Serda Romli, Sang Prajurit Pendidik

SERDA Romli bersama keluarga. (foto: Istimewa)***

KESIBUKAN tugasnya di dunia militer sebagai anggota Koramil 1119 Pameungpeuk, tidak menjadi halangan bagi Serda Romli untuk berkiprah di dunia pendidikan. Di sela aktivitas pokoknya, ia masih sempat mengelola Yayasan Al-Mas’udiyah dan menjadi Kepala MI Al-Wasilah, di Kampung Nangela RT 04 RW 01, Desa Karangsari Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Yayasan yang didirikannya tahun 2002 itu menaungi pendidikan anak usia dini (PAUD), madrasah ibtidaiyah (MI) dan masrasah tsanawiyah (MTs) Al-Wasilah. Saat ini lembaganya eksis membina 198 orang siswa, terdiri 24 siswa PAUD, 123 MI, dan 51 siswa MTs. Selama ini para siswa mengikuti kegiatan belajar di bangunan Pesantren Al-Wasilah, dan 3 lokal bangunan lainnya hasil swadaya yayasan dan masyarakat yang didirikan di atas tanah wakaf keluarga Serda Romli sendiri.

Langkah tersebut dilakukan suami Linlin Setiani ini sebagai wujud keterpanggilan jiwa seorang prajurit sejati dalam ikut serta menyukseskan pendidikan dasar berbasis agama Islam di wilayahnya.


“Menyadari tinggal di daerah terpencil dengan letak wilayah yang jauh dari sarana pendidikan, saya terpanggil untuk mendirikan yayasan pendidikan,” ujar ayah darii empat orang anak, yakni Dila Puspita Ramadanti, Romi Agustin, Jingga Desnawati, dan Salma Kania Pebriani ini

Sebagai konsekwensi aktivitas yang dijalaninya, Serda Romli marus piawai membagi waktu, pikiran, tenaga, dan materi. Terlebih, dirinya mendapat tugas membina desa, yakni sebagai Babinsa Desa Mandalakasih Kecamatan Pameungpeuk. Namun semuanya dapat dijalani pria kelahiran Garut, 14 Mei 1967 itu dengan baik. Tiada lain, itu berkat dukungan atasannya, Danramil 1119 Pameungpeuk, Kapten ARM Darso, serta restu dari Dandim 0611 Garut, Letkol ARM Setyo Hani Susanto, S.Ip.

“Dalam menjalankan aktivitas selalu berkoordinasi dengan pimpinan, Alhamdulilah bisa berjalan dengan baik berkat restu dan arahan beliau,” tuturnya.

Sebelumnya, masyarakat setempat yang ingin menyekolahkan anaknya ke PAUD dan MI, harus rela menyaksikan kepergian anaknya menuntut ilmu dengan menelusuri jalanan terjal sejauh 3 km. Terlebih untuk melanjutkan ke  MTs, mereka harus melewati jalanan rusak menuju desa tetangga, Desa Linggamanik dengan jarak tempuh sekira 8 km. Selain itu,  juga harus ekstra hati-hati menaiki jembatan rawayan melewati derasnya Sungai Cipasarangan sepanjang 25 meter  dengan kayu penyangga banyak yang lapuk.

Namun, diakui Serda Romli, lembaga pendidikan yang didirikannya masih membutuhkan kelengkapan sarana prasarana. Untuk itu, dengan segenap kemampuan ia bertekad mewujudkannya.

“Seiring berjalannya waktu, melalui lembaga terkait  di berbagai kesempatan, kami berupaya menempuh segala prosedur untuk memenuhi kekurangan sarana prasarana pendidikan,” cetusnya.

Ternyata, sepak terjang tentara yang meniti karier militer sejak tahun 1987 ini di dunia pendidikan bukan yang pertama. Selama 12 tahun ia sempat menjadi guru  Penjaskes di Mts dan MA Al-Falah Desa Linggamanik dan di MTs. Al-Khoeriah Desa Ciroyom. Kini eksis pula membina Paskibra dan LDDK SMAN 5 Garut.

Tugas kemiliteran Serda Romli sendiri dimulai di Batalion Infanteri 310 Brigif 15 Kujang Sukabumi. Kemudian dipindahtugaskan ke  Kodam III Siliwangi, lalu Korem 062 Tarumanagara Setelah itu ke Kodim 0611 Garut, dan sekarang ia bertugas di Koramil 1120 Cikelet dan Koramil 1119 Pameungpeuk. (Roy/GE)***

Editor : SMS

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI