Antisipasi Aksi Penimbunan Kepokmas, Dandim 0611 Terjunkan Anggotannya

GARUT, (GE).- Untuk mengantisipasi aksi curang para pedagang kebutuhan pokok masyarakat (Kepokmas), Kodim 0611 Garut menerjunkan anggotanya. Para anggota TNI ini juga akan melakukan pemantauan terkait  adanya isu aksi penimbunan kepokmas serta barang bersubsidi lainnya, semisal gas ukuran 3 kg.

Komandan Kodim 0611 Garut, Letkol Arm. Setyo Hani Susanto, menyebutkan selain melakukan pemantauan terhadap perkembangan harga pangan, anggotanya juga diperintahkan untuk bersinergi dengan elemen terkait  demi terciptanya stabilitas harga pangan di pasaran.

“Tugas pemantauan harga pangan ini dilakukan diluar tugas pendampingan khusus kepada para petani dan pembuatan posko lapangan di sawah-sawah untuk pemantauan langsung ,” kata Dandim, Minggu (4/6/2017).

Diungkapkannya, pihaknya telah memerintahkan anggotanya untuk melakukan pemantaauan di lapangan untuk mencari informasi kebenaran dari isu tersebut. Jika memang hasil pemantauan ditemukan adanya aksi penimbunan, maka anggota diperintahkan untuk mengamankannya.

“Dari hasil pemantauan, kita belum menemukan adanya indikasi penimbunan sebagaimana isu yang telah beredar di masyarakat. Namun demikian pemantauan akan terus dilakukan sebagai langkah antisipasi,” tandasnya.

Dandim mengimbau masyarakat untuk bersama-sama melakukan pengawasan terhadap peredaran kebutuhan pokok pangan agar tidak terjadi kelangkaan atau kenaikan harga.

“‎Jika kemudian ada yang menemukan aksi penimbunan dan lainnya, kami memberikan himbauan agar tidak melakukan aksi tidak terpuji seperti penjarahan dan lainnya, namun tetap mengedepankan proses hukum yang berlaku,” tukasnya.

Selain itu Dandim juga mengimbau kepada masyarakat, selama Ramadan ini kebutuhan sandang, pangan, dan papan pasti sangat tinggi sehingga kemungkinan tingkat kejahatan juga akan meningkat. Oleh karena itu segenap lapisan masyarakat harus ekstra waspada, dan jika mendengar, melihat, hingga merasakan aksi kejahatan agar langsung melaporkannya kepada aparat terkait. (Tim GE)***

Penyebarannya Mirip Virus Aedes Aegypti, Dinkes Garut Antisipasi Serangan Virus Zika

PEMKAB, (GE).- Mewabahnya Virus Zika di beberapa negara tetangga dikhawatirkan masyarakat, terlebih virus yang disebarkan melalui nyamuk ini kerap mengakrabi daerah tropis seperti Indonesia.

Terkait virus berbahaya ini, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, dr. Tenni Swara Rifai, mengatakan, jika tidak hati-hati tidak menutup kemungkinan warga Garut juga bisa terpapar oleh virus Zika ini.

Dikatakannya, secara klinis penyebaran virus ini mirip dengan virus nyamuk Aides Aegypti yang selalu menempati lokasi genangan air.

“Kemungkinan penyebaran Virus Zika bisa juga menyerang di sini (Garut/red.) Karena banyak warga Garut yang berduit suka melakukan kunjungan keluar negri, tempat dimana virus zika itu berasal. Dan terbawa ke Indonesia tidak terkecuali, termasuk Garut,” jelasnya. Minggu (4/9/2016).

Tenni menghimbau, virus ini harus diantisipasi sejak dini. Untuk penangannya tidak jauh beda dengan penanganan kasus DBD atau Chikungunya. Salah satu antisipasinya semisal menerapkan pola 3 M, (Menguras, Mengubur dan Menutup) tempat tempat yang biasa tergenang air.

” Ciri-cirinya hampir sama, pasien akan merasakan demam, mata merah, kulit tampak bintik bintik merah serta nyeri pada persendian, ” jelasnya.

Aa Tenni, demikian sapaan akrab Kadinkes Garut, mengakui, sejauh ini pihaknya belum menerima laporan, baik dari puskesmas atau dari rumah sakit terkait adanya indikasi penyebaran Virus Zika di Garut.

“ Namun demikian, kita harus selalu mewaspadai adanya potensi kunjungan Virus Zika yang bisa mematikan juga apabila tidak ditangani segera secara medis.” Tandasnya. (Tim GE)***

Waspada Buku Ajar PAUD Berbau Kekerasan

TARKI,(GE).- Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (PAUD dan Dikmas) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendibud) menerbitkan surat pelarangan bahan ajar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) mengandung unsur kekerasan.

Larangan tersebut tertuang dalam surat edaran No.109/C.C2/DU/2016 per 21 Januari 2016. Surat itu ditujukan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi, Kabupaten dan Kota seluruh Indonesia.

Dalam surat edaran tersebut dituliskan, anak usia dini merupakan masa yang tepat untuk pembentukan karakter dan budi pekerti. Oleh karena itu semua informasi yang diterima secara lisan, tayangan maupun tulisan seharusnya bebas dari unsur kekerasan faham kebencian, SARA dan pornografi.

“Berdasarkan laporan masyarakat dan kajian terhadap buku Anak Islam Suka Membaca karangan Nurani Mustain terbitan Pustaka Amanah Solo Jateng, cetakan 2013 memuat unsur-unsur tersebut di atas. Yang seharusnya tidak diperkenalkan pada anak usia dini. Hasil kajian pada intinya, kata dan kalimat yang digunakan pada buku tersebut dapat menumbuhkan rasa ingin tahu anak tentang kekerasan,” tulis surat edaran itu.

Menanggapi surat edaran tersebut, Staf Bidang PAUD pada Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Garut, Dadan, Jumat (22/1/2016), mengaku, pihaknya hingga saat ini belum menerimanya. Namun demikian, pihaknya akan menindaklanjutinya bila surat tersebut telah diterima.

Dikatakan Dadan, hingga sejauh ini pihak Disdik Kabupaten Garut tidak serta merta mengedarkan buku bacaan dan bahan ajar ke setiap sekolah. Hal ini dikarenakan adanya campur tangan pihak pemerintah pusat dan provinsi. Belum lagi mekanisme yang harus ditempuh sebelum buku tersebut diedarkan ke setiap kecamatan dan sekolah.

Diakui Dadan, pihaknya menemui kendala untuk melakukan penyortiran terhadap buku-buku bahan bacaan atau pedoman bagi siswa termasuk siswa PAUD. Hal ini dikarenakan banyaknya buku yang beredar yang bahkan juga sebelumnya tidak melalui dinas. Oleh karenanya, diperlukan kecermatan dan ketelitian para guru untuk memilah buku yang cocok untuk para siswanya.

“Pencegahan penanaman perilaku kurang baik bagi anak memang harus dicegah sejak mereka masih berusia dini. Selain itu, anak-anak usia dini pun sangat mudah disusupi apapun, salah satunya paham radikalisme melalui buku yang berisi kekerasan,” ujar Dadan.(Slamet Timur)***