Keukeuh Tuntut Ibu Kandungnya, Yani Cs Ajukan Banding ke Majelis Hakim PN Garut

GARUT, (GE).- Meski majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Garut telah menolak tuntutannya, pasangan suami istri Yani Suryani dan Handoyo Adianto keukeuh akan menuntut ibu kandungnya. Salah satu upaya yang dilakukan Yani Cs ini dengan mengajukan banding.

” Ya, memori bandingnya sudah disampaikan kemarin langsung oleh mereka (Yani Suryani dan Handoyo Adianto/ red.),” ujar juru bicara Pengadilan Negeri Garut, Endratno, Rabu (05/07/17).

Menurut Endratno, upaya banding yang dilakukan Yani Suryani dan Handoyo Adianto terhadap putusan pengadilan yang memenangkan perkara Siti Rokayah alias Amih (83), selaku ibu kandung Yani, merupakan hak prinsipal pembanding.

“Setelah momori banding lengkap, kita sampaikan kepada terbanging untuk membuat kontra banding,” katanya.

Dikatakannya, berdasarkan aturan pengadilan, jika memori banding dan berkas kontra banding yang akan disampaikan pihak Amih, selaku terbanding lengkap, maka pengadilan akan menyampaikan rencana banding kepada Pengadilan Tinggi Jawa Barat.

“Kami akan lengkapi, Mminimal dalam 30 hari ke depan, kita tunggu saja berkas memori babding dan kontra bandingnya,” tukasnya.

Seperti diketahui, dalam persidangan sebelumnya, Rabu (14/06/17) lalu, Pengadilan Negeri Garut telah menolak seluruh gugatan yang dilayangkan Yani Suryani dan Handoyo Adianto.

Dengan putusan tersebut, maka Amih dan Asep Rohendi selaku tergugat I dan II dinyatakan bebas dari seluruh gugatan materil sebesar Rp 1,8 M. Namun dengan penolakan majelis hakim PN Garut ini ternyata tidak lantas membuat Yani Cs berhenti menuntut ibu kandungnya. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

 

BREAKING NEWS : Gugatan Yani Cs Terhadap Ibu Kandungnya Ditolak, Siti Rokayah: “Amih Memaafkan Yani”

GARUT, (GE).- Seluruh gugatan perdata senilai Rp 1,8 miliar yang dilayangkan Yani Suryani bersama Handoyo Adianto, suaminya, terhadap Siti Rokayah alias Amih (83) yang merupakan ibu dari Yani akhirnya resmi ditolak Pengadilan Negeri Garut. Prosesi pembacaan putusan pengadilan ini diketahui dalam sidang lanjutan yang digelar Pengadilan Negeri Garut, Rabu (14/6/17).

“Gugatan penggugat ditolak untuk seluruhya, dan pihak tergugat adalah pihak yang menang. Sementara penggugat adalah yang kalah,” kata Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri, Garut, Endratno Rajamai.

Endratno menjelaskan, seluruh gugatan perdata yang dilayangkan penggugat tidak memiliki dalil yang kuat untuk mempertahankan seluruh gugatannya. “Maka dengan itu gugatan harus ditolak,” tandasnya.

Dengan putusan majlis hakim tersebut, Amih dan Asep Rohendi selaku tergugat I dan II dinyatakan bebas dari seluruh gugatan materil sevesar Rp 1,8 miliar.

Eep Rusdiana, yang merupakan juru bicara keluarga Amih, mengatakan, putusan hakim tersbut cukup memuaskan pihak tergugat. “Alhamdulilah, kita bersyukur, hakim akhirnya menolak seluruh gugatan,” tuturnya.

Sementara itu. Amih yang tiba-tiba muncul menggunkan korsi roda di persidangan, mengaku lega dengan putusan tersebut.  “Amih lega, tentu Amih memaafkan Yani termasuk Handoyo, apalagi ini ibu sama anak, mana ada ibu yang tidak sayang anak,” tuturnya, seraya menyeka air matanya.

Jopie Gilalo, salah satu kuasa hukum penggugat mengaku belum menyiapkan langkah hukum selanjutnya pascaputusan penolakan yang telah diketuk majelis hakim. “Nanti akan saya tanyakan dulu, apakah akan banding atau tidak, takut malah nggak (banding),” ujarnya.

Dengan putusan itu Amih beserta Asep Rohendi sebagai tergugat I dan II akhirnya bebas dari seluruh gugatan materil sebesar Rp 1,8 Miliar. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

 

Gugatan Balik Keluarga Amih Akhirnya Ditolak, Kuasa Hukum Handoyo Mengaku Lega

GARUT, (GE). – Kasus hukum ibu dan anak kandungnya sendiri di Garut terus berlanjut. Pada sidang gugatan balik yang dilayangkan keluarga Siti Rokayah alias Amih (83), ibu tergugat Rp 1,8 M oleh anaknya di Pengadilan Negeri Garut, Jawa Barat akhirnya kandas. Majelis hakim pengadilan akhirnya memutuskan menolak seluruh gugatan intervensi yang dilayangkan keluarga Amih.

“Gugatan untuk tergugat dinyatakan ditolak seluruhnya karena tidak terdapat hubungan hukum pada gugatan dengan perkara pokok,” tutur ketua Majelis Hakim Endratno Rajamai, Rabu, (17/5/17).

Dijelaskannya, seluruh materi gugatan yang dilayangkan keluarga Amih tidak memiliki dasar yang kuat untuk mengubah pokok perkara gugatan. “Sudah jelas bahwa alasannya tidak terdapatnya hubungan gugatan dengan pokok gugatan,” tandasnya.

Disamping itu, persoalan waris yang disengketakan keluarga Amih dalam gugatan pokok bukan kewenangan Pengadilan Negeri untuk menyelesaikannya, namun di Pengadilan Agama.

“Selanjutnya, majelis hakim meminta para kedua pihak untuk melanjutkan persidangan,” katanya.

Sementara itu, juru bicara keluarga Amih, Eep Rusdiana, mengaku sedih dengan putusan itu. Sejak awal ia bersama keluarganya optimis dapat memenangkan gugatan balik tersebut.

“Tapi itu kan putusan hakim harus kita hormati,” tukasnya.

Menanggapi penolakan majelis hakim tersebut, Eep belum memutuskan langkah apa selanjutnya yang akan dilakukan. “Kita akan koordinasi dengan pengacara apa yang selanjutnya akan diambil,” katanya.

Diharapkannya keputusan yang akan dihasilkan pengadilan memberikan rasa keadilan bagi semua pihak. “Ini juga kan perjuangan, saya lihatnya ke depannya. Kita hormati seluruh putusan majelus hakim,” ujarnya.

Sementara Kuasa hukum Handoyo Adianto, Jopie Gilalo mengaku lega dengan putusan tersebut. Menurutnya putusan hakim cukup adil, sebab seluruh saksi yang dihadirkan oleh penggugat sesuai fakta. “Alhamdulillah bisa cepat selesai,” seraya bergegas meninggalkan ruang sidang pengadilan. (Tim GE)***

Majelis Hakim akan Mempertemukan Amih, Yani, dan Handoyo pada Persidangan Kesembilan Kasus Anak Menggugat Ibu Kandung Rp 1,8 Miliar

GARUT, (GE).- Keluarga besar Siti Rohaya (83), ibu yang digugat Rp 1,8 miliar oleh anak kandung dan menantunya sendiri, menyambut gembira rencana majelis hakim yang akan mempertemukan kedua pihak bersengketa pada persidangan kesembilan, Kamis (13/4/17) mendatang.
Sebagaimana dikatakan Humas Pengadilan Negeri Garut, Endratno Rajamai, dalam persidangan majelis hakim meminta agar para prinsipal menghadiri persidangan. Majelis hakim menilai, hal tersebut merupakan suatu keharusan dalam upaya memediasi kedua belah pihak sebelum jatuhnya putusan pengadilan.
“Majelis akan panggil para prinsipal. Itu dimaksudkan agar masalah ini bisa selesai secara kekeluargaan lah, jangan sampai setelah nanti putusan pengadilan jatuh, keduanya menyesal,” ungkap Endratno kepada wartawan, Kamis (6/4/17).
Rencana tersebut disambut gembira keluarga besar Amih, sapaan akrab Siti Rohaya. Bahkan, Eep Rusdiana, anak kesebelas Amih yang selama ini bertindak sebagai juru bicara keluarga, mengatakan, pihaknya akan mengupayakan Amih bisa menghadiri persidangan . Meski, kata Eep, hingga saat ini Amih masih menderita sesak nafas dan kesulitan dalam berjalan.
“Kami menyambut baik yang disampaikan oleh majelis hakim. Itu juga adalah keinginan Amih yang ingin bertemu Yani dan Handoyo. Kami selalu berupaya maksimal untuk menjaga dan merawat ibu kami, agar bisa hadir dipersidangan. Saya berharap setelah Amih hadir nanti, masalah ini akan cepat selesai secara kekeluargaan,” jelas Eep saat dihubungi “GE”, Kamis (6/4/17) malam.
Pada sidang kedepalan, Kamis (6/4/17) siang tadi, kedua pihak tetap ingin melanjutkan perkara. Pihak penggugat bersikeras tidak mencabut tuntutannyakepada tergugat, Siti Rohaya dan Asep Rohendi. Pihak penggugat tetap menuntut Amih dan Asep membayar ganti rugi Rp 1,8 miliar. Begitu pula pihak tergugat. Asep Rohendi selaku tegugat dua mengatakan, dirinya siap membayar utang yang senilai Rp 20 juta yang ia pinjam dari Handoyo pada tahun 2001 lalu ditambah Rp 100 juta sebagai bentuk ganti rugi.
“Saya siap membayar Rp 120 juta kepada Bapak Handoyo. Saya ingin masalah ini cepat selesai,” ungkap Asep dalam persidangan.(Mempis/GE)***

Editor : SMS

Empati atas Kasus Anak Menggungat Ibu Kandung Rp 1,8 Miliar, Ribuan Siswa SMKN 1 Garut Menggelar Doa Bersama untuk Amih

GARUT, (GE).- Kasus gugatan perdata yang menimpa seorang ibu asal Kabupaten Garut, Jawa Barat, ternyata mengundang reaksi dari berbagai pihak. Bagaimana tidak, sang ibu – Siti Rohaya atau akrab disapa Amih (83), dituntut oleh anak kandung dan menantunya sendiri untuk membayar utang Rp1,8 miliar dari jumlah utang awal Rp20 juta. Padahal, yang ditunt oleh Yani Suryani dan Handoyo Adianto itu bukan merupakan utang Amih.

Bentuk kepedulian dan rasa empati terhadap kasus tersebut juga ditujukkan para siswa SMKN 1 Garut. Sebelum melaksanakan kegiatan belajar mengajar, Jumat (31/3/17) pagi, ribuan siswa dan guru SMKN 1 Garut memenuhi lapangan sekolah menggelar doa bersama yang ditujukan untuk Amih. Mereka juga mendoakan agar Amih selalu diberikan kesehatan dan jalan keluar dalam masalah ini.

“Kami warga sekolah sepakat untuk menggelar doa bersama untuk Amih yang digugat anaknya Rp 1,8 miliar. Saya sebagai orang tua juga sangat priatin atas apa yang menimpa Amih. Saya harap anaknya tersebut mau mencabut gugatan dan menyelesaikan persoalan ini secara kekeluargaan,” ungkap Kepala SMKN 1 Garut, Dadang Johar Arifin, Jumat (31/3/17).

Ungkapan senada disampaikan para siswa. Mereka bahkan tak habis pikir, seorang anak tega menggugat ibunya sendiri.

“Saya miris aja ada anak tega pada ibunya sampai menggugat karena utang. Anak itu ga berfikir bagaimana perjuangan ibu membesarkan anak tersebut. Yang penting, saya gak mau kayak anak itu,” ungkap salah seorang siswa, Salman Faira, kepada “GE”

Selain mendoakan Amih, doa bersama ditujukan bagi  800-an siswa kelas XII yang akan melaksanakan Ujan Nasional Berbasis Komputer (UNBK). (Mempis/GE)***

Editor : SMS