Sambangi Desa Cisitu, Wabup Garut Tunggangi Singa Lembur Muncang

Wabup Garut, Helmi Budiman, disambut seni Sisingaan, saat mengnjungi Desa Cisitu, Kecamatan Maangbong, Garut, Minggu (3/9/17)/ foto: TAF Senopati/ GE.***

GARUT, ( GE ).-  Masih dalam rangkaian HUT RI ke 72, atraksi sisingaan  turut meriahkan helaran pesta rakyat di Desa Cisitu, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Minggu (3/9/17). Sejumlah kegiatan yang digelar di Desa Cisitu diantaranya beragam lomba khas Agustusan, karnaval budaya , hingga jalan sehat bersama wakil bupati Garut.

Selain  wakil Bupati Garut, Helmi Budiman, pada kegiatan di Desa Cistu juga dihadiri  anggota DPRD Garut, Enan, Karnoto serta Camat Malangbong Teten Sundara.  Dalam prosesi penyambutan, para tamu diarak kelompok kesenian Sisingaan asal Lembur Muncang Cisitu pimpinnan Uci Sanusi.

Paguyuban seniman Sisingaan yang diberi nama Tri Sanghyang Putra Buana  merupakan kelompok seni legendaris asal  Kampung Lembur Muncang, tak jauh dari kawasan kaki gunung Cakrabuana. Menurut warga sekitar, Anan adalah warga  Kampung Legok 1, Desa Mekarasih yang berjasa mengembangkan kesenian asal subang ke daerah Malangbong Utara.


Dalam perkembangannya, seni Sisingaan ini konon bermula saat Anan seperti mendapatkan bisikan gaib  sehingga memberikan sisingaannya ke Kampung Sender, Desa Cisitu. Saat ini Sisingaan dikembangkan oleh tokoh seni asal Kampung Lembur Muncang , Uci Sanusi.

Dibawah asuhan Uci Sanusi, kini seni Sisingaan berkembang pesat di Malangbong.  Camat Malangbong Teten Sundara mengapresiasi  keberadaan kesenian Sisingaan. Sementara itu, Kepala Desa Cisitu, Saiful Malik mengatakan, seni Sisingaan biasa digunakan untuk menyambut tamu tamu agung dari kota. Salah satunya saat menyambut kehadiran Wakil Bupati Garut.

Pimpinan paguyuban Sisingaan Tri Sanghyang  Putra Buana, Uci Sanusi menjelaskan,  semi Sisingaan merupakan salah satu jenis seni pertunjukan rakyat Jawa Barat, khas Subang berupa keterampilan memainkan tandu patung singa yang didekorasi berwarna-warni dan diusung oleh beberapa orang.

“Sisingaan sering disajikan sebagai bagian dari upacara sunatan atau upacara lainnya dalam bentuk arak-arakan. Biasanya ditampilkan dalam dua bentuk yang berbeda,” kata Uci.

Dalam melakukan akasinya, atraksi Sisingaan tampak berputar-putar, maju mundur dan bergerak terus mengelilingi kampung, desa, atau jalanan kota sampai akhirnya kembali ke tempat semula. Pertunjukannya dimulai dengan tetabuhan musik yang dinamis. Lalu diikuti oleh permainan Sisingaan oleh para penari.

Uci menjelaskan, seni Sisisngaan dalam aksinya menggunakan sejumlah gerakan khas dan khusus, diantaranya  Pasang/ Kuda-kuda, Bangkaret, Masang /Ancang-ancang, Gugulingan, Sepakan dua, Langkah mundur, Kael, Mincid, Ewag, Jeblag, Putar Taktak, Gendong Singa, Nanggeuy Singa, Angkat jungjung, Ngolecer, Lambang, Pasagi Tilu, Melak cau, Nincak rancatan, dan Kakapalan.

“Gerakan-gerakannya semacam jurus-jurus silat  dipadukan dengan gerakan jaipongan, tarian khas Jawa Barat.  Atraksi Sisingan memadukan tiga unsur seni utama. Yaitu seni gerak tari atau pencak silat dan jaipongan,” ungka Uci. ( TAF Senopati) ***

Editor: Kang Cep.

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI