BREAKING NEWS: Lagi, Sejumlah Titik di Kawasan Garsel Diterjang Banjir dan Longsor

GARUT, (GE).- Guyuran hujan yang melanda kawasan Garut selatan (Garsel) dan sekitarnya sejak pukul 13.00 WIB mengakibatkan genangan banjir dan longsor di beberapa titik, Sabtu (07/10/2017). Menurut laporan Kapolsek Cibalong, Kabupaten Garut, AKP Darto Mulyono, dampak dari derasnya hujan ini, salah satu kawasan di Kampung Cijreuk, Desa Sancang, Kabupaten Garut dilanda longsor.

“Ya, sekitar pukul 16.00 (WIB) longsor terjadi di Kampung Cijeruk. Belasan meter kubik tanah yang terbawa arus banjir juga menimpa dan masuk salah satu masjid,” kata Darto, melalu pesan broadcast yang dikirim ke redaksi garut-express.com, pukul 19.00 WIB, Sabtu (07/10/17).

Menurutnya, hingga saat ini guyuran hujan masih terus terjadi. Akibat hujan deras ini juga ruas jalan di kawasan Kampung Karees, Desa Sagara, Kecamatan Cibalong tertutup material longsor. “Belum ada laporan korban jiwa. Namun kerugian ditaksir mencapai puluhan juta rupiah,” katanya.

Sementara itu, dari laporan update peringatan dini cuaca Jawa Barat yang dilaporkan oleh Pusdalops PB BPBD Jawa Barat, hingga pukul 20.00 WIB, Sabtu (07/10/17), di sejumlah kawasan Jawa Barat masih berpotensi terjadi hujan dengan intensitas sedang-lebat disertai angin kencang dan petir. (ER)***

Kadis PUPR Garut : Salah satu Penyebab Banjir Tarogong Akibat Alih Fungsi Lahan

GARUT, (GE).- Tingginya curah hujan menjadi penyebab banjir yang merendam beberapa wilayah di empat kecamatan, Kabupaten Garut, Senin (5/6/2017) malam. Selain akibat curah hujan, banyaknya bangunan yang menyalahi tata ruang dan alih fungsi lahan juga menjadi penyebab terjadinya banjir tersebut.

Hingga saat ini, belum ada ketegasan dari pihak pemerintah untuk menertibkan bangunan tersebut, baik yang dibangun pengembang maupun warga.

Menurut Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan rakyat (PUPR) Kabupaten Garut, Uu Saepudin, salah satu penyebab banjir di sejumlah lokasi di Garut memang salah satunya akibat tingginya curah hujan. Hal ini menyebabkan sungai tak mampu lagi menampung air sehingga akhirnya meluap ke jalan, pemukiman, serta lahan pertanian.

“Curah hujannya memang tinggi sehingga sungai tidak bisa menampung luapan air yang akhirnya terjadilah banjir yang melanda permukiman, jalan, areal pertanian dan fasilitas lainnya,” kata Uu, Rabu (7/6/2017).

Selain karena tingginya intensitas curah hujan, tambah Uu, luapan air dari sungai juga akibat terjadinya sedimentasi pada saluran air yang ada. Hal ini menyebabkan sungai menjadi dangkal dan tak bisa lagi menampung air yang debitnya sangat luar biasa akibat hujan deras.

Dikatakannya, pendangkalan di antaranya juga terjadi pada Sungai Ciojar yang melintas di sekitar lokasi yang kemarin diterjang banjir. Tidak hanya pendangkalan, Sungai Ciojar juga telah mengalami penyempitan sehingga mengurangi kemampuan daya tampung air.

Ditanya terkait upaya pemerintah dalam rangka mengantisipasi terjadinya pendangkalan dan penyempitan aliran sungai, diakui Uu kalau belakangan ini program pengerukan sungai tidak dilakukan. Hal ini dikarenakan pihaknya sedang fokus pada penggelontoran saluran air perkotaan.

Namun Uu menyebutkan, pada tahun ini pengerukan dan pemeliharaan Sungai Ciojar serta saluran air lainnya akan kembali dilakukan. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya luapan air dari sungai yang tidak mampu lagi menampung air akibat terjadinya pendangkalan dan penyempitan.

Semua permasalahan itu, tutur Uu, kemudian diperparah dengan banyaknya bangunan yang didirikan di atas saluran air. Hal ini tentu dapat mengganggu kelancaran saluran air terutama saat terjadi peningkatan debit air.

“Kami akan meminta warga yang masih sesukanya membuat bagunan dengan mengganggu saluran air untuk segera menyadari dan membongkarnya. Semua bangunan yang saat ini ada dan mengganggu saluran air dapat dipastikan tidak ada izinnya dan itu jelas merupakan pelanggaran,” jelasnya. (Tim GE)***

 

Tak Ada Korban Jiwa Akibat Banjir, Bantuan dari APBD Sudah Diajukan

GARUT, (GE).- Banjir anak sungai Cikamiri dan Ciojar pada Senin (05/06/17) malam yang melanda Kecamatan Tatogong Kidul dan Tarogong Kaler yang mengakibatkan terdampaknya 471 kepala keluarga.

Dalam musibah ini dipastikan tak ada korban jiwa. Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang Pelindungan dan Jaminan Sosial pada Dinas Sosial Kabupaten Garut, Dadang Bunyamin.

“Ya, setelah kami telusuri ke beberapa daerah yang terdampak banjir, Alhamdulillah tidak ada laporan korban jiwa,” kata Dadang,  saat dijumpai “GE” di kantornya, Rabu (07/06/17).

Dadang menjelaskan, pihaknya dalam tiga hari tanggap darurat harus menyediakan 650 nasi bungkus untuk keperluan makan sahur dan buka puasa untuk korban banjir di Pesantren Persis Rancabango.” Kasihan anak-anak santri dan staf pembimbing di  sana, kalau tidak dibantu,” katanya.

Dikatakannya, bantuan tersebut didapat dari Dinas Sosial Jawa Barat, sekaligus dengan mobil operasionalnya yang dipinjampakaikan kepada Dinsos Garut. Sedangkan bantuan dari APBD Garut tengah dalam pengajuan melalui biaya tak terduga (BTT).  (Jay)***

Editor : Kang Cep.

 

Bantu Korban Banjir di Pesantren Persis Rancabango, HTI Garut Sumbangkan Logistik dan Tenaga

GARUT, (GE).- Sebagai wujud kepeduliannya akan nasib sesama yang tengah ditimpa musibah, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) DPD II Garut melakukan aksi solidaritas di lokasi terdampak banjir  kompleks Pesantren Persis 99, Desa Rancabango, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Rabu (7/6/17).

Selain menyerahkan bantuan logistik, para aktivis HTI Garut ini juga turun langsung ke lokasi terdampak banjir memberikan bantuan tenaganya. Mereka turut membantu bahu-membahu membersihkan kompleks pesantren Persis Rancabango dari material sisa sisa banjir.

“Inalillahi, musibah ini merupakan peringatan atau ujian dari Allah. Masya Allah, semoga dari kejadian ini bisa diambil hikmahnya oleh kita semua. Untuk adek adek kami para santri dan para Ustadz di Pesantren Persis yang terdampak banjir tetap bershabar. Ya, kami memberikan bantuan logistik berupa alat tulis, pakaian, peralatan mandi dan beberapa keperluan khusus untuk para santri akhwat (antriwati/red.),” tutur Ustadz Asep Abu Fikri, salah seorang aktivis HTI Garut, Kamis (8/6/17).

Dikatakannya, bantuan yang didistribusikan ke Pesantren Persis Rancabango ini merupakan titipan dari para donatur sesama kaum Muslimin yang spontan digalang sehari pascaberita musibah banjir tersiar di garut-express.com.

“Masya Allah, dana yang kita (HTI Garut/red.) galang ini merupakan titipan saudara saudara kaum Muslimin dari beberapa daerah. Kami spontan menggalang dana pascaberita yang tersiar di garut-express.com kami baca,”  ungkapnya.

Sementara itu salahseorang santri di Pesantren Persis Rancabango mengaku bersyukur dengan adanya bantuan dari HTI Garut ini. Menurutnya, bantuan logistik ini memang sangat diperlukan, terlebih dalam kondisi bulan Ramdan.

“ Alhamdlillah, tentunya bantuan kakak- kakak kami dari HTI ini sangat bermanfaat sekali. Apalagi dalam bulan Ramadan, di pesantren kan masih pada kotor akibat banjir, banyak juga buku buku dan kitab kitab yang hanyut kebawa banjir. Jadi bantuan alat tulis ini memang benar benar bermanfaat. Terima kasih untuk bantuan materil dan tenaganya, hanya Allah lah yang pantas membalas semua kebaikan kakak kakak dari HTI,” tutur gadis berjilbab ini, seraya menyeka air matanya. (ER)***

Terdampak Banjir, Benteng Kampus II STIE Yasa Anggana Kembali Ambruk

GARUT, (GE).- Hujan deras saat malam hari di kawasan Kecamatan Tarogong dan sekitarnya ternyata berdampak serius di sejumlah lokasi, Senin (6/6/17). Selain merendam pesantren Persis  99 di Rancabango, Kampus II STIE Yasa Anggana yang berlokasi di kawasan Jalan Pembanguan, Kecamatan Tarogong kidul, Kabupaten Garut juga terdampak derasnya air bah tersebut.

Menurut Urip Sudiana, salah seorang dosen di kampus tersebut, dampak dari banjir tersebut berakibat pada robohnya benteng kampus setinggi dua meter. Padahal benteng kampus STIE Kampus II ini baru saja dibangun beberapa bulan yang lalu. Sebelumnya benteng kampus ini juga ambruk akibat dampak banjir Cimanuk beberapa waktu yang lalu.

Salah satu ruang kelas di Kampus II STIE Yasa Anggana, tampak berantakan dipenuhi material banjir, Selasa (6/6/17).

“Ya, padahal benteng  ini (Kamus II STIE Yasa Anggana/red.) baru beberapa bulan yang lalu setelah sebelumnya juga ambruk pada peristiwan yang bersamaan dengan banjir bandang Cimanuk,” katanya.

Menurut Urip, akibat ambruknya benteng kampus ini untuk sementara kegiatan perkuliahan di STIE Yasa Anggana Kampus II diliburkan.  “Ya, kompleks kampus kan kotor dengan material banjir. Pihak kampus untuk sementara meliburkan perkuliahan. Ini kan harus dibereskan dan dibersihkan dulu,” ungkapnya, Selasa (6/6/17).

Suasa di kompleks Kampus II STIE Yasa Anggana, saat air bah menerjang kampus setelah benteng kampus jebol, Senin (6/6/17).

Akibat banjir ini juga sejumlah wilayah turut terdampak banjir. Salah satu wilayah yang parah tergenang banjir terparah ini diantaranya perumahan Rama Cipta, Desa Jayawaras, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut. Dari laporan sementara, dua rumah dikabarkan mengalami kerusakan di lokasi tersebut.

Kapolsek Tarogong Kidul, Kompol Herman, mengatakan warga di Perumahan Rama Cipta sebagian bisa dievakuasi. Sedangkan sebagian lagi bertahan di lantai dua rumah.

“Sudah dievaluasi untuk di Ramaa Cipta.  Yang ada lantai dua sudah kami suruh ke atas karena arus sangat deras,” ujar Herman di lokasi kejadian, Selasa (6/6/2017).

Selain di Rama Cipta, banjir juga menerjang Perumahan Cijati Asri 2 yang berdekatan. Aparat terpaksa menutup Jalan Gordah karena arus air yang deras.

“Jalan ini (Gordah/red.) tak bisa dilalui sementara. Di Cijati ada 90 rumah yang terendam,” tukasnya. (ER)***

 

Terendam Air Bah, Ratusan Santri Pesantren Persis Rancabango Batal Gelar UKK

GARUT,(GE).- Pesantren Persis 99 Rancabango di kawasan Desa Rancabango, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut Terendam banjir hingga ketinggian 1 meter. Terendamnya Pesantren Persis ini salahsatu penyebabnya akibat benten yang mengelilingi kompleks pesantren jebol, Senin (6/6/17) malam.

Pascakejadian semalam, sejumlah properti pesantren seperti kursi, alat tulis kantor, termasuk buku buku, kitab dan naskah soal Ujian Kenaikan Kelas (UKK) untuk siswa MTs dan MA turut rusak dtersendam banjir.

Syarah (14), salah seorang santri mengatakan akibat banjir ini praktis Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di pesantren diliburkan sementara. Di hari kedua pelaksanaan UKK ini para santri sementara tidak mengerjakan soal ujian, mereka tampak bergotong royong membersihkan pesantren dari sisa material banjir yang mengotori kompleks pesantren.

“Ya ga bisa UKK, kam semuasoal UKK kerendam karena ada di dalam kantor. Kita gotong royong bersiuh bersih dulu pesantren,” ungkap santri kelas 8 MTs ini, Selasa (6/6/2017).

Sementara itu, Pimpinan Pesantren Persis Rancabango, Al Ustadz Lutfi Lukman Hakim, mengatakan akibat genangan banjir ini membuat sawah di sekeliling pesantren tak ubahnya danau saja.

“Ya, sekira pukul 22.15, tembok di asrama putra jebol dan mengakibatkan air bah tumpah setinggi dua meter ke dalam kompleks asrama putra. Jebolnya tembok membuat genangan cukup tinggi di sekitar asrama putra, lapang pesantren bahkan masuk ke Masjid Ihya as Sunnah sekitar 30 sampai 50 sentimeter,” ungkap Ustadz Lutfi.

Seperti diketahui banjir yang merendam pesantren tersebut berasal dari meluapnya aliran Sungai Ciojar. Banjir merendam kawasan pesantren hingga Selasa dini hari. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

 

BREAKING NEWS : Diduga Akibat Keracunan Makanan, 81 Korban Banjir Bandang Cimanuk Dilarikan ke Rumah Sakit

GARUT, (GE).- Sedikitnya 81 warga Kabupaten Garut, Jawa Barat, diduga mengalami keracunan makanan sehingga harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis, Minggu (21/5/17) dini hari sekira pukul 03.00 WIB. Mereka diketahui merupakan korban banjir bandang yang menerjang Kota Garut pada September 2016 lalu.

“Ada puluhan yang dilarikan ke sini. Yang pasti sedang kami tangani,” kata Bupati Garut, Rudy Gunawan, kepada wartawan di RSUD dr. Slamet Garut, Minggu (21/5/17).

Menurut Rudy, puluhan wargannya ini dilarikan ke rumah sakit setelah sebelumnya menyantap hidangan di salah satu acara sosial yang diselenggarakan salah satu sponsor.

“Ya katanya dari idangan acara kemarin, tapi belum tahu juga, harus diteliti dulu. Terlebih ada banyak orang yang makan hidangan itu, tapi tidak semuanya dilarikan ke rumah sakit,” ucap Rudy.

Salah seorang korban, Entin (34), mengatakan, bebapa jam setelah menyantap hidangan itu ia merasakan sakit perut , lemas, dan pusing-pusing.

“Dari malam, setelah makan rendang di acara kemarin,” kata Entin di RSUD Dr. Slamet Garut, Minggu (21/5/17).

Menurut informasi dari petugas rumah sakit, para korban mulai berdatangan ke RSUD dr. Slamet sejak Minggu dini hari sekira pukul 03.00 WIB. Jumlah pasien yang datang mencapai 81 orang. Hingga saat ini mereka masih mendapat perawatan intensif dari pihak rumah sakit. (Mempis/GE)***

Editor : SMS

Kota Garut kembali Dilanda Banjir, Jalan Terusan Pembangunan Sempat Ditutup Sementara

GARUT, (GE).- Hujan deras disertai angin kengcang mengguyur wilayah Garut, Jawa Barat, Sabtu (8/4/17) sore.  Akibatnya, sejumlah ruas jalan kebanjiran. Bahkan, akses Jalan Garut-Bandung via Jalan Terusan Pembangunan, Tarogong idul, sempat ditutup sementara. Pasalnya, ketinggian air yang melimpah ke jalan hingga setinggi paha orang dewasa. Sejumlah kendaraan yang hendak melintas terpaksa berbalik arah mencari  jalan alternatif lain.

HUJAN deras yang mengguyur Kota Garut, Jawa Barat, Sabtu (8/4/17) sore membuat sejumlah ruas jalan kebanjiran. Ketinggian air di Jalan Terusan Pembangunan bahkan sempat mencapai setinggi paha orang dewasa. Namun, bagi sebagian anak-anak kondisi tersebut dijadikan arena bermain hujan-hujanan. (Andriawan/GE)***

Kawasan ini kerap dilanda banjir saat terjadi hujan deras. Genangan air diakibatkan oleh buruknya drainase, sehingga tidak mampu menampung debit air kiriman dari permukiman warga.

SEJUMLAH kendaraan yang hendak melintas di Jalan Terusan Pembangunan, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat, terpaksa berbalik arah mencari jalan alternatif lain. Pasalnya, warga setempat menutup akses jalan yang mengalami banjir hingga setinggi paha orang dewasa, Sabtu (8/4/17) sore. (Andriawan/GE)***

“Ya sering terjadi banjir apalagi kalau hujan deras. Tadi cukup lama hujannya, hampir satu jaman lebih. Kalau banjirnya sendiri diakibatkan oleh saluran airnya yang buruk dan terlalu sempit,” kata Rafik Syukron, warga setempat.

Karena itu, warga berharap pemerintah melalui dinas terkait segera berupaya melakukan perbaikan drainase, agar banjir tidak kembali terulang saat turun hujan deras. (Andriawan/GE)***

Editor : SMS

Rudy Gunawan Menuding Banjir Kahatex Mengganggu Kunjungan Wisata ke Garut

GARUT, (GE).- Bupati Garut, Rudy Gunawan, mengeluhkan persoalan banjir yang kerap terjadi di kawasan industri Kahatex, Rancaekek, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Selain  menyebabkan kemacetan arus lalu lintas di Jalan Raya Bandung – Garut, persoalan banjir Kahatex berdampak buruk terhadap jumlah kunjungan wisata ke Kabupaten Garut.

“Banjir di Kahatex menganggu kunjungan (wisatawan/red) ke Garut,” kata Rudy kepada wartawan, Senin (20/3/17).

Pemerintah Kabupaten Garut sendiri, kata Rudy, sudah melaporkan persoalan dampak banjir Kahatex tersebut ke Pemerintah Provinsi Jabar.

“Kita sudah laporkan persoalan dampak banjir ke provinsi,” katanya.

Rudy pun menambahkan, pihaknya telah merencanakan pembangunan jalan alternatif sebagai upaya memberikan rasa nyaman kepada masyarakat yang sedang menempuh perjalanan ke Garut. Seperti melakukan pembangunan jalan alternatif untuk mengatasi persoalan macet di jalur Kadungora-Leles.

“Untuk pembangunan jalan di Kadungora ini sedang proses,” katanya.

Seorang pengguna jalan, Firman, berharap pemerintah segera menyelesaikan persoalan banjir di Jalan Raya Bandung-Garut tersebut. Ia mengatakan, akibat banjir tersebut telah membuat ketidak nyamanan pengguna jalan. Selain bahan bakar kendaraan, banyak waktu yang terbuang.

“Akibat banjir di Kahasex, saya mau berangkat kerja ke Garut harus nempuh perjalanan berjam-jam. Itu juga lewat jalur alternatif,” katanya. (Farhan SN/GE)***

Editor : SMS

Korban Banjir Bandang Merasa Kecewa, Ratusan Juta Dana Jadup Diduga Raib?…

GARUT, (GE).- Sejumlah warga korban banjir bandang yang terjadi September lalu di Kabupaten Garut, Jawa Barat,  mengaku kecewa. Pasalnya, uang jatah hidup (jadup) yang mereka terima tidak sesuai dengan ketentuan. Uang jadup yang merupakan bantuan pihak Kementerian Sosial (Kemesos) RI itu seharusnya diberikan untuk setiap jiwa. Namun pada kenyataannya bantuan yang mereka terima hanya dihitung per kepala keluarga (KK). Karena itu, mereka menilai telah terjadi penyelewengan dalam penyaluran uang jadup tersebut sehingga yang sampai kepada mereka tidak sesuai ketentuan.

Elis (45), warga RT 4 RW 12, Kelurahan Paminggir, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat, termasuk yang mengaku kecewa dengan penyaluran bantuan jadup yang menurutnya tak sesuai dengan ketentuan. Dikatakan Elis, sebelumnya warga mendapatkan pemberitahuan bahwa jadup akan diberikan kepada tiap jiwa yang menjadi korban bencana banjir bandang. Namun pada kenyataannya, bantuan yang diterima hanya untuk jatah satu orang tiap KK.

