Kerugian Materi Akibat Banjir Bandang Garut Mencapai Rp. 158 M

PEMKAB, (GE). –  Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) menyatakan,  kerugian akibat bencana banjir bandang yang menimpa Kabupaten Garut, Selasa, (20/9/16), mencapai Rp. 158 miliar lebih.

Menurut Sekretaris Bappeda Garut Agus Ismail, berdasarkan dari hasil kajian dan investigasi yang dilakukan pihak Pemkab, pihaknya menghitung besaran kerugian mencapai Rp 158 miliar rupiah.

“Kerugian ini dilihat dari aspek kerusakan, seperti infrastruktur Jalan, Jembatan, Irigasi, Sekolah, Rumah Sakit, Rumah Penduduk dan sebagainya, ” kata Agis (nama panggilan Agus Ismail), Selasa (4/10/2016).

Agis menambahkan, penghitungan ini belum final, karena masa tanggap darurat baru selesai hari ini. Data dat tersebut akan dikompilasi dengan data dari intansi lain dalam evaluasi yang akan dilakukan malam nanti. “Kami akan evaluasi nanti malam data kerugian belum semuanya terkumpul, ini baru sementara saja,” tegasnya.

Lebih lanjut kata Agis, saat ini Bappeda sedang mengajukan  bantuan ke pemerintah Provinsi Jawa Barat berupa kelengkapan ruang kelas sekolah yang terdampak banjir berupa mebeler. “Kami ajukan 60 ruang kelas, namun yang disetujui hanya 30 ruang kelas dengan bantuan sebesar Rp 15 juta/ kelas,” ungkapnya.

Disinggung mengenai rencana pembangunan  rumah susun sewa (Rusunawa)  bagi pengungsi, Pemkab telah mendapatkan lokasi, tepatnya di Kacamatan Karangpawitan.
“Dalam waktu dekat ini mudah- mudahan Rusunawa bagi pengungsi segera dapat dibangun,” pungkasnya. (Slamet Timur)***

Patut Dicontoh! Tiap Tahun Majlis Tarbiyah Bagikan Sembako Bagi Warga Miskin

WANARAJA, (GE).- Sikap terpuji ditunjukkan Pimpinan Majlis Tarbiyah Wanaraja, K.H. Benghan Syarifudin. Setiap pergantian tahun baru Islam majlis yang dipimpinnya rutin membagikan paket sembako untuk warga kurang mampu.

“Tahun ini, kita menyebar 6.500 paket sembako untuk warga kurang mampu. Paket sembako yang diberikan merupakan sumbangan dari para muzaki anggota Majelis Tarbiyah, sebagai bentuk syukur dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharam 1438 Hijriyah,” kata Benghan, di Kampung Bojong, Kecamatan Wanaraja, belum lama ini.

Para Muzaki di majlis ini terdiri dari kaum pengusaha, tokoh, dan birokrat di sejumlah wilayah seperti Garut, Bandung, Tasikmalaya, hingga Malang. Melalui kegiatan tersebut, Benghan berharap setiap muslim dapat lebih memperhatikan sesama untuk mencapai kesejahteraan umat.

“Sandang pangan merupakan hal utama dalam kehidupan sebuah keluarga. Setiap muslim yang mampu harus dapat memperhatikan saudara mereka yang belum mampu. Kegiatan ini bertujuan untuk mengingatkan bahwa sebagai umat kita harus berbagi,” jelasnya.

Menurutnya, pembagian sembako untuk masyarakat ini telah menjadi agenda rutin tahunan majlis yang ia pimpin. Selain paket sembako, para muzaki Majelis Tarbiyah pun memberikan 500 paket hewan ternak berupa ayam kampung hidup secara cuma-cuma.

“Kali ini merupakan pembagian sembako untuk tahun yang keempat. Insyaallah, pada tahun depan kami akan menambah jumlah sembako yang diberikan dan hewan ternak berupa kambing atau domba,” sebutnya.

Selain memberikan sembako bagi masyarakat umum, para muzaki juga kerap memberikan zakat kepada jemaah Majlis Tarbiyah yang belum mampu dalam tiga bulan sekali. “Kalau untuk jemaah, memang sudah rutin juga dilakukan. Waktunya tiga bulan sekali. Sementara untuk masyarakat umum, kami lakukan di saat peringatan Tahun Baru Islam ini,” ucapnya.

Benghan berharap, kegiatan membagikan ribuan paket sembako tersebut bisa melahirkan motivasi umat muslim untuk bersama-sama berbagi terhadap warga kurang mampu.

“Ini murni infak dari para anggota jemaah Majelis Tarbiyah yang tergolong mampu. Untuk paket sembako saja, kira-kira sekitar mencapai Rp162.500.000 dari infak muzaki. Belum termasuk hewan ternak ayam kampung,” ujarnya.

Benghan menyebut warga penerima paket sembako berasal dari tiga kecamatan di Kabupaten Garut, yakni Kecamatan Wanaraja, Karangpawitan dan Pangatikan. Sementara itu, Mamad, 56, seorang warga miskin asal Kecamatan Wanaraja, mengaku senang telah mendapat paket sembako gratis tersebut.

Kakek dua cucu itu menuturkan tidak pernah mendaftarkan diri agar bisa dapat paket sembako gratis. “Saya tidak pernah mendaftar atau didata. Tapi ada seorang ustadz yang datang ke rumah untuk memberi kupon untuk ditukarkan dengan paket sembako di sini,” tuturnya.

Penggunaan kupon dalam kegiatan ini ditujukan agar pembagian paket sembako berjalan lancar dan tidak berdesak-desakan. Meski begitu, panitia kegiatan telah mengantisipasi berbagai hal yang tidak diinginkan dengan menghadirkan sejumlah petugas medis serta personel TNI dan Polri.

Paket sembako yang diberikan terdiri dari minyak goreng, beras, mi instan, terigu, ikan asin, dan lainnya. Tidak hanya memberikan paket sembako, peringatan Tahun Baru 1 Muharam 1438 Hijriyah juga dilakukan dengan pengobatan massal, pawai kendaraan, berbagai perlombaan, serta pengajian. (Farhan SN)***

Posko Bersama Penanggulangan Banjir Bandang Kumpulkan Keluarga Korban

TARKI,(GE).- Masa tanggap darurat bencana banjir bandang Sungai Cimanuk di Kabupaten Garut, akan berakhir pada Selasa (04/09). Namun Posko bersama yang didirikan beberapa lembaga dari luar Kabupaten Garut, secara resmi dibubarkan, Minggu (02/09).

Begitupu dengan posko bersama yang sudah didirikan dari awal terjadinya bencana di Komplek Local Education Centre (LEC) Yayasan Hikmah Garut. Posko tersebut secara resmi dihentikan.

Posko bersama tersebut, dibentuk oleh lembaga Petualang Muslim (Cinta Sedekah) dan 105 lembaga lainnya. Pada Pembubaran Posko bersama tersebut selain dihadiri unsur Muspika Kecamatan Tarogong Kidul, juga turut diikuti sebanyak 37 keluarga korban meninggal dan keluarga korban hilang. Pada kesempatan tersebut posko bersama memberikan santunan, berupa uang tunai dan bentuk lainnya.

Ketua Petualang Muslim, Aulia Ibnu mengatakan, pada hari Kemarin (2/10) merupakan hari terakhir posko bersama melakukan kegiatan tanggap bencana di Garut. Seluruh kegiatan baik itu posko logsitik dari 17 Lembaga yang dikomandoi Petualang Muslim dan Posko Pencarian Korban yang dikomandoi Wanadri berjumlah 105 lembaga, dihentikan.

“Pada kesempatan ini kami hanya bisa kumpulkan 37 keluarga korban meninggal dan korban hilang. Sebab keluarga yang lainnya tidak diketahui keberadaannya. Kami sudah cek ke tempat-tempat pengungsian tidak ada,” jelas Aulia.

Aulia menduga selain data korban yang sudah tercatat sebanyak 34 meninggal dan 19 dinyatakan hilang, masih banyak korban lainnya yang tidak terlaporkan dan belum ditemukan. “Kemungkinan banyak anak jalanan, komunitas anak “Punk” yang biasa tinggal di kolong jembatan Cimanuk, juga ikut menjadi korban,” katanya.

Hingga penutupan Posko Bersama, Aulia menyebutkan, kebutuhan yang disalurkan mulai dari kebutuhan makan dan tidur, seperti kasur sebanyak 251 buah, selimut sebanyak 1000 buah, baju baru anak 327 buah, juga sekop untuk membersihkan rumah, karpet untuk mesjid dan lainnya. “Diharapkan dengan bantuan yang kami berikan bisa sedikit meringankan beban para korban. Kami juga mohon maaf, apabila tidak bisa memberikan bantuan secara maksimal,” ujarnya.

Dalam acara pembubaran itu, dilakukan do’a bersama para keluarga korban. Beberapa keluarga korban juga ada yang menceritakan kisah memilukan yang merenggut nyawa anggota keluarganya tersebut.(Dief)***