Lidya Da Vida, Anggota Majelis Hakim Pengadil Kasus Anak Gugat Ibu Kandung Rp 1,8 Miliar. Lembut di Luar, “Garang” di Persidangan

ADA yang menarik pada setiap pergelaran sidang kasus anak menggugat ibu kandung Rp 1,8 miliar di Pengadilan Negeri (PN) Garut. Ya, kehadiran sosok wanita muda yang duduk sebagai anggota majelis hakim pada persidangan tersebut.
Namanya Lidya Da Vida. Meski baru setahun bertugas di PN Garut, kehadirannya cukup menyedot perhatian para pengunjung persidangan. Bukan hanya karena paras cantiknya, sikapnya yang humanis membuat para kuli berita betah berlama-lama berbincang dengan wanita kelahiran Medan 33 tahun lalu ini.
Namun begitu di persidangan, wibawanya sebagai seorang pengadil kerap membuat para terdakwa ketar-ketir. Lidya, sapaan akrabnya, selalu bersikap tegas dalam menyikapi persidangan.
Ketika disinggung mengenai profesinya itu, Lidya mengaku enjoy. Selama delapan tahun bertugas, kata Lidya, memang banyak suka dukanya.
“Ya, yang pasti saya senang menjalani profesi ini. Di sini saya banyak melihat bagaimana perubahan seseorang dari yang buruk menjadi baik, di sini juga terkadang muncul naluri keibuan saya ketika menangani kasus tertentu,” kata Lidya kepada wartawan yang mewawancarainya usai persidangan.
Sebagai seorang hakim, kata Lidya, dirinya akan terus menjaga sikap profesionalisme dalam menangani setiap perkara. Begitu juga saat menangani kasus gugatan anak dan menantu yang menggugat ibu kandungnya sendiri. Kasus Yani Handoyo vs Amih yang kini ditanganinya.
“Yang pasti kami akan menjadi pengadil yang netral dan profesional, dalam semua kasus. Tak terkecuali kasus ini,” ungkapnya.
Menurut Lidya, sebagai seorang hakim dirinya tidak bisa berargumen terhadap suatu kasus.
“Saya nggak bisa berkomentar banyak mengenai kasus ini, hakim kan penengah, tidak boleh berpihak pada tergugat maupun penggugat,” katanya.
Lidya sendiri dipastikan kembali menjadi anggota majelis hakim pada persidangan kesembilan kasus gugatan perdata Yani-Handoyo terhadap Siti Rohaya (83) . Persidangan selanjutnya akan digelar di PN Garut, Kamis (13/4/17) mendatang. Agenda sidang, mendengarkan keterangan saksi-saksi dari kedua belah pihak. (Mempis/GE)***
Editor : SMS

Majelis Hakim akan Mempertemukan Amih, Yani, dan Handoyo pada Persidangan Kesembilan Kasus Anak Menggugat Ibu Kandung Rp 1,8 Miliar

GARUT, (GE).- Keluarga besar Siti Rohaya (83), ibu yang digugat Rp 1,8 miliar oleh anak kandung dan menantunya sendiri, menyambut gembira rencana majelis hakim yang akan mempertemukan kedua pihak bersengketa pada persidangan kesembilan, Kamis (13/4/17) mendatang.
Sebagaimana dikatakan Humas Pengadilan Negeri Garut, Endratno Rajamai, dalam persidangan majelis hakim meminta agar para prinsipal menghadiri persidangan. Majelis hakim menilai, hal tersebut merupakan suatu keharusan dalam upaya memediasi kedua belah pihak sebelum jatuhnya putusan pengadilan.
“Majelis akan panggil para prinsipal. Itu dimaksudkan agar masalah ini bisa selesai secara kekeluargaan lah, jangan sampai setelah nanti putusan pengadilan jatuh, keduanya menyesal,” ungkap Endratno kepada wartawan, Kamis (6/4/17).
Rencana tersebut disambut gembira keluarga besar Amih, sapaan akrab Siti Rohaya. Bahkan, Eep Rusdiana, anak kesebelas Amih yang selama ini bertindak sebagai juru bicara keluarga, mengatakan, pihaknya akan mengupayakan Amih bisa menghadiri persidangan . Meski, kata Eep, hingga saat ini Amih masih menderita sesak nafas dan kesulitan dalam berjalan.
“Kami menyambut baik yang disampaikan oleh majelis hakim. Itu juga adalah keinginan Amih yang ingin bertemu Yani dan Handoyo. Kami selalu berupaya maksimal untuk menjaga dan merawat ibu kami, agar bisa hadir dipersidangan. Saya berharap setelah Amih hadir nanti, masalah ini akan cepat selesai secara kekeluargaan,” jelas Eep saat dihubungi “GE”, Kamis (6/4/17) malam.
Pada sidang kedepalan, Kamis (6/4/17) siang tadi, kedua pihak tetap ingin melanjutkan perkara. Pihak penggugat bersikeras tidak mencabut tuntutannyakepada tergugat, Siti Rohaya dan Asep Rohendi. Pihak penggugat tetap menuntut Amih dan Asep membayar ganti rugi Rp 1,8 miliar. Begitu pula pihak tergugat. Asep Rohendi selaku tegugat dua mengatakan, dirinya siap membayar utang yang senilai Rp 20 juta yang ia pinjam dari Handoyo pada tahun 2001 lalu ditambah Rp 100 juta sebagai bentuk ganti rugi.
“Saya siap membayar Rp 120 juta kepada Bapak Handoyo. Saya ingin masalah ini cepat selesai,” ungkap Asep dalam persidangan.(Mempis/GE)***

Editor : SMS