BREAKING NEWS : Lagi-Lagi Terjadi di Garut. Bocah 14 Tahun Dicabuli Tukang Ojek. Begini Ceritanya…

GARUT, (GE).- MH (58) harus berurusan dengan aparat berwajib. Akal bulusnya berdalih mengajarkan ilmu kehidupan akhirnya terungkap. Ilmu yang dijanjikan MH ternyata hanya akal-akalan agar bisa mencabuli anak tetangganya yang baru berusia 14 tahun.

Aksi bejat MH terbongkar setelah orang tua korban membaca surat yang dikirim MH kepada korban. Isi surat mengajak korban untuk mempelajari ilmu kehidupan di rumah MH. Merasa curiga atas isi surat tersebut, akhirnya orang tua korban melaporkan hal tersebut kepada polisi.

“Pelaku mengakui perbuatannya tersebut. Aksinya dilakukan di kebun singkong dekat rumah pelaku. Pelaku mencabuli korban selama empat kali dalam waktu berbeda,” ungkap Kapolsek Cilawu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Kompol Suhendar, Senin (17/4/17).

Akibat perbuatannya tersebut, kini MH yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang ojek harus meringkuk di sel tahanan Mapolsek Cilawu. MH disangkakan melanggar Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun kurungan penjara. Polisi menangkap bapak empat anak tersebut di rumahnya.

Barang bukti diamankan polisi di antaranya pakaian korban, botol parfum dan body lotion. Polisi masih mendalami dan mengembangkan kasus tersebut. Sebab, berdasarkan keterangan warga sekitar TKP, korban kejahatan seksual yang dilakukan MH diduga lebih dari satu orang.

Selama ini, kata Suhendar, hampir setiap hari MH datang ke warung milik orang tua korban. Semakin lama, rupanya MH tambah kepincut oleh kemolekan tubuh korban. Otak jahat MH pun mulai mencari siasat. Singkat cerita, pelaku pun berhasil memperdayai korbannya sampai empat kali. Namun, sebelum aksi bejatnya berlanjut, MH akhirnya diringkus polisi.

“Untuk dugaan itu (perkosaan kepada korban) masih menunggu hasil visum. Kami juga mengimbau bagi siapa saja yang menjadi korban kekerasan seksual MH untuk melaporkannya kepada kami,” tandas Suhendar. (Mempis/GE)***

Editor : SMS

Lidya Da Vida, Anggota Majelis Hakim Pengadil Kasus Anak Gugat Ibu Kandung Rp 1,8 Miliar. Lembut di Luar, “Garang” di Persidangan

ADA yang menarik pada setiap pergelaran sidang kasus anak menggugat ibu kandung Rp 1,8 miliar di Pengadilan Negeri (PN) Garut. Ya, kehadiran sosok wanita muda yang duduk sebagai anggota majelis hakim pada persidangan tersebut.
Namanya Lidya Da Vida. Meski baru setahun bertugas di PN Garut, kehadirannya cukup menyedot perhatian para pengunjung persidangan. Bukan hanya karena paras cantiknya, sikapnya yang humanis membuat para kuli berita betah berlama-lama berbincang dengan wanita kelahiran Medan 33 tahun lalu ini.
Namun begitu di persidangan, wibawanya sebagai seorang pengadil kerap membuat para terdakwa ketar-ketir. Lidya, sapaan akrabnya, selalu bersikap tegas dalam menyikapi persidangan.
Ketika disinggung mengenai profesinya itu, Lidya mengaku enjoy. Selama delapan tahun bertugas, kata Lidya, memang banyak suka dukanya.
“Ya, yang pasti saya senang menjalani profesi ini. Di sini saya banyak melihat bagaimana perubahan seseorang dari yang buruk menjadi baik, di sini juga terkadang muncul naluri keibuan saya ketika menangani kasus tertentu,” kata Lidya kepada wartawan yang mewawancarainya usai persidangan.
Sebagai seorang hakim, kata Lidya, dirinya akan terus menjaga sikap profesionalisme dalam menangani setiap perkara. Begitu juga saat menangani kasus gugatan anak dan menantu yang menggugat ibu kandungnya sendiri. Kasus Yani Handoyo vs Amih yang kini ditanganinya.
“Yang pasti kami akan menjadi pengadil yang netral dan profesional, dalam semua kasus. Tak terkecuali kasus ini,” ungkapnya.
Menurut Lidya, sebagai seorang hakim dirinya tidak bisa berargumen terhadap suatu kasus.
“Saya nggak bisa berkomentar banyak mengenai kasus ini, hakim kan penengah, tidak boleh berpihak pada tergugat maupun penggugat,” katanya.
Lidya sendiri dipastikan kembali menjadi anggota majelis hakim pada persidangan kesembilan kasus gugatan perdata Yani-Handoyo terhadap Siti Rohaya (83) . Persidangan selanjutnya akan digelar di PN Garut, Kamis (13/4/17) mendatang. Agenda sidang, mendengarkan keterangan saksi-saksi dari kedua belah pihak. (Mempis/GE)***
Editor : SMS

Sidang Lanjutan Kasus Gugatan Anak kepada Ibu Kandung Rp 1,8 Miliar. Majelis Hakim Kembali Meminta Kedua Pihak Berdamai

GARUT, (GE).- Sidang ketujuh kasus gugatan perdata sebesar Rp 1,8 miliar yang diajukan seorang anak dan menantu kepada ibunya, kembali digelar di Pengadilan Negeri Garut, Kamis (6/4/17). Ketua Majelis Hakim, Endratno Rajamai, kembali mengimbau kedua belah pihak agar melakukan upaya damai dan kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan sebelum putusan pengadilan.

“Di sini majelis tetap mencoba mendamaikan dulu, sebelum jatuh putusan. Karena kan ini urusan keluarga, bagaimanapun pasti bisa diselesaikan secara kekeluargaan,” ujar Endratno.

Persidangan sendiri dimulai sekira pukul 10.15 WIB. Agenda sidang, penambahan bukti-bukti gugatan. Pada sidang kali ini, penggungat kembali tidak menampakkan batang hudungnya. Mereka hanya diwakili oleh kuasa hukumnya, sedangkan dari pihak tergugat dua, Asep Rohendi, hadir di ruang sidang.

Kedua pihak langsung memberikan bukti-bukti kepada majelis hakim. Dari pihak tergugat, tim kuasa hukum memberikan bukti berupa rekam medis dari dokter yang menyatakan saat Siti Rohaya (83) menandatangani surat pengakuan berutang pada tahun 2016 tersebut dalam keadaan sakit. Sementara dari pihak penggugat, dua orang saksi yang diminta dihadirkan, batal datang dengan alasan sibuk.

Dalam persidangan tersebut, kuasa hukum penggugat menyampaikan, pihaknya tetap mempertanyakan uang Rp 20 juta yang katanya dipinjam oleh Asep Rohendi dan diberikan secara tunai.

Menanggapi pernyataan tersebut,  Asep langsung membantah. Ia tetap menolak jika dirinya disebut menerima uang tunai yang ditudingkan kepadanya.

“Saya kan enggak menerima. Tadi saya disuruh jelaskan sama majelis. Bagaimana saya mau menjelaskan kalau saya tidak menerima. Kan saya bingung mau jawab apa,” jelas Asep Rohendi kepada wartawan usai persidangan.

Sidang akan kembali dilanjutkan Kamis (12/4/17), dengan agenda mendengarkan keterangan saksi dari kedua belah pihak. Pihak tergugat, berencana akan menghadirkan saksi dari Rumah Sakit RSUD dr. Slamet Garut, yang menangani penyakit yang diidap Siti Rohayah. (Farhan SN/GE)***

Editor : SMS

Sidang Ketujuh Anak Menggugat Ibu Kandung Rp 1,8 Miliar kembali Digelar. Handoyo Disoraki Pengujung

GARUT, (GE).- Sidang ketujuh kasus gugatan perdata antara anak dan ibu kandung kembali digelar di Pengadilan Negeri Garut, Kamis (30/3). Sidang yang dipimpin Majelis Hakim Endratno Rajamai, dimulai sekira pukul 10.45 WIB.

Penggugat yang juga menantu Siti Rohaya (83) selaku tergugat, Handoyo Andianto (47), kali ini datang ke persidangan. Berpakaian batik biru, Handoyo duduk tenang di ruang Sidang Garuda. Sidang kali ini beragendakan penyerahan bukti-bukti.

Sementara itu, hampir seluruh anak Amih- sapaan Siti Rohaya, hadir di ruang sidang. Mereka mendapat dukungan sejumlah warga Garut yang bersimpati terhadap kasus yang menimpa Amih.
Para pengunjung yang hadir di persidangan berdurasi sekira satu jam itu sempat menyoraki Handoyo. Tak pelak, majelis hakim pun sempat meminta para pengunjung tenang dan menghormati persidangan.

Sorakan pengunjung sidang pertama kali terdengar saat Handoyo menyampaikan dirinya siap berdamai. Asalkan semua tuntutan dipenuhi pihak tergugat. Sorakan kedua kembali terdengar saat Handoyo menyebut akan mendedikasikan 50 persen uang gugatan untuk Amih. Meski agenda sidang menggelar pembuktian, majelis hakim lebih banyak mengarahkan kedua belah pihak untuk bisa berdamai. Sekalipun upaya mediasi telah dilakukan dan gagal.

“Majelis hakim menggugah dan mendorong islah. Bukan hanya di atas kertas saja. Harta masih bisa dicari, tapi jika orang tua murka?” pinta Endratno, Kamis (30/3/17).

Majelis hakim memberikan kesempatan kedua kepada penggugat untuk memberikan pernyataan. Handoyo pun awalnya ingin membacakan satu lembar pernyataan yang disebut ‘dedikasi untuk Ibunda Siti Rohaya’. Hanya saja, permintaan tersebut ditolak majelis hakim karena sudah ada dalam materi persidangan.

“Saya izin cerita saja,” kata Handoyo kepada majelis hakim.

Sebelum persidangan dimulai, awak media sempat meminta keterangan kepada Handoyo. Menurutnya, jalur hukum disediakan negara sebagai jalan terbaik.

“Negara ini supremasi hukum tidak? Di sini kan (pengadilan) tempat wakil-wakil tuhan,” dalih Handoyo.

Terkait nilai gugatan utang piutang dari Rp 41,5 juta menjadi Rp 1,8 miliar, menurut Handoyo akan terjawab di persidangan. Jika menang gugatan, Handoyo membenarkan telah menyediakan paket cinta Siti Rohaya.

Menurut Handoyo, paket kasih sayang itu diberikan karena ia dan istrinya, Yani Suryani, merupakan anak yang paling sayang kepada Amih.

Paket kasih sayang tersebut berupa sebagian uang dari tuntutan sebesar Rp1,8 miliar diberikan kepada Amih, trauma healing, serta mengajak Amih pergi haji atau berlibur ke luar negeri.

“Kalau menang, sebagian dikasih ke Amih. Paket kasih sayang bisa ajak haji Amih, ke luar negeri sama istri saya, anak kandungnya sendiri. Ini kan cuma meluruskan persoalan saja,” ujarnya.

Saat ditanya tentang rumah Amih di kawasan Ciledug yang menjadi sengketa, Handoyo kembali menjawab akan ada paket kasih sayang. Handoyo menyebut salah jika ia ingin menguasai rumah.
“Itu salah jika miliki rumah. Nanti di persidangan. Enggak begitu kita lihat sidang,” katanya.

Asep Ruhendi, pihak tergugat sudah menyanggupi untuk membayar hutang kepada Handoyo sebesar Rp 121,5 juta dari hutang awal pada 2001 sebesar Rp 21,5 juta. Namun di saat mediasi, Handoyo tetap bersikeras meminta pembayaran sebesar Rp 750 juta.

“Adik saya (Yani/red) minta mediasi lagi. Tapi suaminya (Handoyo/red) tidak mau turun. Jadi percuma mediasi juga. Uang buat bayar hutang juga rereongan (patungan) keluarga,” jelas Asep.
Asep sendiri mengaku tetap optimis bisa menang. Namun, bila dinyatakan kalah, ia juga akan membayar.

“Kalau pun bayar banyak yang memikirkan. Ikuti air mengalir karena yang disodorkan kurang jelas,” upungkasnya. (Farhan SN/GE)***

Editor : SMS

Soal Gugatan Anak kepada Ibu Kandung. Nitizen Pertanyakan Bupati Garut

GARUT, (GE).- Kasus viral gugatan perdata anak kepada ibu kandungnya di Kabupaten Garut, Jawa Barat, tak pelak menimbulkan berbagai komentar di media sosial. Umumnya komentar bernada menghujat sang anak yang telah tega memejahijaukan ibu yang selama 13 tahun membesarkannya sendirian.

Namun, banyak pula yang malah akhirnya mempertanyakan sikap Bupati Garut, Ruddy Gunawan, yang belum pernah sekalipun menyambangi Siti Rohaya (83), sang ibu yang dimejahijaukan anak kandungnya sendiri. Pertanyaan itu muncul setelah Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, justru yang lebih dulu memberikan bantuan uang dan bahkan menyambangi langsung ke kediaman Siti Rohaya di Garut untuk memperlihatkan rasa empatinya, Sabtu (25/3/17) malam.

“Yang penting niat baiknya! Jangan melihat dari sudut pandang sempit sebuah pencitraan!! Nuhun Kang Dedi!! Ari bupati garut kamana nya? Di garut aya anggota DPRD kitu? Atanapi tos baronge?? Gawe naon atuh maraneh teh!!” tulis warga Garut dengan nama akun Iman Tasdik di laman facebooknya.

Status yang diunggah Iman Tasdik pun langsung mendapat komentar nitizen lain. Di bawah ini sebagian dari komentar nitizen yang menimpali status Iman Tasdik.

Dunk Garut : naha,,,,pajabat garut,,,,te marampuh,,,kitu,,,

Stugart Bass Clef : Di garut mah tos loba nu maraot kang, teu baronge ngan emang eweuh gawe wehh……nganggur ngan nyokotan duit rakyat weh

Denny Baron Oi : Sok araraneh wae garut mah….gerak atuh bupati garut…..

Juragan Bako Kurniawan : Ah… boboraah inget ka rahayatna…nu aya mah keur sibuk babanda

Cecep Suhendar : Kang Iman Tasdik emang garut aya bupatian kitu? Saha kang ngarana??

Yayat Hikmat : Nuju ngantosan amplop kang kanu mejana… teu aya wae… jd we ngabarigeu… doraka ti kolot jg na mah jd we ngabaratu….

Thomas Sugihartono : Nuju babagi dana banjir nu kamari … wkwkwk

Andri Gunadi : Sumpah kang, era jd warga Garut

Manz BinaAl Ranggarut : Asa di popokan ku e’e nyalira kang abi sebagai warga garut

Dwi Feb : Make diparilih atuh ari euweuh gawe na mah. (SMS/GE)***

Upaya Mediasi Sengketa Anak dan Ibu Kandung. Dedi Mulyadi : “Kalau sampai Rp 1,8 Miliar itu tidak Logis!”

GARUT, (GE).- Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, mengaku prihatin atas gugatan hukum yang dilakukan seorang anak terhadap ibu kandungnya sendiri di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Sebab, menurut politisi yang juga budayawan itu, ibu adalah sosok yang memiliki kemuliaan sangat tinggi. Karena itu, seharusnya kemuliaan seorang ibu dijunjung tinggi terutama oleh anaknya sendiri.

Sebagai bukti empatinya, Dedi Mulyadi, sengaja menyempatkan diri mengunjungi kediaman Siti Rohaya (83) di Jalan Cimanuk, Kampung Sanding Atas, Kelurahan Muara Sanding, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu (25/3/17) malam. Bahkan, sebelum itu, Dedi mengutus anak buahnya untuk menyampaikan bantuan uang kepada Siti Rohaya. Ketika itu, diserahkan uang sebesar Rp 20 juta, sesuai nilai awal yang dianggap dipinjam Siti Rohaya dari anak kandungnya itu.

“Tapi, kalau memang mintanya Rp 41 juta, saya juga akan lunasi. Hanya kalau sampai Rp 1,8 miliar, itu tidak logis!” tandas Dedi Mulyadi kepada “GE”, Minggu (26/3/17).

Lebih jauh Dedi mengungkapkan, semula berniat memediasi persetruan anak dan ibu kandung ini. Hanya saja, sampai sekarang ia belum dapat menghubungi Yeni Suryani dan suaminya yang menetap di bilangan Jakarta Timur.

“Saya coba kontak dulu melalui telepon, tidak pernah diangkat. Padahal hpnya aktif. Tetapi, anehnya kalau dikontak oleh wartawan, selalu diangkat dan dia mengatakan siap dimediasi oleh saya,” terang Dedi.

Seperti diberitakan sebuah portal berita, Yeni Suryani mengaku sangat senang dan siap dimediasi persoalannya oleh Dedi Mulyadi. Bahkan, katanya, ia menantikan momentum ini agar bisa bertemu dan menyalami ibu kandung yang telah dihadapkannya ke meja hijau.

Tetapi, lanjut Dedi, itu hanya ungkapan kepada wartawan. Buktinya, beberapa kali ia coba hubungi langsung lewat telepon genggamnya tidak pernah diangkat.

“Ini masalah keluarga, bisa diselesaikan dengan kekeluargaan. Seharusnya gak usah sampai ke pengadilan,” kata Dedi, menanggapi gugatan Rp 1,8 miliar yang dilakukan Yani Suryani beserta suaminya Handoyo Adianto, terhadap Siti Rohaya, ibu kandungnya sendiri.

Kasus gugatan perdata itu sendiri sudah memasuki proses persidangan keenam di Pengadilan Negeri Garut. Namun, pada persidangan Kamis (23/3/17), kedua pihak baik penggugat maupun tergugat tidak hadir di ruang sidang. Mereka hanya diwakili oleh kuasa hukumnya masing-masing. (Sony MS/GE)***

Kak Seto Gulirkan Pembentukan Satgas Perlindungan Anak Tingkat RT/RW

GARUT, (GE).- Penanganan perlindungan anak dari tindak kekerasan, bukan hanya tugas polisi dan petugas P2TP2A. Seluruh komponen masyarakat harus ikut terlibat. Bahkan sampai ke tingkat RT/RW.

Karena itu, psikolog yang juga Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Dr. Seto Mulyadi, S.Psi, M.Si – atau yang akrab disapa Kak Seto, terus berjuang mewujudkan satuan tugas (satgas) perlindungan akan hingga ke tingkat RT/RW.

“Dengan adanya satgas perlindungan anak di tingkat RT/RW diharapkan tidak ada lagi tindak kekerasan terhadap anak,” ujar Kak Seto pada acara “Parents Gathering With Kak Seto”, di Gedung Pendopo Garut, Jawa Barat, Selasa (7/3/17).

Acara gathering yang dibuka Bupati Garut, Rudi Gunawan, tersebut diikuti ratusan guru dari mulai tingkat PAUD, TK, SD, SMP, sampai SMA. Peserta bukan saja guru dari wilayah perkotaan, melainkan juga dari bergabai pelosok seperti Kecamatan Bungbulang, Pameungpeuk dan kecamatan lainnya di Garut Selatan. Mereka tampak begitu antusias meingukuti acara tersebut.

Dalam pemaparannya, Kak Seto menyampaikan 3 aspek penting dalam mendidik anak, yaitu tingkat kesadaran secara logika (kognitif) , apektif atau rasa cinta yang lebih tulus kepada anak-anak, dan aspek psikomotorik.

Para guru tidak hanya harus menguasai keilmuan (konitif), mereka juga harus cukup gesit dan terampil bergerak dalam mengajar. Para guru dituntut terampil mendidik anak dengan metoda mendongeng atau menggambar.

“Atau sedikit trik main sulap. Supaya anak-anak belajarnya betul-betul disentuh dengan nuansa kegembiraan. Tidak tertekan, tidak stres. Sehingga anak-anak mempunyai motivasi yang tinggi dalam belajar,” ujar Kak Seto kepada “GE”, usai acara.

Pada seminar sehari tersebut, Kak Seto juga memberikan materi tentang kesadaran hukum. Menurutnya, anak-anak di Indonesia perlu dilindungi melalui UU Perlindungan Anak.

“Jadi, mohon dalam mendidik jangan ada dengan cara-cara kekerasan,” harapnya.

Dikatakan lebih jauh, hingga kini kasus kekerasan terhadap anak di bidang pendidikan masih cukup tinggi.

“Karena itulah sebabnya kami menggelar kampanye road show ke seluruh tanah air mulai dari Jawa-Bali. Kami mulai beberapa minggu ini di Jawa Barat,” pungkasnya. (Farhan SN)***

 

Editor : SMS

Andika Korban Penculikan Selama 5 Bulan, Kini Kondisi Kejiwaanya Berubah

GARUT, (GE).- Andika (5), bocah berusia 5 tahun korban penculikan, yang Senin (12/12/2016) lalu berhasil ditemukan oleh pamannya, setelah hampir 5 bulan diculik oleh dua orang tersangka yang merupakan pasangan suami istri berinisial DS dan OL. Wajahnya menjadi gelap, tubuhnya kurus kering disertai bekas luka bakar di beberapa bagian tubuhnya.

Setelah tragedi penculikan tersebut, kini kondisi kejiwaan anak ini berubah, termasuk perilakunya. Resi, yang merupakan ibu korban mengatakan, banyak sekali perilaku anaknya yang berubah semenjak diculik 5 bulan lalu.

“Duh, banyak sekali yang berubah dari anak saya, mulai dari badannya yang menjadi kurus dan hitam, terus dari tingkahnya juga berubah, dia jadi lebih agresif dan kasar,” tutur Resi, kepada tim “GE” Jum’at (16/12/2016)

Masih menurutnya, bahkan ketika pertama kali dibawa pulang kerumahnya di wilayah Kampung Sudika Indah, Desa Haurpanggung, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, sang anak sama sekali tidak mengenal tempat tersebut, dan memanggil ibunya dengan sebutan bibi.

“Ya, pas pertama ke sini (rumah/ red.) dia bingung, trus bilang ‘ini dimana ?’ katanya. Ke saya juga gak manggil mamah kaya biasa, tapi manggilnya bibi,” ungkapnya.

Sementara itu nenek Andika, Beti mengatakan belasan juta rupiah sudah ia habiskan hanya untuk mencari keberadaan Andika selama 5 bulan terakhir. Bahkan dirinya harus menjual beberapa perabotan dan barang berharga miliknya.

“Saya sudah habiskan hampir 15 jutaan, untuk cari dia (Andika,red) ke Bandung, ke Tasik, sampai ke Pantura juga sudah saya capai,” ungkapnya

Kini pihak keluarga hanya bisa pasrah menerima nasib tersebut sembari menunggu bantuan dari Pemerintah agar anaknya bisa normal seperti semula. Keluarga juga berharap, agar kedua orang pelaku dihukum setimpal dengan perbuatannya.

“saya mohon kepada pak polisi untuk mengusut tuntas kasus ini, jangan sampai ada Andika yang selanjutnya, saya minta pelaku dihukum dengan hukuman yang paling berat, untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya,” pungkasnya. (Memphis)***

Editor: Kang Cep.

“Burung” Susah Bangun, Eh..Anak Tetangga Dibuat Uji Coba

POLRES, (GE).-  Kelakuan bejat AR (51) memang ada-ada aja. Memiliki penyakit lemah syahwat bukannya diobati malah melakukan perbuatan tidak senonoh. Apalagi yang jadi korbannya anak yang masih di bawah umur.

Korban pencabulan AR tiada lain anak tetangganya sendiri yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Korban berinisial SNA (9 tahun). Korban mengaku dibujuk untuk masuk ke rumah tersangka. Di sanalah aksi tersangka mencabuli SNA.

Sehari kemudian korban melaporkan tersangka ke orang tuanya. Tidak terima anaknya dicabuli kedua orang tua melaporkan AR ke Mapolres Garut.

“Kemarin (Senin), keluarga korban melaporkan kasus tersebut. Orang tua korban tak terima dengan pelecehan yang dilakukan tersangka kepada anaknya,” ujar Kasatreskrim Polres Garut, AKP Sugeng Heriyadi di Mapolres Garut, Selasa (24/5/2016).

Sugeng melanjutkan, rumah korban dan tersangka saling bersebelahan di Jalan Candamerta, Kelurahan Kota Wetan, Kecamatan Garut Kota. Modus yang dilakukan AR yang berprofesi sebagai pedagang, tutur Sugeng, dengan mengajak korban ke rumahnya yang kosong.

“Korban diajak pelaku ke dalam rumah. Setelah ada di rumah, tangan korban ditarik dan dielus-eluskan ke kemaluan tersangka. Tersangka juga memegang alat vital korban,” katanya.

Dari pengakuan tersangka, tambah Sugeng, aksi yang dilakukannya merupakan yang pertama kali. Namun pihaknya masih mengembangkan kasus tersebut.

“Tersangka memang hanya mau mengetes alat kelaminnya saja. Padahal tersangka masih memiliki istri,” ujarnya.

Menurut Sugeng, perbuatan yang dilakukan tersangka kepada korban yang masih duduk di kelas 3 SD itu dikenakan ancaman hukuman maksimal 15 tahun. Apalagi pelecehan dilakukan kepada anak di bawah umur.

“Kami kenakan pasal 76 E dan 82 UU nomor 35 tahun 2014 tentang kekerasan dengan tujuan perbuatan asusila,” katanya. Farhan SN***