Rimbunnya “Pohon Geulis” di SMPN 1 Pangatikan

POHON Geulis yang tumbuh rimbun di SMPN 1 Pangatikan bukanlah pohon sembarangan yang biasa tumbuh di alam. “Pohon Geulis” di sekolah ini adalah sebuah pohon ilustrasi simbol informasi identitas dan jumlah buku yang telah selesai dibaca oleh para siswa.

Selain sebagai upaya menumbuhkembangkan budaya baca dan kemampuan literasi secara umum, ilustrasi Pohon Geulis ini juga menggambarkan program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) membaca 15 menit sebelum melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM). Saat ini Program West Java Leader’s Reading Challenge (WJLRC) tengah dikembangkan di Provinsi Jawa barat. Salah satu buktinya, di sekolah tersebut setiap kelas “sudah tumbuh dedaunan pada ranting-ranting Pohon Geulis.”

Ilustrasi Pohon Geulis di SMPN 1 Pangatikan, Kabupaten Garut ini dibuat sedemikian rupa oleh para siswa, sehingga tampak menarik. Lalu dipajangnya di dinding kelas, atau ditempel di dinding kelas. Sekilas, ilustrasi Pohon Geulis yang sedikit daunnya, atau berdaun rimbun, seolah hanya hiasan dinding. Padahal, gambaran rimbunnya dedaunan dan ranting-ranting pohon itu adalah lambang seorang siswa yang telah selesai membaca sejumlah buku.

Kepala SMPN 1 Pangatikan, Jijim, S.Pd.,M.Pd mengatkan, sebenarnya program WJLRC, di SMPN 1 Pangatikan telah disosialisasikan pada awal September tahun 2016 lalu oleh Drs. H. Amus Suryaman, MPd selaku kepala sekolah. Program tersebut akan digulirkan sampai Juni 2017.

“Kini kami terus mem-follow up-nya, Alhamdulillah di SMPN 1 Pangatikan, Program WJLRC terus meningkat. Di setiap ruangan kelas sudah ada Pohon Geulis. Bahkan dalam program ini sudah terbentuk komunitas membaca gabungan dari kelas 7, 8 dan 9 yang terdiri 5 orang per kelasnya.

Sewaktu Pak H. Amus, total komunitas WJLRC itu baru 5 orang. Sekarang sudah mencapai 11 siswa yang rutin mengikuti program ini. Mereka telah membuat satu ilustrasi Pohon Geulis yang terpangpang di dinding depan Labotorium. Pada bagian pohon itu terdiri dari ranting-ranting pohon. Setiap ranting dicantumkan nama-nama siswa dari komunitas tersebut.” Urainya.

Dijelaskannya, target dari Program WJLRC sendiri hanya 10 bulan, terhitung dari September 2016 hingga Juni 2017, para siswa harus selesai membaca 24 buku. Meski demikian, ternyata di sekolah ini sudah ada siswa dari komunitas WJLRC yang telah selesai membaca 40 buku dengan jumlah halaman minimal 120 halaman.

“Hal itu bisa dilihat pada ilustrasi Pohon Geulis di SMPN 1 Pangatikan yang menempel pada dingding depan Labotorium sekolah kami,” ujarnya .

Dengan adanya Pohon Geulis, para pelaksana teknis pendidikan, maupun orang tua murid bisa mengetahui produktivitas siswa dalam membaca. Pada dedaunan tersebut tercantum, antara lain judul buku, dan Pengarangnya.

“Makanya para orangtua harus mendukungnya dengan membeli buku bacaan untuk anak-anaknya,” kata tukasnya.

Dikatakannya, Pada program WJLRC itu, selain adanya Pohon Geulis, juga setiap seminggu sekali ada agenda konsultasi antara siswa dengan guru pembimbing. Sebulan sekali ada kegiatan membaca bersama dengan nama Readathon. Kemudian setiap bulannya ada jadwal diskusi, presentasi, dan bedah buku.

Kegiatan presentasi dan bedah buku sendiri bertujuan untuk meyakinkan apakah siswa itu benar-benar membaca, atau tidak? Dengan demikian, diharapkan siswa bisa menguasai dan memahami buku buku yang telah dibacanya.

Di SMPN 1 Pangatikan saat ini sedang diprogramkan metode “AIH,” yakni ‘A’ mengandung makna Apa yang menjadi Alasan membeli buku ini? ‘I’ mengandung arti Apa Isi dari buku itu? Sedangkan H, sama dengan Apa Hikmah dari buku tersebut.

“Apabila Siswa itu benar-benar telah membaca buku yang dibacanya, maka pihak sekolah akan memberikan apresiasi. Sementara ini untuk apresiasinya hanya berupa piagam penghargaan,” jelasnya.

Dikatakannya, pihaknya saat ini telah menyediakan 80 eksemplar buka bacaan untuk para siswa. Harapannya orang tua murid pun bisa membelikan buku bacaan untuk anak-anaknya. Di SMPN 1 Pangatikan ada 32 per rombongan belajar (rombel) mereka masing masing memiliki buku bacaan dengan substansinya yang berbeda.

Otomatis mereka akan saling tukar membacanya. Maka setiap siswa yang tadinya hanya bermodal dasar 1 buku, nantinya akan membaca sebanyak 32 buku. Saat ini jumlah peserta didik di SMPN 1 Pangatikan ada 730 siswa.

“Oleh karena itu, Saya mengharapkan sekali dengan adanya Program West Java Leader’s Reading Challenge, orang tua murid berpartisifasi untuk memotivasi anak-anaknya agar gemar membaca dengan jalan membelikan buku bacaan. Sehingga ke depannya membaca buku itu menjadi suatu kebutuhan, seperti di Negara Jepang,” pungkasnya. (Ilham Amir)***

Editor: Kang Cep.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *