Setahun Lebih tak bisa Melaut Nelayan di Cikelet Terpaksa Makan Singkong Liar

WAWAN Rahwan, warga Kampung Banyu Asin, Desa Pamalayan, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat, bersama tenagganya terpaksa menggali pohon singkong liar demi menghilangkan rasa lapar. Sejumlah warga setempat hanya makan nasi sekali dalam tiga hari karena mereka mengalami rawan daya beli.(Farhan SN/GE)***

RATUSAN nelayan di Desa Pamalayan, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat, harus menerima nasib memilukan. Satu tahun lebih mereka tak bisa melaut akibat cuaca buruk dan sepinya tangkapan ikan di sepanjang Pantai Garut Selatan.

Kini mereka harus bertahan hidup dengan bekerja serabutan. Bahkan, untuk sekadar mengganjal perut dari serangan rasa lapar, mereka harus rela makan singkong liar yang tumbuh di pagar-pagar kebun warga sekitar.

“Sudah tiga bulan keluarga saya makan nasi hanya satu kali dalam tiga hari. Apalagi yang harus diperbuat. Saya sudah malu ngutang ke tetangga,” ujar Wawan Rahwan (46) kepada “GE”, belum lama ini.


Wawan mengaku, ia bersama 600 orang nelayan lainnya yang ada di Kampung Banyuasih, Desa Pamalayan, Kecamatan Cikelet, sudah setahun lebih tak bisa melaut. Selain faktor cuaca buruk, tangkapan ikan pun sedang sulit.

“Kalau dipaksakan melaut tentunya bisa membahayakan nyawa. Saya pernah memaksa melaut namun ikannya tak ada. Jadi saya rugi,” kata Wawan.

Ayah tiga anak itu mengaku, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya kini ia bekerja serabutan di kebun-kebun warga. Namun pekerjaan itu tak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Apalagi ia memiliki tiga anak yang masih sekolah.

“Namanya juga kerja serabutan, tentunya kadang ada, kadang tiada. Kalau ada yang nyuruh baru kami bisa makan nasi. Kalau tidak, ya terpaksa saya mencari makan seadanya. Sekadar untuk mengganjal perut yang kosong,” ujar Wawan yang ditemui “GE” saat mencari singkong di liar di pagar-pagar kebun milik warga.

Wawan mengaku, dirinya dan beberapa warga sempat datang ke desa untuk meminta bantuan. Namun, sampai sekarang belum juga terealisasi. Padahal, ia hanya berharap ada bantuan sembako untuk menyambung hidup mereka selama musim paceklik seperti sekarang.

“Tolonglah pemerintah bisa peduli kepada kami. Entah pada siapa lagi saya harus mengadu,” keluhnya.

TAK ada nasi, singkong pun dilalap. Begitulah nasib sejumlah nelayan di Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat, yang sudah setahun lebih mengalami rawan daya beli dan belum mendapat bantuan dari pemerintah setempat. (Farhan SN/GE)***

Nelayan lainnya, Adang (45), mengaku nasib nelayan saat ini sedang terpuruk. Ia berharap pemerintah dapat memberikan pencaharian baru bagi para nelayan. Menurutnya, nasib nelayan saat ini terkatung-katung akibat buruknya cuaca dan sulitnya tangkapan ikan.

“Saya harap pemerintah dapat meluncurkan program rawan pangan bagi nelayan di Cikelet sekarang. Jika dalam beberapa hari ke depan kondisi ini dibiarkan, tentunya akan semakin membuat sulit kehidupan para nelayan,” ungkap Adang.

Menurut Adang, program bagi nelayan yang selama ini diluncurkan pemerintah belum menyentuh kebutuhan prinsif para nelayan. Pasalnya, bantuan selama ini hanya perahu. Sementara jika saat musim seperti ini tentunya tak bantuan itu tak akan menolong apa-apa.

Ia berharap, bantuan pemerintah harus bersifat pemberdayaan ekonomi yang bisa membantu para nelayan saat sulit tangkapan ikan. Sehingga saat sulit seperti sekarang, nelayan tak perlu lagi makan singkong liar. (Farhan SN)***

Editor : SMS

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI