Warga Korban Banjir Bandang Cimanuk Mengaku Senang Bertemu Irvan R. Faza

GARUT, (GE).- Keluarga besar Irvan R. Faza melakukan kunjungan silaturahmi dengan warga korban banjir bandang Cimacan Garut, Jawa Barat. Irvan yang didampingi istri dan keluarga besarnya itu, berbincang-bincang dengan warga yang sangat antusias menyambut kedatangannya. Selain bersilaturahmi, keluarga Irvan memberikan paket sembako kepada warga Kampung Cimacan RW 10.

Menurut istri Irvan, Cika Faza, kegiatan serupa sering dilakukan oleh keluarga besarnya. Tak hanya di Garut, di beberapa kota lain seperti Bandung, dan Jakarta pun, silaturahmi dengan warga memang sering dilakukan.

Dengan bersilaturahmi, kata Cika, kita bisa tau dan merasakan langsung bagaimana keadaan masyarakat di luar sana.

“Selain itu, momen semacam ini dijadikan kesempatan untuk beramal dan bisa berbagi rejeki dengan sesama,” papar Cika, Rabu, (5/4/17).

Kedatangan keluarga besar Irvan, tentu saja membuat puluhan warga Cimacan merasa senang. merekapun terlihat berbincang hangat dengan Irvan sekeluarga, Salah seorang warga Cimacan yang hadir saat itu, Ernawati (39), menuturkan, selain masih muda, sosok Irvan yang merupakan seorang pengusaha sukses ini sangatlah ramah.

Ernawati sangat bersyukur bisa bertemu dan berbincang langsung dengan Irvan dan keluarga besarnya.

“Kalau Pak Irvan jadi pejabat di Garut, saya mah sangat setuju dan pasti akan mendukung penuh,” ujarnya.

Selesai berbincang dengan warga Cimacan, Irvan beserta rombonganpun melakukan foto bersama. Sesaat kemudian, rombongan meninggalkan Kampung Cimacan setelah sebelumnya berpamitan kepada semua warga yang hadir. (Useu G. Ramdani/GE)***

Editor : SMS

Mensos Resmi Serahkan Bantuan Rp 3,66 Miliar untuk Korban Banjir Cimanuk

GARUT, (GE).- Seluruh korban banjir bandang Sungai Cimanuk di Kabupaten Garut, September tahun lalu diharapkan kembali bangkit.

Demikian diungkapkan Menteri Sosial (Mensos), Khofifah Indar Parawansa, di hadapan para korban banjir bandang di Rumah Perlindungan Sosial Tresna Wedha, Jalan Pembangunan, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa barat, Sabtu (4/3/2017).

“Kami mengerti dan bisa merasakan kesedihan yang anda rasakan. Namun kita harus segera bangkit agar tidak terus larut dalam kesedihan dan bisa menyongsong kehidupan yang lebih baik lagi,” kata Khofifah.

Menurutnya, musibah banjir merupakan ujian dari Allah SWT. Ini semata-mata agar kehidupan manusia bisa menjadi lebih baik dan kuat apabila mampu melewati cobaan tersebut.

Diungkapkannya, seluruh harta benda termasuk kehidupan manusia, merupakan milik Sang Pencipta yang sewaktu-waktu akan diambil-Nya. Oleh karena itu, janganlah kita terus larut dalam kesedihan jika dicoba Tuhan dengan diberikan musibah.

“Suami saya juga meninggal dan saya sangat sedih. Namun akhirnya saya sadar bahwa itu merupakan milik Allah,” tukasnya.

Khofifah juga meminta agar para korban bencana alam bisa bersabar untuk menunggu upaya pemerintah melakukan penanggulangan seperti membangun tempat tinggal yang layak dan aman. Dia meyakinkan kalau pemerintah tentunya tidak akan tinggal diam dan membiarkan rakyatnya ada dalam penderitaan.

Dalam kesempatan tersebut, atas nama Kemeterian Sosial RI, Khofifah menyerahkan bantuan senilai Rp 3,66 miliar. Bantuan tersebut untuk jaminan hidup (jadup) para korban banjir bandang di wilayah perkotaan Garut dan pergerakan tanah di wilayah Cisompet.

“Bantuan ini diperuntukan bagi santunan untuk korban meninggal dunia, dana stimulan pembangunan rumah sementara, serta bantuan kebutuhan pokok. Para korban bencana banjir juga akan mendapatkan bantuan hunian tetap yang dipersiapkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PU-PR). Kami juga merencanakan akan memberi bantuan berupa isi perabotan rumah senilai Rp 3 juta per kepala keluarga.” Jelasnya.

Jumlah korban banjir bandang dan pergerakan tanah di Kabupaten Garut yang mendapatkan bantuan berupa program jaminan hidup dari Kemsos RI sebagai upaya pemulihan pascabencana seluruhnya mencapai 1.724 jiwa. Mereka mendapatkan bantuan jaminan hidup dari pemerintah sebesar Rp 10 ribu per hari selama 90 hari atau senilai Rp 900 ribu dengan total seluruhnya Rp 1,551 miliar.

“Program jaminan hidup itu berdasarkan Peraturan Menteri Sosial Nomor 04 Tahun 2015 yang diberikan kepada keluarga yang rumahnya rusak berat. Jadup diberikan satu kali dan pencairannya dilakukan setelah masa tanggap darurat. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

Puluhan Rumah Terdampak Banjir di Sukaresmi, BPBD Mulai Distribusikan Bantuan Logistik

GARUT, (GE). – Seperti diberitakan sebelumnya, Akibat luapan Sungai Cikeruh puluhan rumah warga di kawasan Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat dilanda banjir bandang. Akibat musibah alam ini, tercatat sedikitnya 56 unit rumah terdampak banjir. Ahad (26/2/2017).

Untuk menanggulangi warga terdampak banjir, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut telah mendistribusikan bantuan logistik. Kepala Pelaksana BPBD Garut, Dadi Djakaria di Garut Bantuan logistik ini dipusatkan di dua desa yang paling parah terdampak banjir, Desa Sukalilah dan Sukamulya.

“Ya, bantuan logistik sudah kami distribusikan untuk warga korban banjir di Sukaresmi. Kami juga juga membantu membersihkan lumpur dan material sisa banjir,” katanya, Senin (27/2/2017).

Dijelaskannya, bencana banjir tersebut tidak sampai menimbulkan korban jiwa atau kerusakan infrastruktur parah. Penyebab banjir sendiri menurut Dadi, disebabkan karena intensitas hujan tinggi, sehingga membuat anak sungai Cikeruh meluap. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

BREAKING NEWS : Banjir Bandang Terjang Dua Desa di Garut, Puluhan Rumah Terkena Dampak

GARUT, (GE).- Banjir bandang kembali menerjang Kabupaten Garut. Kali ini dua desa di Kecamatan Sukaresmi yang terkena dampaknya. Akibatnya puluhan rumah terendam dan dua rumah mengalami rusak berat.

Camat Sukaresmi, Ahmad Ridwan, mengatakan hujan deras yang mengguyur wilayah Sukaresmi membuat Sungai Cikeruh meluap. Sejumlah rumah terendam air luapan sungai.

Berdasarkan data yang dimilikinya sebanyak 60 unit rumah di Desa Sukamulya dan Desa Sukalilah Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, terendam banjir. Dua rumah kondisinya rusak berat sementara sisanya hanya rusak ringan akibat tergenang air bah.

Camat melanjutkan, di sejumlah titik, ketinggian air mencapai satu meter. Sehingga banyak rumah yang terkena dampaknya.

“Saat ini unsur Muspika dibantu BPBD masih membersihkan lumpur di rumah-rumah warga terkena dampak. Pendataan masih dilakukan untuk mengetahui korban akibat banjir bandang ini,” ujar Camat, Minggu (26/2/2017).

Sampai berita ini diturunkan, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun sejumlah warga terdampak banjir terpaksa harus mengungsi ke rumah sodaranya. (Farhan SN)***

Pasca Banjir Bandang, WOM Finance Bantu Perbaiki Sarana Belajar di SLBN-B Garut

TARKI, (GE).- Banjir bandang Sungai Cimanuk pada 20 September 2016 lalu, masih menyisakan perhatian masyarakat. PT. Wahana Otomitra Multiartha Tbk (WOM Finance) salah satunya, yang memberikan perhatian untuk bidang pendidikan dengan melakukan revitalisasi untuk Sekolah Luar Biasa Negeri Bagian B (SLBN-B) di Jalan Cimanuk No. 62, Kelurahan Sukakarya, Kecamatan Tarogong Kidul, Garut.

Dalam program revitalisasi tersebut, WOM Finance memberikan bantuan berupa fasilitas sekolah seperti alat perpustakaan dan alat praktek siswa, termasuk meja kursi belajar. “Pada saat bencana lalu (tanggap darurat-red) WOM Finance sudah memberikan bantuan ke banyak Posko bencana, maupun door to door langsung ke korban. Jadi kali ini kami berikan bantuan untuk revitalisasi pasca banjir,” terang Selvi Agustina, selaku Kepala WOM Finance Cabang Garut.

Perusaahaan jasa keuangan dan pembiayaan kredit kendaraan bermotor itu, menyerahkan bantuan langsung di SLBN yang lokasinya bersebelahan dengan RSU dr. Slamet Garut, Sabtu (12/11/2016). Selain memberikan bantuan peralatan perpustakaan dan peralatan praktek, perusahaan juga memberikan hiburan musik dan permainan kepada siswa dan orang tua siswa yang terkena dampak banjir.” Kali ini selain memberikan bantuan peralatan, kita juga menghibur para korban agar tidak trauma banjir,” ujar Selvi.

Ditambahkan Selvi, akibat banjir bandang Sungai Cimanuk tersebut, setidaknya ada 15 konsumen perushaannya yang menjadi korban. Oleh karena itu pihaknya langsung memberikan bantuan keuangan dan barang kebutuhan sehari-hari. Sedangkan untuk kendaraan milik korban yang hilang akibat banjir, pihaknya telah mengasuransikan dan memberikan keringanan kredit.

Sementara itu, Ekanto Wijono Sunu, selaku Chief Human Capital Officer PT. WOM Finance, mengatakan, dengan program revitalisasi ini, diharapkan dapat mendorong anak didik lebih termotivasi dan lebih giat belajar.” Akibat bencana alam ini sebagian besar peralatan praktek rusak. Melalui perbaikan dan penyediaan peralatan yang baru ini diharapkan dapat menciptakan kondisi belajar mengajar yang lebih kondusif. Sehingga seluruh anak lebih terjaga motivasinya,” katanya. (Dhief)***

Dampak Banjir Garut Selatan, Sejumlah Ruas Jalan Rusak Tertimbun Longsor

GARSEL, (GE).-Bencana banjir bandang dan longsoran tanah yang terjadi di 4 Kecamatan daerah Garut selatan (Garsel) kemarin, Rabu (9/11/2016) berdampak pada rusaknya beberapa infrastruktur. Dampak dari hujan deras ini menimbulkan beberapa sungai meluap, akibatnya sejumlah akses jalan di beberapa titik rusak, hingga ada diantaranya tidak bisa diakses sama sekali.

Kabid Bintek pada Dinas Bina Marga Kabupaten Garut, Jujun Juansyah, menyebutkan, daerah yang paling parah terdampak bencana banjir dan longsor di Garut selatan (Garsel) ini meliputi 4 Kecamatan, diantaranya Kecamatan Banjarwangi, Bungbulang, Mekarmukti dan Caringin.

Jujun menyebutkan, terdapat 2 titik longsor yang menimbun badan jalan di Kecamatan Banjarwangi, longsor yang terjadi pada Rabu (9/11/2016). Jalan yang tertimbun sore itu baru bisa kembali normal pada Kamis (10/11/ 2016) dini hari, setelah material longsor dibersihkan dengan menggunakan alat berat.

Sementara di Kecamatan Bungbulang, di daerah Cisarua terdapat jembatan yang terputus. Di kawasan ini, warga untuk sementara menggunakan jembatan darurat yang terbuat dari batang pohon kelapa dan pondasi kronjong seadanya.

“Ya, ada juga di kilometer 4 s/d 100, itu gorong-gorong yang setengah badan terbawa arus banjir. Sehingga arus lalu lintas terputus. roda empat tidak bisa masuk. Di sana kita juga akan membuat jalan darurat juga,” ungkapnya.

Sementara itu, di jalur Bungbulang-Cisarua, tercatat ada 15 titik longsoran yang menimbun badan jalan. Aalat berat sudah diterjunkan, hingga berita ini diturunkan, proses pembersihan material longsoran masih berlangsung. Jalan di Desa Mekarbakti tsepanjang 15 meteran amblas kedalaman sekitar 7 meter.

“Kami belum bisa menentukan, kapan penganan maksimal akibat bencana di Garut selatan ini. Kita masih terus mendata, tapi yang pasti itu akan dilakukan kalau tidak pada masa tanggap darurat mungkin ke pascadarurat. Apakah nanti ada jalan alternatif atau tidak, kita lihat kondisinya nanti,” jelasnya.

Untuk daerah Mekarbakti yang berbatasan dengan Desa Cihikeu ke terdapat jembatan rusak akibat banjir bandang, terkait penanganannya menurut Jujun, akan dilakukan perbaikan pasca tanggap darurat.

Sementara di daerah Cijayana Kilometer 5 s/d 200, Kecamatan Mekarmukti, jalan amblas sepanjang 40 meter, dengan kedalaman 30 s/d 50 cm.

“Untuk tanggap darurat, kita akan lakukan secepatnya dengan prioritas akses jalan rusak bisa segera dilalui,” tukasnya.

Pihak Binamarga sendiri belum bisa memastikan ketugian materiil yang diakibatan banjir dan longsor di Garsel ini.

“Belum bisa kita taksir keruigiannya. Nanmun jika melihat kondisi di lapangan, sepertinya akan membutuhkan dana besar miliaran rupiah untuk normalisasi jalan yang rusak di kawasan Garut selatan ini.” Ungkapnya. (Hakim AG)***

Editor: Kang Cep.

Jembatan Terputus, Siswa dan Warga Garut Bertaruh Nyawa Lintasi Derasnya Sungai Cisarua

BUNGBULANG, (GE).– Jembatan Cisarua yang ambruk akibat sapuan banjir bandang telah memutus akses jalan penghubung Kecamatan Bungbulang menuju Kecamatan Mekarmukti. Pagi tadi, Kamis (10/11/2016),  sejumlah siswa dan warga terpaksa melintasi derasnya Sungai Cisarua agar bisa bersekolah dan menjalani aktivitas.

Salah seorang siswa, Dinan Aulia (12), mengaku memberanikan diri melintasi derasnya Sungai Cisarua agar bisa sampai ke sekolahnya. Ia mengaku khawatir saat arusnya tiba-tiba membesar. Padalnya arus air tak dapat diprediksi.

“Sebenarnya saya takut, tapi mau bagaimana lagi. Ini satu, satunya jalan menuju sekolah. Kalau pun ada harus memutar puluhan kilo meter,” ujarnya kepada “GE”, Kamis (10/11/2016), saat ditemui di lokasi kejadian.

Tak hanya kegiatan siswa yang terganggu, warga setempat pun turut kesulitan menjalankan aktivitasnya. Pasalnya jembatan Cisarua yang terletak di Kampung Cisarua, Desa Hanjuang, Kecamatan Bungbulang ini menjadi akses vital mereka.

Warga setempat, Heri (42),  mengaku saat jembatan roboh dan terbawa arus Sungai Cisarua dirinya baru pulang kerja. Kendaraan roda duanya tak bisa melintas. Jadi saat pulang sepeda motornya dititipkan di rumah warga yang ada di sebrang jembatan.

“Kemarin suasananya mencekam. Jembatan putus, air meluber di mana-mana,” kata Heri.

Heri berharap pemerintah bergerak cepat menanggulangi permasalahan ini. Pasalnya, bukan hanya jembatan namun banyak rumah warga dan lahan pertanian yang tersapu banjir bandang.

Sementara itu, Kepala Desa Hanjuang, Asep Rahayu Efendi mengatakan, banjir bandang yang terjadi kemarin Rabu (9/11/2016) telah memutus Jembatan Cisarua yang terletak di Kampung Cisarua, Desa Hanjuang, Kecamatan Bungbulang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Selain itu, masih ada dua jembatan desa lainnya yang ikut terputus.

Tidak hanya jembatan, kata Asep, 4 irigasi dan 10 rumah warga ruskak berat. Berdasarkan data yang dimilikinya tak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun aparat desa dibabtu BPBD saat ini sedang melakukan penyisiran.

Berdasarkan pantauan “GE” di lokasi kejadian pascabanjir bandang akses jalan Bungbulang ke Mekarmukti terputus total. Sementara akses jalan dari Cikajang ke Bubgbulang masih bisa dilalui meski banyak longsoran kecil. Akses jalan lainnya dari Bungbulang ke Rancabuaya masih bisa dilalui meski ada longsoran kecil. Bagi warga yang akan bepergian ke daerah Bungbulang dan sekitarnya direkomendasikan agar menggunakan kendaraan roda dua. Pasalnya banyak longsoran tanah.

Diberitakan sebelumnya, hujan deras di wilayah Garut Selatan mengakibatkan jembatan Cisarua terputus. Puluhan rumah terendam dan hektaran lahan pertanian disapu banjir bandang. Setidaknya ada lima sungai besar yang meluap di wilayah Garut Selatan. Sungai tersebut adalah, Sungai Cikandang di Mekarmukti, Sungai Cikaengan di Kecamatan Peundeuy, Sungai Cipalebuh di Pameungpeuk, SUngai Cipasarangan di Cikelet dan Sungai Cikawung di Kecamatan Bungbulang. (Idrus Adriawan)***

Garut Selatan Dikepung Banjir dan Longsor, Akses Jalan Terputus Puluhan Rumah Terendam

GARSEL, (GE).- Banjir bandang kembali menimpa Kabupaten Garut. Setelah wilayah perkotaan disapu Sungai Cimanuk, kini lima sungai di wilayah Garut Selatan kembali mengamuk. Akibatnya, sejumlah akses jalan putus, puluhan rumah terendam dan hektaran lahan pertanian terendam banjir. 

Kasi Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, Tubagus Agus Sofyan, hujan deras terus mengguyur Kabupaten Garut sejak siang hari. Puncaknya sekira pukul 13.30 WIB beberapa sungai yang ada di wilayah Garut Selatan meluap. 

Menurut Tubagus, sedikitnya ada lima sungai yang meluap. Sungai tersebut adalah, Sungai Cikandang di Mekarmukti, Sungai Cikaengan di Kecamatan Peundeuy, Sungai Cipalebuh di Pameungpeuk, SUngai Cipasarangan di Cikelet dan Sungai Cikawung di Kecamatan Bungbulang. 

Akibat luapan sungai tersebut, Tubagus mengatakan Jembatan di Kampung Cibengang, Desa Hanjuang, Kecamatan Bungbulang terputus. Jembatan tersebut merupakan akses penghubung dua kecamatan di Garut Selatan yaitu Kecamatan Bungbulang dan Kecamatan Mekarmukti. 

“Jembatannya menghubungkan dua kecamatan. Yakni Bungbulang dan Mekarmukti. Saat ini tidak bisa dilintasi berbagai jenis kendaraan,” ucap Tubagus, Rabu (9/11/2016).  

Sementara itu, banjir bandang di Kampung Ciroyom, Desa Mekarjaya juga membuat sejumlah rumah warga tergenang. Sedikitnya ada 20 rumah warga yang terendam. Banjir kebanyakan menimpa sawah milik warga. 

Sementara itu, Camat Bungbulang, Drs Heri Hermawan  mengatakan kejadian tersebut bermula dari curah hujan dengan intensitas tinggi. Mengakibatkan sejumlah sungai meluap ke jalan, lahan pertanian dan pemukiman warga. 

Kerusakan terparah menimpa Jembatan yang lokasinya berada di Kampung Cibengang, Desa Hanjuang, Kecamatan Bungbulang. Akibatnya ada beberapa orang warga yang terjebak tak bisa melintas du jalan penghubung dua kecamatan tersebut. 

Menurutnya, ada empat desa yang ada diwilayah Kecamatan Bungbulang terkena dampak banjir bandang. Ia menyebutkan Desa Mekarjaya, Desa Hanjuang, Desa Cihikeu, dan Desa Mekarbakti terendam banjir setinggi 20-30 centi meter. 

“Padahal desa-desa tersebut jauh dari aliran sungai, mungkin hanya genangan air, karena derasnya hujan,” terangnya. 

Heri menambahkan, akibat banjir tersebut membuat beberapa insfrastruktur rusak, dan beluma ada laporan korban jiwa. Saat ini BPBD Kabupaten Garut telah terjun ke lokasi kejadian.

Bagi Anda yang akan berangkat ke wilayah Garut Selatan, sebaiknya hindari jalur berikut karena terjadi longsor. Berikut pantauan “GE” di lokasi kejadian. Jalan penghubung Dengan gaya ke Cideng tertimbun longsor tepat di Kampung Cilayu,  Desa Sukajaya, Kecamatan Cisewu. Selain itu akses dari Mekarmukti ke Bungbulang terputus di Kampung Cisarua, Desa Hanjuang, Kecamatan Bungbulang. Selain itu masih  banyak longsoran-longsoran lainnya di sejumlah ruas jalan di wilayah Garut Selatan. (Farhan SN)*** 

BREAKING NEWS : Banjir Bandang Kembali Terjang Garut, Dua Desa Terkena Dampak

CISURUPAN, (GE).- Hujan deras yang terus mengguyur sebagian besar wilayah Cisurupan dan sekitar Gunung Papandayan sejak Rabu pagi hingga sore (26/10/2016) mengakibatkan aliran sungai Cile’et meluap hingga ke pemukiman warga. Sebanyak dua desa yaitu Desa Balewangi dan Desa Kramatwangi Kecamatan Cisurupan terkena dampak.

Camat Cisurupan, Dadang Herawan, membenarkan kejadian banjir bandang yang menimpa wilayahnya itu. Menurut pengamatannya, banjir diakibatkan luapan Sungai Cile’et.

“Yang terkena dampak cukup parah yaitu Kampung Cibojong Desa Kramatwangi dan Kampung Ciseupan Desa Balewangi,” kata Dadang saat dihubungi “GE” Rabu (26/10/2016).

Dadang menambahkan, pihaknya tengah berkoordinasi dengan pemerintah setempat bersama unsur Muspika untuk melakukan penanganan darurat. Berdasarkan laporan yang ia terima tidak ada korban jiwa akibat kejadian tersebut.

“Kami sedang berkoordinasi dengan kades masing-masing desa. Unsur Muspika juga telah melakukan penanganan darurat dan pendataan kerusakan yang timbul. Sementara itu dari informasi yang kami terima tidak ada korban jiwa, semoga saja tidak ada korban,” harapnya.

Salah seorang warga, Hilman (35) mengatakan meluapnya Sungai Cile’et terjadi sekira pukul 14.00 WIB, warga sempat panik karena besarnya arus air yang mengepung pemukiman.

“Kami sempat panik melihat deras dan besarnya air bah yang masuk ke kampung kami,” tutur Hilman.

Luapan sungai yang membawa material lumpur dan bebatuan dan banyak pula potongan kayu gelondongan yang memenuhi perkampungan hingga badan jalan. Sampai berita ini diturunkan, sebagian warga tengah membersihkan rumah mereka. (Agus Muhram)***

Editor : Farhan SN

Bulan Desember Jadi Puncak Musim Penghujan, Bupati Ingatkan Warga yang Tinggal di DAS Cimanuk

PEMKAB, (GE).- Kendati masih adanya potensi bahaya banjir bandang susulan sudah diberitahukan, namun warga yang ada di Bantaran Sungai Cimanuk masih belum memenuhi imbauan tersebut.

Beberapa warga baik yang menjadi korban banjir bandang sebelumnya ataupun yang tidak masih saja ada yang tinggal di DAS Sungai Cimanuk.

Bahkan Bupati Garut sempat meradang setelah melihat plang peringatan daerah bahaya di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk dicopot warga. Tidak sampai 2 hari plang tersebut dipasang, sudah tidak ada lagi beberapa hari kemudian.

Padahal BMKG secara resmi telah mengirimkan pemberitahuan ke Bupati Garut bahwa bulan Oktober, November sampai Desember diperkirakan akan terjadi curah hujan cukup ekstrim di beberapa wilayah di Kabupaten Garut.

Dimana pada curah hujan yang ekstrim tersebut adanya potensi curah hujan lebih besar yakni 300 Mili Liter per detik atau lebih besar 75 Mili liter per detik daripada curah hujan saat bencana banjir bandang beberapa waktu lalu yang mencapai 225 mili liter per detik .

“Daerah berbahaya itu sekitar 100 meter dari bibir sungai, termasuk Cimacan, kalau ada aliran air diatas 700 meter per kubik per detik maka dimungkinkan ada arus balik air dari Copong.  Begitupun di Lapang Paris, karena perbedaan elevansi ketinggian dari lapang paris itu 3 meter, kalau curah hujan diatas 225 lapang paris bisa kena seperti sebelumnya,” kata Bupati Garut, Rudy Gunawan.

Sementara ini lanjut Bupati, antisipasi yang dilakukan terkait adanya potensi curah hujan cukup ekstrim, beberapa langkah dilakukan diantaranya berkoordinasi dengan para Camat untuk jalur evakuasi ketika terjadi bencana.

“Semua pihak senantiasa harus hati-hati dan waspada, pasalnya di Kabupaten Garut ini terdapat 2000 titik rawan bencana, atau hampir ada 50 titik rawan bencana di tiap kecamatan atau 5 titik rawan bencana per desanya,” pungkasnya. (Hakim AG)***