Situs Batu Lulumpang Cimareme Terbengkalai

BANYURESMI,(GE). – Situs Batu Lulumpang di Kampung Cimareme, Desa Cimareme, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, terbengkalai. Padahal, peninggalan zaman megalitikum yang akrab disebut Situs Lulumpang itu merupakan bukti peradaban manusia di masa lalu.

Beberapa buah Batu Lulumpang ini terletak di bukit yang memiliki ketinggian 680 meter. Ukuran satu buah batu yang paling besar, lubang lumpang yang dimiliki berdiameter 27 cm, yakni dengan lebar batu berukuran 1,5 meter dan panjang 1,75 meter.

Juru Kunci Situs Pasir Lulumpang, Iin, 60, menyebut ada lima bongkah batu di situs tersebut. Ia menjelaskan, batu-batu itu disebut lulumpang oleh masyarakat sekitar karena memiliki lubang yang mirip dengan lubang lumpang (tempat menumbuk).

“Beberapa buah batu terletak pada kemiringan sekitar 45 derajat. Hanya ada dua buah batu yang terletak di tanah yang datar. Itu juga berada di puncak bukit,” tutur Iin.

Dari kelima buah Batu Lulumpang yang ada, satu diantaranya mengalami kerusakan. Iin sendiri mengaku tidak tahu penyebab kerusakan pada peninggalan zaman prasejarah tersebut.

“Saya sendiri tidak tahu kebenarannya, namun menurut cerita turun temurun dari orang tua, satu batu itu rusak karena dihancurkan seorang warga di waktu dulu,” katanya.

Lokasi sebuah batu yang mengalami kerusakan ini sendiri, kata Iin, terletak di bawah bukit. Iin menduga, rendahnya lokasi batu berada membuat orang yang tidak bertanggung mudah untuk merusaknya.

“Meski kejadiannya sudah lama, tetap saja di zaman sekarang, orang-orang banyak yang belum mengerti apa itu situs prasejarah. Mereka tidak tahu bahwa situs prasejarah harus dilestarikan. Padahal sebenarnya mereka harus ikut merawat, minimalnya tidak merusak,” ujarnya.

Situs Batu Lulumpang terletak di tepi sebelah timur laut Rawa Ranca Gabus. Rawa ini, kata dia, membentang di antara beberapa bukit, yaitu bukit Pasir Kiara , Pasir Tengah, Pasir Kolocer, Pasir Astaria, Pasir Luhur, Pasir Gantung, Pasir Tanjung, Pasir Malaka.

“Keseluruhan, undakan batu di Situs Bukit Pasir Lulumpang berjumlah 13 undakan. Pihak Balai Arkeologi Bandung pernah menjelaskan, tempat ini dikenal sebagai lokasi pemujaan orang-orang zaman prasejarah,” ungkapnya

Menurut Iin, sebagian masyarakat yang tidak mengerti, justru memercayai bila bukit ini memiliki aura mistis. Salah satu contoh, kata dia, pada waktu-waktu tertentu sejumlah warga dari kampung tetangga seperti Kampung Cibudug, Desa Sindang Sari, Kecamatan Leuwigoong, dan Curug, Desa Kayasari, Kecamatan Banyuresmi, selalu mendengar suara berbagai tabuhan dari bukit tersebut.

“Sudah sering warga dari kampung tetangga datang ke kampung kami untuk menanyakan dari mana sumber kegaduhan ini. Bila didengar arahnya dari mana, selalu terdengar dari arah bukit ini. Namun, ketika didatangi tidak ada. Percaya atau tidak, sebenarnya masih banyak lagi cerita yang berkembang di sini. Namun tetap saja, tempat ini merupakan sebuah kawasan peninggalan prasejarah,” bebernya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Garut Budi Gan Gan mengakui, bila pemerintah belum memerhatikan situs Batu Lulumpang. “Saya belum begitu dalam memperlajari situs Batu Lulumpang. Memang beberapa waktu lalu belum ada fokus ke sana,” ujar Budi.

Terkait penataan situs ini menjadi lokasi pariwisata, Budi menjelaskan pemerintah dihadapkan dengan kendala. Ia menjelaskan, penataan lokasi wisata baru bisa dilakukan jika tempat tersebut memiliki daya tarik.

“Cukup sulit menata lokasi itu (Situs Batu Lulumpang) untuk menjadi lokasi wisata yang lebih dari saat ini. Sebab lokasi wisata itu harus memiliki daya tarik. Bagaimanapun juga, wisatawan yang datang itu bisa melihat yang menarik. Kalau hanya melihat batu saja, memang akan sangat sulit. Namun kita lihat dulu nanti bagaimana,” tukasnya. (Tim GE)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI

Komentar

BAGIKAN