Ridwan Kamil Diserang “Om Telolet Om”

Akhir-akhir ini berbagai media sosial sedang ramai dengan istilah “Om Telolet Om” (OTO) , demam “Om Telolet Om” bukan hanya di Indonesia saja, kini dunia Internasional pun banyak mengumandangkan bunyi tersebut.

Di dalam negeri salah satunya adalah serangan komentar pengikut Instagram orang nomor satu di Kota Bandung, Ridwan Kamil. Pengikut Instagram RK hampir serempak menulis guyonan “Om Telolet Om”.

Wali Kota yang terkenal suka bersenda gurau tersebut tak segan-segan mengatakan, “… yang nulis om telolet om, semoga jomblo selamanya, nuhun”. Sontak caption dalam instagram RK tersebut banyak menuai komentar dari para pengikutnya.


Ribuan komentar dalam Instagram RK bukan hanya menuliskan “om telolet om” tetapi komentar tersebut banyak diselewengkan, misalnya yang di tulis akun Instagram milik,
zchwamrdhiyah “… om kuatin hati gue om”
dayathardy “..Om bagi duit om”

rosyoctav_ “Waduh nggak jadi telolet deh pak ridwan kamil.. ampun pak ridwan kamil”

syahrul.ramdani98 “Eta bapa nulis “Om Telolet Om” teu jomblo”

Menurut Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Garut, Heri Hendrawan, M.I.Kom., fenomena tersebut biasa terjadi di masyarakat, karena pada dasarnya masyarakat lebih mudah menerima informasi yang bersifat baru, dan masyarakat akan lebih interest kepada sesuatu yang baru.

“Termasuk ketika Presiden mengtweet sebuah informasi di akun medsosnya, orang akan langsung mengatakan “om telolet om”. Itu wajar, tapi yang menjadi permasalahannya, makna sebenarnya “om telolet om” itu apa?,” ungkapnya.

“Padahal “om telolet om” adalah suara klakson yang sudah ada beberapa tahun belakangan ini, dan baru saja booming dalam sepekan ini,” tambahnya

Jika bicara tentang etika berkomunikasi tentunya ungkapan tersebut tidak beretika ketika digunakan dalam pembicaraan yang formal, tetapi sebaliknya jika digunakan dalam hal-hal yang humoris itu sah-sah saja.

Heri menuturkan ungkapan-ungkapan seperti itu tidak akan bertahan lama dan tetap akan tergantikan oleh hal-hal baru yang akan datang dikemudian hari. Dan sesuatu yang sudah lama, misalnya ungkapan-ungkapan peribahasa tetap tidak akan terganti. Karena pada dasarnya, sesuatu yang baru itu tetap memiliki kelemahan.

“Secanggih apapun, sebooming apapun sesuatu hal (Popular) , tetap tidak akan menggantikan hal yang sudah lama (Elite),” tegasnya. (Sidqi Al Ghifari)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI