Sulitnya Pengelolaan Kawasan Konservasi di Garut

GUNUNG Guntur dan Papandayan seluas 15.318 hektare yang merupakan kawasan konservasi terus mengalami deforestasi atu lerusakan. Kerusakan hutan itu terlihat dari alih fungsi lahan, serta menyusutnya vegetasi dan satwa di kawasan tersebut.

Program Manajer Consevation International Indonesia Anton Aryo mengatakan, kawasan konservasi Gunung Guntur dan Papandayan memerlukan perhatian serius semua pihak. Dia menilai pengelolaan kawasan konservasi belum optimal.

Dalam rencana strategis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, kata Anton, ditargetkan beroperasinya 100 unit Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK) nontaman nasional di seluruh Indonesia. Salah satu KPHK yang telah ditetapkan adalah KPHK Guntur-Papandayan.

Dia menjelaskan, penetapan KPHK Guntur-Papandayan seluas 15.318 hektare. Wilayahnya meliputi lima kawasan, yaitu Taman Wisata Alam Gunung Guntur (250 hektare), Taman Wisata Alam Gunung Papandayan (225 hektare), Cagar Alam Gunung Papandayan (6.807 hektare), Taman Wisata Alam Kawah Kamojang (500 hektare), dan Cagar Alam Kawah Kamojang (7.536 hektare).

Meskipun penetapan KPHK Guntur-Papandayan sejak 2013, hingga saat ini rencana operasionalnya masih dalam proses rencana pengelolaan. Menurut dia, pihaknya menerima banyak informasi adanya kerusakan habitat.
“Pengelolaan kawasan konservasi masih sulit dilakukan sehingga terus terjadi kerusakan habitat,” ucapnya, Minggu (5/6/2016).

Sayangnya, Anton mengaku belum mengantongi data kondisi kerusakan kawasan tersebut. Akan tetapi, dia akan memantau efektivitas pengelolaan KPHK Guntur-Papandayan.
“Harus ada giat riil. Dengan mendapat input dari berbagai pihak, kami ingjn mendukung upaya pengelolaan,” ucapnya.

Dia menargetkan untuk membuat program monitoring satwa liar dengan mencari data-data. Kemudian, memberikan pendidikan konservasi untuk meningkatkan peran serta masyarakat, di antaranya pemberdayaan lima desa di lima kawasan konservasi tersebut.

Direktur Yayasan Konservasi Elang Indonesia Gunawan mengatakan, pihaknya menemukan 22 jenis mamalia, tetapi hanya 15 jenis yang teridentifikasi. Delapan jenis termasuk dilindungi, empat di antaranya kritis dan terancam lantaran adanya rantai makanan yang hilang dalam ekosistem.

Dikatakannya, sebanyak 46 % vegetasi endemik yang tersisa, seperti pohon rosamala dan puspa. Sementara sisanya mengalami alih fungsi lahan berupa tanaman campuran yang ditanam masyarakat.

“Saya tidak bisa menyatakan hal ini disebabkan gunung yang gundul. Tapi, ada keterkaitannya sebab dulu kawasan Gunung Papandayan-Darajat-Kamojang-Guntur saling terhubung oleh hutan,” ucapnya.

Pimpinan Pondok Pesantren Ekologi Ath-Thariq, Kabupaten Garut, Ibang Lukmanuruddin, yang juga aktivis lingkungan menilai, terus terjadinya deforestasi kawasan tersebut lantaran kesalahan pengelolaan. Selama ini, pengelolaan yang dilakukan berbasis proposal bukan ideologis.

Selain itu, menurut dia, kurang pengontrolan terhadap kawasan dan pembinaan kepada masyarakat. “Ketika musim proposal, banyak kegiatan. Ketika tidak ada proposal, kegiatan pun tidak ada,” ucap pimpinan pontren berwawasan ekologi itu. (Tim GE)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI

Komentar

BAGIKAN