Rocker juga Manusia, “Ngayekyek” Melihat Kuntilanak

    Ilustrai.Net.

    “ROCKER juga manusia…”

    Itulah salah satu penggalan lirik lagu “Rocker juga Manusia” yang dipopulerkan Candil Seurieus Band. Bisa bersikap garang di panggung, tetapi tetap “ngayekyek” (ketakutan/red)  saat melihat penampakkan makhluk astral kuntilanak. Setidaknya itu yang diakui rocker gaek asal Kabupaten Garut, Jawa Barat, Deni Kumrun.

    “Udah ah, jangan nanya soal itu. Suka kebayang  terus. Iyyy… serem!” ungkap Deni kepada “GE” saat mengisi acara hiburan jalan sehat, di Lapangan Makorem 062/Tn, Minggu (19/3/17).


    Namun, setelah dipancing, akhirnya rocker bersuara tenor ini mau juga bercerita tentang pengalamannya ditemui kuntilanak. Kejadiannya, terang Deni, belum lama. Malam Jumat atau Kamis malam (2/3/17) lalu.

    Deni Kumrun.***

    Ketika itu, Deni, Iyang, dan dua orang temannya bermaksud mengunjungi seseorang di Kecamatan Cisewu, Garut Selatan, untuk mengambil batu cincin. Mereka berempat menggunakan kendaraan minibus. Deni dan Iyang – sang bassis Hard Flower, duduk di jok bagian belakang. Sementara satu temannya duduk di kursi depan, dan yang lainnya menjadi sopir.

    “Dari Garut (Garut Kota/red), kita berangkat sore. Jadi pas nyampe di Pameungpeuk sudah malam,” kata vokalis Hard Flower Band ini.

    Sebelumnya, lanjut pengagum Iwan Fals ini, dirinya tidak mendapat firasat apa-apa. Terlebih selama perjalanan Garut-Pameungpeuk lancar-lancar saja. Tidak ada gangguan apa pun. Begitu juga saat memasuki kawasan Jalan Lintas Selatan, mereka tidak menemui sesuatu yang ganjil. Tiupan mangin barat membalut deburan ombak sepanjang Pantai Laut Selatan, mereka nikmati seakan dentuman musik rock yang merdu.

    Perjalanan pun berlanjut. Dari  Kecamatan Pameungpeuk menuju Cisewu, mereka harus melewati Kecamatan Cikelet dan Mekarmukti. Sampai di bilangan portal Perkebunan Condong, mereka masih asyik mengobrol bersenda gurau. Hanya saja, kondisi kiri kanan jalan tampak sangat gelap. Soalnya di sepanjang jalur tersebut tidak ada lampu penerangan jalan umum (PJU).

    Sesaat kemudian mereka mulai masuk ke daerah Cijayana. Begitu melewati jalanan yang nenurun cukup tajam, laju kendaraan terpaksa diperlambat. Masalahnya kondisi jalan tidak begitu baik, banyak lubang. Apalagi di ujung turunan mereka langsung harus melintasi Jembatan Cijayana.

    Sebelum memasuki jembatan, lampu kendaraan yang mereka tumpangi sempat meyorot sebuah benda putih berdiri di pinggir jembatan. Mereka fikir tadinya itu tembok jembatan. Tetapi setelah kendaraan semakin mendekat, ternyata yang berdiri itu seperti seorang perempuan.

    “Tadinya saya fikir, ah paling warga di sana yang mau nyebrang. Apalagi selama ini saya tidak percaya kepada hal-hal yang berbau mistik. Tetapi saya segera menyadari, saat itu sudah larut malam. Malam Jumat, lagi!” terang Deni.

    Benar saja. Saat kendaraan melintas di depan orang tersebut. Tampak sekali sosok mahluk yang sangat menyeramkan. Begitu kendaraan mereka semakin dekat, sosok mahluk tebalut kain putih dengan rambut panjang itu langsung terbang ke arah tebing di samping jembatan, lalu menghilang di kegelapan malam.

    “Kami semua langsung kaget. Tubuh kami gemetaran dan spontan sama-sama berteriak : Kuntiiii!!!” kenang Deni sambil “ngabirigidig”.

    Tanpa dikomando, sang sopir pun langsung tancap gas. Tak peduli jalanan penuh lobang, kendaraan dipacu sangat kencang menuju arah Rancabuaya.

    “Bener, saat itu saya baru percaya, yang namanya kuntilanak itu maemang ada!” pungkas Deni seraya menggeleng-gelengkan kepala. (Sony MS/GE)***

    TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI