Puisi-Puisi Ahmad Faiz Rusydi

Puisi-Puisi Ahmad Faiz Rusydi

(1) “Identitas”

Aku tak pernah menjadi aku
selalu ada orang lain menuntunku
selalu ada orang lain yang kutiru

Aku selalu menjadi mereka
yang ada sebelum diriku
Yang memulai apa yang kurasa

Aku yang kau tahu bukanlah diriku
Tapi cerminan orang
yang kau lihat dalam diriku

Suatu saat, aku akan menjadi aku
ketika tak ada lagi udara di tubuhku
ketika darah berhenti mengalir ke otakku

tapi saat ini,
biarlah
persepsimu mendefinisikanku
dan biarlah
persepsiku yang mendefinisikanmu
(Garut, 091216)

(2) “Akhir Masa Mudaku”

Pergi dari rumah tak pernah sesulit ini
separuh diriku masih ingin tinggal
sedangkan separuhnya lagi ingin pergi

Membuka pintu tak pernah seberat ini
mimpi-mimpi hari esok memaksanya terbuka
namun memori masa lalu masih menghalangi

Ragaku ini hanya bisa membeku
melihat kepergian diriku esok hari
sambil menyeberangi lautan ketidakpastian

Tembok dan lantai ini masih menyisakan
goresan-goresan fajar hidupku
jejak-jejak keingintahuanku

Sepertinya aku melupakan sesuatu yang penting,
sesuatu yang penuh keajaiban
yang biasanya selalu kubawa menyambangi kehidupan
namun waktu tak bisa kembali
sebaiknya kutinggal disini saja
karena aku tahu itu sudah berakhir
(Garut, 160215)

(3) “Dia yang Menatap ke luar Jendela”

Dia melihat keluar jendela
Entah apa yang ia lihat
matanya memancarkan kehampaan.

Sebelah tangan yang menyangga dagu
Sebelah lagi mengetuk ngetuk meja
seakan telah bosan dengan cerahnya matahari

Raganya ia tinggal disini
Jiwanya telah pergi entah kemana
Aku sendiri ingin tahu

Kemana jiwamu pergi ketika ragamu kau tinggalkan?
Apakah ke tempat sang kekasih?
Atau ke kampung halaman mu?

Wahai dia yang menatap keluar jendela
Apa gerangan yang ada di pikiranmu?
Siapa dia yang ada di hatimu?

Hatiku selalu bergumam demikian
setiap kali kulihat dia menatap keluar jendela
(Garut, 290515)