Santri di Garut Dianiaya Orang tak Dikenal, Begini Peristiwa Sebenarnya

SEJUMLAH ulama dan Kapolres Garut berfoto bersama di halaman Mapolres usai berdialog terkait penganiayaan santri, Rabu (7/1/18).

GARUT, (GE).- Penganiayaan seorang santri di Garut oleh orang tak dikenal menjadi viral di media sosial. Kasus ini, tak ayal membuat geram sejumlah Ormas Islam dan membuat konstalasi keamanan di Garut memanas. Apalagi, dalam waktu dekat di Kabupaten Garut akan menyelenggarakan Pilkada jadi permasalahannya meluas ke mana-mana.

Menanggapi persoalan ini, jajaran Polres Garut tak tinggal diam. Pascakejadian, Polisi langsung menggelar prarekontruksi. Akhirnya Polisi menemukan ada kejanggalan dalam kasus penganiayaan santri ini.

Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna, mengatakan kasus penganiayaan seorang santri di Garut yang mengaku dianiaya oleh enam orang tak dikenal ini ternyata bohong. Polisi menjelaskan penganiayaan tersebut tidak pernah terjadi.


“Setelah kami lakukan pendalaman, kaitan dengan kejadian ini ternyata tidak benar adanya. Dipastikan kasus pengeryokan ini tidak pernah terjadi,” ungkap Kapolres kepada wartawan di Kantornya Jalan Sudirman, Karangpawitan, Rabu (7/2/18) siang.

Kebohongan informasi tersebut terungkap setelah Polisi memeriksa santri Pondok Pesantren Al-Futuhat yang mengaku menjadi korban penganiayaan berinisial Abd alias Uloh (24). Uloh mengaku jika dirinya tidak dianiaya.

Budi mengatakan pihaknya memastikan bahwa pengeroyokan tersebut tidak terjadi. Selain meminta keterangan Uloh dan sejumlah ustaz di ponpes Al-Futuhat, Polisi juga memeriksa sejumlah saksi kunci lainnya dari pihak keluarga Uloh.

“Jadi Uloh ini, mohon maaf, memiliki keterbatasan dalam berbicara. Jadi pas menyampaikan info ini, ditangkap oleh pihak pesantren dia jadi korban pengeroyokan,” katanya.

Budi menyatakan tidak ada rekayasa apapun dalam kasus ini. Disampaikan Budi, kejadian ini murni kesalahan penyampaian dari Uloh kepada pihak pesantren.

“Ini human error. Yang pasti kejadian tersebut tidak pernah terjadi,” pungkas Budi.

Saat ini pihak kepolisian tengah meminta keterangan pimpinan Ponpes Al-Futuhat Ustaz Ahmad Syatibi yang merupakan orang yang pertama mengunggah postingan dugaan penganiayaan itu ke Facebook.

Sementara itu, Pimpinan Ponpes Al-Futuhat, Ahmad Syatibi membenarkan keterangan yang diungkapkan Kapolres Garut. Menurutnya, saat itu dirinya panik melihat santrinya dianiaya.

“Waktu itu, santri saya nampak gugup. Saat ditanya pun bicaranya tak jelas,” akunya.

Agar peristiwa itu tak menimpa, santri dan ulama lain, ia langsung mengunggah kelaman facebook miliknya. Namun setelah santri itu tenang, ternyata penganiayaan terhadap santri itu hanya persoalan pribadi dirinya. Tak ada sangkut paut dengan pesantren atau ulama.

“Jadi saya mohon maaf kalau potingan itu, meresahkan warga. Saya tak ada niatan apa-apa selain kehawatiran saya agar kasus penganiayaan terhadap santri dan ulama tak terjadi di Garut,” pungkasnya. (Farhan SN)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI