Ratusan Santri Gelar Aksi Unjukrasa ke Mapolsek Balubur Limbangan, Ada Apa?

GARUT, (GE).-  Dipicu kekecewaan terhadap peredaran berbagai obat obatan terlarang, ratusan santri dari beberapa pondok pesantren di Kecamatan Balubur Limbangan, menggelar aksi unjuk rasa ke Mapolsek Limbangan, Kabupaten Garut. Para santri menilai aparat kepolisian seolah membiarkan peredaran obat-obatan terlarang di kawasan tersebut.

Menurut para santri, akibat perdaran obat obatan terlarang yang marak ini berakibat pada tewasnya sejumlah warga. Disamping itu menurut santri, obat-obat jenis jenis dextro dan tramadol jika dikonsumsi berlebihan akan membuat penggunanya mabuk hingga tak sadarkan diri.

Menurut keterangan sejumlah ulama di Limbangan, peredaran kedua obat tersebut masih bebas dan bisa dibeli dengan mudah.


“Kemarin kita sampai merazia sejumlah apotek di Limbangan. Ada 1.400 butir pil dextro kami temukan,” ucap Ketua RMI PCNU Garut, Iip Ahmad Syafei, Jumat (21/7).

Diungkapkannya, ribuan butir obat-obatan itu diserahkan ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) Limbangan. Kemudian dari MUI pil tersebut akan diserahkan ke Polsek Limbangan.
“Katanya ini bukan jenis narkoba. Tapi kan obat ini membahayakan dan sudah ada korban yang meninggal,” katanya.

Sementara itu, Koordinator Aliansi Limbangan, Denden Amirullah, menilai pihak kepolisian seolah membiarkan penjual obat-obatan tersebut. Padahal sejumlah warga kehilangan nyawa akibat mengonsumsi dextro dan tramadol.

“Aksi yang kami lakukan jum’at kemarin karena sudah kesal. Polisi sepertinya lamban dan lalai dalam memberantas peredaran obat yang membahayakan ini,” tandasnya.

Denden menyebutkan, akibat obat obatan berbahaya ini sejumlah remaja yang mengkonsumsinya juga mengalami stres berat. Pihaknya sudah menemukan sejumlah penjual yang terang-terangan menjual obat-obatan itu dan sudah dilaporkan.

“Kami sudah laporkan penjualnya ke polisi. Tapi mereka malah tidak diproses hukum dan malah berjualan kembali,” katanya.

Ditegaskannya, jika aspirasinya tidak ditanggapi, para santri menuntut agar Kapolsek Limbangan dicopot dari jabatannya. Para santri khawatir, akibat obat oabtan ini akan kembali menelan korban.

Menanggapi aksi para santri tersebut, Kapolsek Limbangan, Kompol Asep Suherli, menegaskan jika pihaknya sudah berupaya mencegah peredaran obat yang membahayakan itu. Namun pihaknya sulit melakukan tindakan hukum karena obat jenis dextro dan tramadol tak masuk dalam bagian narkoba.

“Kami sudah berupaya, bahkan telah mengamankan dua orang yang diduga sebagai penjual dan dijerat dengan Undang-undang kesehatan,” tukasnya. (Tim GE)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI