Ribuan KK Warga Garut Masih Tergantung Pasokan Raskin

TARKI, (GE).- Kabupaten Garut yang merupakan daerah agraris, dengan luas area pertanian hampir 45 ribu hektar, kiranya wajar jika produksi padinya dari tahun ke tahun selalu melimpah. Data dari Dinas Pertanian dan Holtikultura Kabupaten Garut, rata-rata produksi padi mencapai satu juta ton pertahun. Sedangkan rata-rata kebutuhan untuk konsumsi warga hanya 350 ribu ton. Namun

ironis, di balik surplusnya hasil panen padi tersebut masih ada sekitar 185 ribu kepala keluarga (KK) yang masih tergantung pada pasokan beras miskin (Raskin) untuk kebutuhan makan sehari-harinya.

Masih banyaknya KK di Kabupaten Garut yang tergantung pada Raskin itu, diungkapkan Bupati Garut, Rudy Gunawan pada saat membuka acara “Seminar Ketahanan Pangan Nasional” yang diselenggarakan Fakultas Pertanian Universitas Garut (Uniga), Jalan Raya Samarang, Rabu (07/09/ 2016).

“Di Garut ini belum ada ketahanan daya beli, sehingg masih ada 185 ribu KK penerima manfaat Raskin. Ini disebabkan kepemilikan tanah tidak merata antara yang punya tanah dengan yang tidak punya tanah. Inilah yang menyebabkan kesenjangan di Garut cukup tinggi, yang miskin tidak tertolong, yang kaya makin kaya,” katanya.

Oleh karena itu sambung Bupati, sistem ketahanan pangan di Garut harus diperbaiki, salah satunya caranya, cobalah yang punya pendidikan tinggi beralih ke industri. Karena para petani mau tani apa kalau tidak punya tanah. Inilah yang harus jadi komitmen bersama seluruh stakeholder di Garut,” ujarnya.

Disebutkan Rudy Gunawan, pemerintahannya kini tengah berupaya meningkatkan kualitas hasil pertanian dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan, yang pada gilirannya akan meningkatkan daya beli masyarakatnya.” Ketahanan pangan itu kan dimulai dari produksi sampai ke pasar dengan peningkatan kualitas. Sampeu kan bisa bernilai tinggi, jika diolah menjadi bentuk lain yang lebih berkualitas,” tandasnya.

Disinggung soal alih fungsi lahan yang marak terjadi di Kabupaten Garut, baik yang berganti jadi permukiman penduduk, maupun pabrik dan bangunan lainnya. Hal itu menurut Rudy tidak berpengaruh pada program volume produksi pangan di daerahnya.” Alih fungsi lahan itu tidak berpengaruh, yang pengaruh itu volume air. Yang dulunya sawah itu ledok (Berlumpur- red.) sekarang jadi kering,” ucapnya.

Rudy menyambut baik seminar ketahanan pangan yang diselenggarakan oleh Uniga tersebut, karena bisa memotivasi para generasi muda untuk turut serta meningkatkan ketahanan pangan. Sehingga ada kesesuaian dengan program pemerintahannya. (Dief).

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI

Komentar

BAGIKAN