Sudah Bosan Minta Diperbaiki, Selesai Pilkada Warga Peundeuy Berharap Perbaikan Jalan Terealisasikan

Kondisi salah satu ruas jalan di kawasan Desa Pangrumasan, Kecamatan Peundeuy, Kabupaten Garut, tampak terjal.***

GARUT,(GE)- Infrastruktur jalan yang layak hingga saat ini masih menjadi angan-angan bagi warga di Kecamatan Peundeuy, Kabupaten Garut. Usai Pilkada serentak tahun (2018) warga Kecamatan Peundeuy dan sekitarnya kembali meminta bupati terpilih untuk memperbaiki ruas jalan utama di kawasan Peundeuy.

Seperti diketahui, Kecamatan Peundeuy merupakan salah satu kawasan di wilayah selatan Garut yang berbatasan dengan Kecamatan Cibalong – Singajaya. Kontur wilayah di Peundeuy berada di pegunungan. Jalan menanjak dan turunan tajam banyak dijumpai di Peundeuy.

Karakteristik jalan tersebut saat ini diperparah dengan kondisi yang rusak. Batu dan tanah membentang di jalan kabupaten. Bahkan, sebagian warga menyebutnya “sungai kering.”
Warga Desa Pangrumasan di Kecamatan Peundeuy sudah bosa dengan permintaan perbaikan jalan. Sejak tahun 2001, jalan di Peundeuy belum kunjung diperbaiki. Akibat jalan rusak, ongkos untuk menuju pasar di dekat kantor kecamatan menjadi mahal.


Jarak dari Pangrumasan menuju ke Desa Peundeuy sekitar delapan kilometer. Sepanjang enam kilometer harus melewati jalan rusak yang menanjak dan menurun. Warga yang akan menuju pasar harus membayar ongkos ojek sebesar Rp 35 ribu pulang pergi.

Tak ada angkutan desa di wilayah tersebut. Jika ingin pergi ke Garut atau Bandung, hanya ada masing-masing satu elf. Jadwal keberangkatannya pun hanya satu kali setiap harinya.

“Kalau yang ke Garut berangkat pagi. Elf ke Bandung siang. Ongkosnya Rp 35 ribu ke Garut dan Rp 50 ribu ke Bandung,” ucap Hani (34), warga Pangrumasan saat ditemui beberapa waktu lalu.

Jika elf penuh, penumpang khususnya laki-laki harus rela duduk di atas atap elf bersama barang bawaan. Bisa ada lima sampai sepuluh orang yang duduk di atas atap.

“Ongkosnya tetap sama. Mau duduk di dalam atau di atas. Soalnya kan cuma ada satu elf ke Garut dan satu ke Bandung. Kalau penuh kepaksa duduk di atas, mau gimana lagi,” katanya .

Jalan yang rusak membuat angkutan umum enggan menuju Pangrumasan. Kebanyakan angkutan umum hanya sampai ke Desa Toblong karena kondisi jalannya yang sudah bagus.

“Paling pergi dulu ke Toblong kalau ingin cepat dapat elf. Cuma ongkosnya jadi dua kali lipat karena harus bayar ojek,” ucapnya.

Hani meminta agar Pemkab Garut bisa segera memperbaiki jalan. Warga di Pangrumasan khususnya, sudah bosan dengan kondisi jalan yang rusak.

“Jalan bagus kan bisa lebih cepat kalau mau pergi ke pasar. Jaraknya sih dekat, tapi karena jalan rusak jadi lama. Dari rumah ke pasar saja bisa sampai satu jam. Padahal normalnya cuma 15 menit,” ujarnya.

Selain jalan rusak, warga Pangrumasan juga berharap sinyal telepon bisa segera masuk wilayahnya. Saat ini jika ingin menelepon, warga harus pergi ke Tanjakan Gedogan.
Di tanjakan itu, banyak warga terutama anak muda yang berkumpul mencari sinyal telepon. Lokasi perkampungan yang berada di balik gunung, membuat sinyal telepon sulit dijangkau. (Tim GE)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI