Sidang Gugatan Anak Kandung terhadap Ibunya terus Berlanjut tanpa Dihadiri Pihak Penggugat dan Tergugat

SUASANA persidangan keenam anak menggugat ibu kandungnya sendiri di Ruang Sidang Pengadilan Negeri Garut, Kamis (23/3/17). (Farhan/GE)***

GARUT, (GE).- Gugatan anak kandung terhadap ibunya terus bergulir. Kamis (23/3/17) ini gelar persidangan keenam. Namun, dalam persidangan kali ini, tergugat dan penggugat urung hadir ke persidangan. Agenda menyampaikan duplik dari tergugat atas replik penggugat pada sidang, Kamis (16/3/2017) lalu.

Adapun tergugat dalam kasus ini adalah Siti Rokayah (83), warga Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Sementara penggugat adalah Yani Suryani, anak Siti Rokayah, beserta suaminya, Handoyo Adianto, warga Taman Pulogebang, Jakarta Timur.

Suami istri yang tidak lain anak dan menantu itu, menggugat Siti Rokayah atas utang senilai Rp1,8 miliar, dengan perincian Rp 640 juta dan immateril Rp1,2 miliar. Saat diklarifikasi, kuasa hukum penggugat, tidak bersedia memberikan penjelasan.


Dalam persidangan selanjutnya, akan dibahas terkait duplik penggugat. Rencananya sidang ke-7 digelar Kamis mendatang.

Jalannya sidang tak berlangsung lama, hanya sekira15 menit. Hakim meminta kuasa hukum kedua belah pihak untuk menyiapkan materi tertulis. Usai persidangan, pengacara penggugat enggan memberikan keterangan kepada media. Ia langsung meninggalkan ruang sidang dan tak mau memberikan keterangan sedikitpun.

“Ga bisa ya. Nanti aja liat hasilnya,” katanya sambil nyeloyor ke ruang sidang.

Sementara penggugat yang merupakan anak kandung dan menantu tergugat tak pernah menunjukkan batang hidungnya di tempat persidangan. Begitu pun dengan tergugat karena sudah udzur, pada persidangan tersebut tidak bisa hadir juga. Namun hampir seluruh anaknya turut hadir dalam jalannya persidangan.

Bertindak sebagai wakil tergugat, Eep Rusdiana (49), membeberkan permasalahan yang sebenarnya terjadi. Permasalahannya bermula di tahun 2001 lalu. Saat itu, Asep (anak keenam tergugat) meminjam uang sebesar Rp 40 juta. Namun, saat itu ia hanya diberi Rp 21,5 juta saja. Tetapi sekarang Yani dan Handoyo yang tak lain anak dan menantu Siti Rukoyah malah menggugat ibunya sendiri yang bertindak sebagai penjamin.

EEP Rusdiana saat menyampaikan penjelasan kepada wartawan usai persidangan, Kamis (23/3/17). (Farhan SN/GE)***

Eep Rusdiana yang juga anak kandung tergugat, mengaku kecewa atas gugatan yang dilakukan kakak kandungnya terhadap ibu kandungnya sendiri. Apalagi, pada awalnya yang persoalan utang-piutang ini terjadi antara penggugat yaitu Yani beserta suaminya, Handoyo Adianto, dengan saudara mereka Asep Ruhendi.

“Saya ingin meluruskan bahwa awalnya ibu saya tidak memiliki utang terhadap penggugat yang merupakan anak kandungnya juga. Masalah ini bermula ketika kakak saya yang juga anak kandung ibu saya, Asep Ruhendi mengalami kredit macet di Bank BRI Cabang Garut,” ujar Eep.

Dikatakannya, kredit macet yang dialami Asep Ruhendi itu jatuh tempo pada 31 Januari 2001 dengan nilai kurang lebih Rp 40 juta. Kemudian Handoyo Adianto yang merupakan ipar Asep Ruhendi, menawari bantuan pinjaman untuk melunasi utang tersebut.

Syaratnya adalah SHM tanah dan bangunan milik Siti Rokayah, ibu dari Asep Ruhendi, di Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, dibalikanamakan atas nama Handoyo Adianto. Menurut Eep, balik nama SHM ini saat itu mendapat penolakan oleh anggota keluarga yang lain.

Meski begitu, pada akhirnya, Handoyo tetap membantu membayarkan utang Asep Ruhendi. Teknis pemberian pinjamannya tidak secara rinci dituangkan dalam perjanjian yang hanya diketahui oleh orang tua mereka, Siti Rokayah, beserta kedua anaknya Asep dan Yani.

Dengan disampaikan secara lisan, yaitu sebesar 50 persen diberikan secara transfer dan sisanya disetorkan langsung oleh Yani, dengan tujuan agar SHM Siti Rokayah bisa disimpan Yani sebagai jaminan. Diungkapkan Eep, dalam perkembangannya, kakak iparnya tersebut hanya membayarkan transfer Rp 21,5 juta, sementara sisanya tak pernah dilunasi.

Sehingga akhirnya sisa hutang tersebut dilunasi oleh pihak keluarga. Itu pun dilakukan pada 6 Mei 2004, ke Bank BRI sebesar Rp 21,5 juta seperti yang tertera dalam tanda bukti setor ke bank. Sehingga dengan demikian utang Asep Ruhendi ke Handoyo hanya sebesar Rp 21,5 juta sesuai nilai transfer.

“Persoalan utang tersebut sempat mereda dan tak pernah dibahas selama bertahun-tahun. Hingga akhirnya, pada Oktober 2016 lalu, Yani datang dari Jakarta ke Garut membujuk ibu saya untuk menandatangani surat pengakuan berutang yang dibuat bersama suaminya,” katanya.

INILAH penampakan surat pengakuan berutang yang terpaksa ditandatangani tergugat agar anaknya tidak diceraikan sang suami. (Farhan SN/GE)***

Menurut penilaian Eep, surat pengakuan utang yang dibuat Yani dan suaminya itu penuh rekayasa. Mereka memaksa agar Siti Rokayah mau menandatangani surat pengakuan utang tersebut yang nilainya dalam surat itu sebesar Rp 41,5 juta. Padahal seperti diketahui, utang Asep Ruhendi ke Handoyo hanya setengahnya karena hanya mendapat transfer Rp 21,5 juta.

Menurut versi mereka, pinjaman sisanya telah dibayarkan secara tunai, sementara baik kakak dan ibu saya sama sekali tidak pernah menerimanya. Masih menurut Eep, di luar sepengetahuan keluarga, Siti Rokayah kemudian menandatangani surat pengakuan berutang tersebut, tanpa memahami dampak yang akan terjadi.

Menurut Eep, ibunya itu terpaksa mengakui memiliki utang karena dibujuk oleh Yani.

“Dari penjelasan ibu, ia merasa iba dan khawatir kepada Yani. Sebab bila surat pengakuan berutang itu tidak ditandatangani, maka Yani akan dicerai oleh suaminya. Bahkan saya dan seorang saudara yang lain harus turut menandatangani surat pengakuan berutang tertanggal 8 Oktober 2016 itu sebagai saksi. Kami semua pada akhirnya menandatangani, karena khawatir Yani dicerai. Namun belakangan, kami baru tahu jika niat menolong itu malah dimanfaatkan dengan adanya gugatan ini,” ucapnya.

Lebih jauh diungkapkan Eep, dalam surat berutang yang disiapkan Yani dan Handoyo tersebut, tertulis Siti Rokayah pada 6 Februari 2001 telah berutang senilai 501,5 gram emas murni, dan telah melewati batas waktu kewajiban pelunasan yang dijanjikan, yaitu dua tahun dari tanggal pemberian utang. Nilai utang saat itu adalah Rp 40.274.904, yang disepakati setara dengan harga emas murni pada 2001 silam sebesar Rp 80.200 per gram. Dalam gugatannya di pengadilan, tambahnya, Yani dan Handoyo menuntut kerugian materil nilai emas seberat 501,5 gram, yang dikonversikan dengan nilai saat ini adalah Rp 640.352.000, dan kerugian imateril sebesar Rp 1,2 miliar. Sehingga total yang dituntut itu kurang lebih mencapai Rp 1,8 miliar.

Hal ini tentu sangat mengagetkan. Bahkan pada awalnya seluruh anggota keluarga tak percaya hal itu akan dilakukan Yani terhadap ibu kandungnya sendiri. Yani sendiri merupakan anak keenam dari Siti Rokayah dari tiga belas bersaudara. (Farhan SN/GE)*** 

Editor : SMS

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI