Sempat Kerahkan Preman, Perseteruan Koni Vs Kadispora Semakin Memanas

GARUT, (GE).- Hubungan pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dengan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) di Garut semakin tak harmonis. Perang pernyataan di media massa kerap terlontar dari orang nomor satu di kedua institusi tersebut.

Sebenarnya permasalahan ini, sudah muncul sejak penyelenggaraan Pekan Olahraga Kabupaten (Porkab) akhir Tahun 2016 lalu. Bukannya mereda, tensi perseteruan kedua institusi tersebut malah semakin menjadi-jadi.

Puncaknya, terjadi pada Kamis (26/1/2017), saat pengurus Koni melakukan audensi ke DPRD Garut. Tiba-tiba datang sekelompok massa dengan memasang wajah tak ramah memenuhi ruangan yang digunakan audensi oleh Koni.


Menanggapi perlakuan tersebut, pihaknya kecewa dengan pihak Dispora manakala KONI dan masyarakat olahraga akan melakukan audensi dengan DPRD Garut yang juga dihadiri Kepala Dispora, Kuswendi. Pasalnya saat akan beraudensi pada Kamis (26/1/2017), terdapat sekelompok massa yang sudah berkumpul di ruang paripurna DPRD Garut.

Adanya kelompok massa tersebut, dinilai Ato membuat situasi tak kondusif. KONI pun memilih untuk mundur saat audensi akan dilakukan. Padahal dalam audensi itu, Ato ingin menyampaikan sejumlah permasalah olahraga dan rencana untuk peningkatan olahraga di Kabupaten Garut menjelang Porprov 2018.

“Kenyataan di lapangan malah ada massa yang lain yang seolah-olah akan diadukan dengan kami. Tujuan KONI itu bukan untuk mendiskreditkan satu institusi atau pejabat. Kami hanya ingin menyampaikan aspirasi para insan olahraga saja. Jangan libatkan preman dalam urusan seperti ini,” ucap Ato.

Ato menambahkan, pembangunan GOR beladiri harus segera dievaluasi oleh Bupati Garut. Apalagi Bupati memiliki keinginan untuk mewujudkan megaproyek olahraga di Kabupaten Garut dengan membangun sarana olahraga. Pihaknya menganggap ada kesalahpahaman yang terjadi antara KONI dan Dispora.

Kepala Dispora Kabupaten Garut, Kuswendi, menuturkan berbagai tuduhan yang dilontarkan kepada pihaknya dinilai tak ada yang benar. Pasalnya semua proses pembangunan yang dilakukan sudah sesuai dengan prosedur.

“Sebelum pembangunan dilakukan mereka diam. Tapi setelah dibangun ramai. Apa maunya sebenarnya itu. Malah bangunan ini (GOR beladiri) disebut seperti kandang ayam dan gudang,” ujar Kuswendi.

Kuswendi meminta semua pihak yang menyudutkan pembangunan GOR beladiri untuk melihat langsung bangunan yang sudah ada tersebut. Fasilitas yang ada di dalam GOR, disebut Kuswendi sudah sangat layak digunakan. Bahkan barang-barang yang ada di dalam GOR diimpor dari luar negeri demi kenyamanan para atlet yang akan menggunakan.

“Nanti kan ada investigasi juga dari inspektorat atau BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) jika tidak sesuai. Kami minta objektivitas ditonjolkan,” katanya. (Farhan SN)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI