai ketegangan dalam pertemuan tersebut, karena sebagian para pedagang masih belum bersedia pindah ke tempat yang baru. Bahkan sejumlah Ketua RW di Desa tersebut sempat menuding pihak Kepala Desa Limbangan Tengah telah mengambil keputusan sepihak tanpa berkoordinasi dengan perangkat desa lainnya termasuk kepada para Ketua RW.

Dari pantauan “GE” sejumlah pedagang masih bersikukuh untuk menolak pindah dan akan tetap melawan, dengan alasan masih ada masalah yang belum selesai antara mereka dengan pihak pengembang.Bahkan, dari para pedagang yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang Pasar Limbangan (P3L) juga sempat mengajukan penangguhan pencabutan sambungan listrik kepada PLN tertanggal 9 Mei 2016, hingga permasalahan dilapangan dinyatakan selesai.

Kisruh antara para pedagang dengan pengembang Pasar Limbangan ini juga menimbulkan keprihatinan bagi masyarakat Limbangan Tengah yang non pedagang. Dia menyebutkan kepentingan semua pihak harus dilindungi. “Upami bade pindah bade iraha oge mangga, tapi kahoyong mah ulah aya anu tersakiti, ulah terjadi kaributan diantara warga, eta wungkul ari sim kuring salaku warga mah, era ku batur,” kata Wawan, Ketua RW.9, Desa Limbangan Tengah yang juga mengaku bukan pedagang.

Ditanya apakah warga merasa terganggu selama adanya pasar darurat di daerahnya, Wawan mengaku, mungkin saja terganggu, tapi kata Wawan, mereka sebagian besar warga setempat juga. “Nya upami kaganggu mah, mungkin wae, tapi kan aranjeuna seuseurna urang dieu oge. Janten nya kedah saling maklum wae,” ujar Wawan.

Hingga berita ini ditulis, suasana di Pasar Pasopati masih tampak tegang, puluhan pedagang masih mondar mandir di depan pasar darurat, seakan sedang bersiap siap untuk melawan jika pembongkaran akan dilakukan pada saat itu. Sementara, pihak aparat keamanan termasuk satuan Brimob juga tampak bersiap menunggu intruksi apa yang akan dilakukan. (Slamet Timur).***