“Di keluarga saya kan ada 3 jiwa yang seharusnya sesuai ketentuan mendapatkan bantuan jadup sebesar Rp 2,7 juta karena tiap jiwa seharusnya menerima bantuan Rp 900 ribu. Namun pada kenyataannya, keluarga saya hanya mendapatkan bantuan jadup Rp 900 ribu saja,” ujar Elis, Rabu (8/3/17).

Karena merasa heran, Elis pun mencoba menanyakan kepada warga lainnya yang juga mendapatkan bantuan jadup. Ternyata mereka pun sama, hanya mendapatkan bantuan Rp 900 ribu per KK. Hal ini membuat warga geram sehingga mereka memutuskan berkumpul di rumah salah satu warga untuk membahasnya.

Lebih jauh Elis mengungkapkan, yang membuat warga lebih kaget lagi, ternyata para korban banjir bandang di Keluarahan Jayawaras dan Pakuwon mendapatkan bantuan jadup per jiwa.

“Kami sudah menanyakan kepada korban banjir bandang di keluarahan lain yang juga mendapatkan bantuan jadup. Ternyata mereka mendapatkan bantuan sesuai jumlah jiwa, bukan berdasarkan KK. Tentu saja kami merasa kecewa karena telah dianaktirikan,” tandas Elis.

Karena itu, kata Elis, warga menduga telah terjadi penyelewengan bantuan jadup oleh pihak tertentu dalam jumlah sangat besar. Di RW 12 terdapat 11 KK korban banjir dengan jumlah jiwa mencapai sekira 80 orang. Sedangkan bantuan yang diberikan hanya untuk 11 jiwa sesuai jumlah KK .

“Seharusnya di RW ini ada 80 jiwa yang mendapatkan bantuan dengan nilai Rp 900 ribu per jiwa. Namun yang diterima hanya untuk 11 orang, sehingga ada yang tidak kebagian sebanyak 79 orang. Kalau yang 79 ini dikali Rp 900 ribu, berarti uang bantuan yang tak sampai atau diselewengkan mencapai Rp 71,1 juta,” katanya.

Ketua RW 12, Keluarahan Paminggir, Ade Ici, membenarkan tiap KK yang menjadi korban banjir bandang di wilayahnya hanya mendapatkan bantuan jadup per KK yaitu Rp 900 ribu. Dia pun mengaku tak habis mengerti kenbapa hal itu bisa terjadi.

“Saya juga tak tahu apa alasannya warga kami hanya diberi bantuan jadup Rp 900 ribu per KK. Padahal di kelurahan yang lain, bantuan diberikan untuk tiap jiwa sebesar Rp 900 ribu,” katanya.

Ade mengaku tidak tahu apa yang menjadi alasan sehingga korban banjir bandang yang ada di daerahnya ini tidak sama dlam mendapatkan bantuan jadup. Dirinya pun hingga sejauh ini belum sempat menanyakan hal itu baik kepada pihak kelurahan maupun ke Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Garut terkait hal itu.

Hal serupa menimpa korban banjir bandang di RW lainnya di Kelurahan Paminggir. Seperti diungkapkan Ketua RW 11, Koko,  dari 17 KK yang menjadi korban banjir bandang di wilayahnya, bantuan jadup yang diterima juga hanya dihitung per KK.

“Tidak hanya di RW 12, di RW kami juga sama. Bantuan yang diterima hanya Rp 900 ribu per KK. Padahal di kelurahan yang lain, Rp 900 ribu itu untuk tiap jiwa,” terang Koko.

Padahal, kata Koko, pada saat pelaporan korban banjir bandang dan pengajuan bantuan, sudah sangat jelas yang dicantumkan itu jumlah KK beserta jumlah jiwa.

Koko mengaku sudah mencoba mempertanyakan hal itu kepada pihak kecamatan. Namun, katanya, pihak kecamatan pun tak bisa berbuat banyak.  Karena hal itu sudah menjadi ketetapan yang tak bisa dirubah lagi. (Tim GE)***

Editor : SMS