Soal Anak Memejahijaukan Ibu Kandung. Keluarga Menilai Gugatan Yani Salah Alamat

EEP Rusdiana saat menyampaikan penjelasan kepada wartawan usai persidangan, Kamis (23/3/17). (Farhan SN/GE)***

GARUT, (GE).- Gugatan Yani Suryani beserta suaminya, Handoyo Adianto, kepada Siti Rokayah (83), dinilai pihak keluarga salah alamat. Pasalnya, masalah utang-piutang itu seharusnya ditujukan kepada kakak Yani, Asep Ruhendi.

Juru bicara keluarga Siti Rokayah, Eef Rusdiana, mengatakan, permasalahan tersebut seharusnya ditujukan kepada Asep Ruhendi, anak Amih yang nomor enam. Eef menjelaskan, pada 2001 Asep meminjam uang kepada Handoyo dan Yani sebesar Rp 40 juta.

“Uang itu akan digunakan untuk melunasi kredit macet rumah Asep di salah satu bank sebesar Rp 40 juta. Yani memang menjanjikan memberi dana talangan,” kata Eef, Rabu (29/3/17).


Dana talangan itu, terang Eef, kemudian ditransfer oleh Yani kepada Asep sebesar Rp 21,5 juta. Sisanya akan diberikan berbarengan dengan membayar kredit macet dan membayar sertifikat.

“Jadi, Asep hanya merasa punya utang Rp 21,5 juta. Yang sisanya, Rp 20 juta lagi, tak pernah merasa menerima. Cuma Handoyo menyebut sudah memberikan secara tunai sebesar Rp 20 juta kepada Amih dan Asep,” ujarnya.

Jika pun Amih menerima uang tersebut, tutur Eef, pasti akan diingat. Uang sebesar Rp 200 ribu pemberian putri kesembilannya itu untuk ongkos pulang dari Jakarta saja masih diingat Amih hingga kini.

“Karena kalau merasa meminjamkan Rp 40 juta, sertifikatnya pasti ada di Yani. Intinya Yani lawan Asep, bukan Amih. Masalahnya, dari selisih itu yang harus diluruskan,” katanya.

Eef menilai, gugatan Handoyo dan Yani sebesar Rp 1,8 miliar merupakan hal yang di luar nalar. Dari informasi yang diterimanya, jika uang Rp 41,5 juta dikelola sendiri hingga kini atau dikali harga emas bisa menghasilkan Rp 640 juta. Sedangkan Rp 1,2 miliar merupakan tuntutan immaterial.

“Oktober 2016 Yani sembunyi-sembunyi datang ke rumah Leni, anak bungsu Amih. Di situ malah terjadi penandatanganan surat pengakuan utang Amih sebesar Rp 41,5 juta,” ucapnya.

Eef menerangkan, dirinya sudah berkali-kali mengupayakan mediasi. Namun upaya tersebut tak berhasil. Meski menghadapi gugatan, Amih tetap tegar dan tak perlihatkan rasa kesalnya.

“Tak pantas ibu kami diperlakukan seperti itu. Secara etika, miris,” ujarnya. (Farhan SN/GE)***

Editor : SMS

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI