Situ Bagendit Dieksploitasi Hingga Memerah, Wargapun Marah-marah

Suasana audensi sejumlah ormas di gedung DPRD Garut, menuntut penghentian eksploitasi Situ Bagendit, Jumat (8/9/17)/ foto: Useu G Ramdhani.

GARUT, (GE).- Kegiatan eksploitasi yang dilakukan oleh PT. Banyuresmi Artha, dinilai akan mengancam kelestarian Situ Bagendit. Eksploitasi situ legendaris ini akhirnya menuai kecamatan sejumlah pihak.

Sebagai bentuk kekecewaannya terhadap ekspolitasi yang dilakukan PT. Banyuresmi Artha, puluhan warga yang tergabung dalam ormas semisal Gerakan Masyarakat Peduli Uang Rakyat (Gempur) serta Paguyuban Masyarakat Situ Bagendit dan Sekitarnya (Pamsibas) mendatangi degung DPRD Graut untuk menyampaikan aspirasinya.

Di dalam gedung dewan, puluhan warga menyampaikan aspirasi mereka kepada perwakilan dinas terkait dan anggota dewan yang hadir dalam acara audensi.


Terdapat beberapa poin yang menjadi tuntutan warga, diantaranya, pertama, warga ingin melihat surat izin eksploitasi Situ Bagendit oleh PT. Banyuresmi Artha. Dua, adanya permohonan agar anggota dewan bisa menghadirkan kepala BPMPT sebagai bentuk tanggung jawab dalam persoalan ini. Selanjutnya, warga ingin adanya bukti tertulis dari pihak pemerintah yang selama ini sudah bekerja sama dengan PT. Banyuresmi Artha dalam proyek normalisasi Situ Bagendit serta menghadirkan ketua DPRD Kabupaten Garut.

Tuntutan yang lainnya ialah harus ada teguran dari pihak DPRD terhadap kepala dinas yang terkait langsung salam pengelolaan situ bagendit. Yang paling dianggap penting, warga menuntut agar kegiatan eksploitasi yang mengancam kelestarian Situ Bagendit segera ditutup dan di hentikan dari segala aktivitasnya. Namun, jika tuntutan warga tidak diindahkan, maka warga mengancam akan menurunkan masa lebih banyak dan akan menutup proyek eksploitasi secara paksa.

Ketua Pamsibas, H. Soleh Prawira, mengatakan, sampai saat ini, PT.Banyuresmi Artha sudah melakukan pengeboran dasar Situ Bagendit sedalam 11 meter. Padahal dalam proyek normalisasi hanya diperbolehkan sedalam 6 meter. Dampak dari pengeboran itu, sudah bisa dilihat dengan kasat mata.

“Air Situ Bagendit kini sudah berwarna merah. Semua itu akibat dari pengeboran yang sudah melewati beberapa lapisan tanah seperti bebatuan, campuran tanah dan pasir, atau biasa disebut “Clay”. Sedangkan sudah memasuki kedalaman diatas angka 9,5 meter, maka sudah masuk dalam lapisan hamparan pasir. Apabila hamparan pasir yang berada di kedalaman Situ Bagendit diangkat, maka air di Situ Bagendit akan kering,” paparnya.

Soleh mangungkapkan, saat ini kegiatan eksploitasi Situ Bagendit oleh PT. Banyuresmi Artha sudah dalam tahap pengerukan pasir, dan itu sudah jelas sangat berbahaya. Bahkan , pasir-pasir tersebut kemungkinan akan dijual demi keuntungan pihak-pihak tertentu.

“Jika hal itu terus dibiarkan maka keberadaan Situ Bagendit akan berakhir. Oleh karena itu, kami atas nama warga Situ Bagendit dan sekitarnya meminta agar kegiatan eksploitasi segera di hentikan,” tandasnya, Jum’at (08/09/17).

Menanggapi tuntutan warga tersebut, ketua komisi B DPRD Kabupaten Garut, Drs. Dudeh Ruhiat M.Pd., menyatakan akan segera merekomendasikan penutupan sementara proyek tersebut kepada Satpol PP Garut. Seperti yang diketahui, hal itupun sudah pernah dilakukan Komisi B beberapa bulan ke belakang.

“Tetapi sampai saat ini ternyata belum dilakukan tindakan penutupan. Secepatnya kami akan merekomendasikan penutupan sementara kegiatan eksploitasi tersebut, kami ingin hari ini juga,” tandasnya. (Useu G Ramdani)***

Editor: Kang Cep

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI