Seorang Ibu Tua di Garut Diseret ke Penjara oleh Anak Kandungnya, Gara-gara ini Masalahnya

GARUT, (GE).- Hati siapa yang tak hancur ? Anak yang dulu ia besarkan malah menyeretnya ke dalam jeruji penjara. Padahal persoalannya bisa diselesaikan secara kekeluargaan.

Permasalahannya bermula, di tahun 2001 seorang ibu berinisial AA (81) meminjam sejumlah uang kepada anak kandungnya. Setelah 16 tahun kemudian, masalah utang piutang tersebut masih belum selesai. Meski AA telah berusaha untuk nyicil.

Kini utang itu, jumlahnya semakin berlipat. Bahkan anaknya meminta dengan jumlah seratus kali dari jumlah uang yang dipinjam AA. Karena AA tak mampu bayar akhirnya AA diseret ke teralis penjara. Sekarang kasus ini sedang disidangkan di Pengadilan Negeri Garut.


Kuasa hukum tergugat, Djohan Djauhari, mengatakan masalah tersebut sebenarnya sudah dimediasi saat persidangan. Namun penggugat yang merupakan anak kandung tergugat tetap ingin melanjutkan persidangan.

“Sekarang sudah sidang keempat. Harusnya sekarang (kemarin) sidang lagi dengan agenda mendengar bantahan dari tergugat. Tapi karena penggugat tak hadir jadi ditunda,” ucap Djohan di Pengadilan Negeri Garut, Kamis (2/3/2017).

Perkara perdata itu, tutur Djohan, sebenarnya bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Apalagi usia tergugat sudah tua untuk menjalani persidangan.

“Kami inginnya ini bisa diselesaikan dengan musyawarah. Bukannya di persidangan. Tapi semua tergantung penggugat,” katanya.

Saat ditanya jumlah hutang dari AA kepada anaknya, Djohan enggan membeberkan. Namun jumlah uang yang minta dikembalikan dinilai sudah berlebihan.

“Saya tidak bisa membeberkan lebih jauh masalahnya dan jumlah hutangnya secara pasti. Nanti saja bisa minta ke panitera,” ucapnya.

Sebagai kuasa hukum, Djohan mengaku sangat prihatin dan miris dengan kasus yang menimpa kliennya. Seharusnya kasus tersebut tak dibawa hingga ke meja hijau.

“Ada keterharuan dengan kasus ini. Seorang anak menggugat seorang ibu kandungnya sendiri menurut saya tidak elok,” katanya.

Sementara itu, Panitera Muda Perdata sendiri tidak bisa membuka data dari penggugat dan tergugat karena harus memiliki izin dari Ketua Pengadilan Negri.

“Saya tidak bisa membuka data kasus atau perkara, harus ada izin dari ketua pengadilan,” katanya sambil berlalu meninggalkan awak media.

Kasus perdata utang piutang anak dan ibu sudah berlangsung untuk ke empat kalinya. Persidangan akan kembali dilakikan pada 16 Maret. (Farhan SN)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI