Ratusan Mahasiswa Mainkan Kreasi Roketnya di Pantai Selatan Garut

CIKELET, (GE).- Ratusan mahasiswa dari berbagai universitas se-Indonesia berkumpul di Balai Uji Teknologi dan Pengamatan Antariksa dan Atmosfer di Pantai Karangpapak, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut. Mereka saling berkompetisi menjadi yang terbaik. Sabtu (27/08/2016)

Tahun ini Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menggelar Kompetisi Muatan Roket dan Roket Indonesia (Komurindo) ke 9 dan Kompetisi Muatan Balon Atmosfer (Kombat) ke 3. Tujuannya sebagai pemancing minat mahasiswa dalam dunia penerbangan dan antariksa.

Ada tiga kategori yang dilombakan oleh LAPAN. Yakni kategori muatan roket, roket electric duct fan (EDF), dan muatan balon atmosfer.

Yuni Dwiyanti (22) dan Rasyid Ridho (21) menjadi salah satu peserta roket EDF. Keduanya bersama dua rekan satu timnya mengaku gugup mengikuti kompetisi tersebut. Roket yang dirancang mahasiswa Telkom University, Bandung itu dikhawatirkan gagal uji terbang.

“Tegang pastinya tapi tetap yakin. Kami sudah tiga bulan melakukan persiapan. Apalagi kompetitornya dari kampus se-Indonesia,” ujar Rasyid sambil menyiapkan roket yang akan dilombakan, Jumat (26/8).

Menurut Rasyid, keikutsertaan dirinya salam Komurindo merupakan yang pertama kali. Sedangkan untuk kampusnya, merupakan tahun yang ketiga dalam mengikuti perlombaan tersebut.

Bukan hal yang mudah untuk menjadi salah satu peserta Komurindo dan Kombat. Rasyid beserta timnya harus melalui beberapa tahapan. Mulai dari pengajuan proposal, uji roket, sampai ikut kompetisi.

“Nambah wawasan juga. Apalagi kategori roket EDF ini sangat beda penilaiannya dengan tahun lalu,” ucap Rasyid

Kepala Lapan, Thomas Djamaluddin, menuturkan kegiatan yang diikuti oleh 61 tim dari 37 universitas di seluruh Indonesia itu untuk mendorong mahasiswa dalam memahami konsep teknologi roket. Pihaknya pun ingin mencetak kader di bidang antariksa.

“Kami ingin melatih para peserta untuk memahami konsep-konsep teknologi antariksa untuk pengambilan data di atsmofer. Seperti mirip memanfaatkan satelit,” ujar Thomas.

Untuk kategori muatan roket, para peserta harus bisa meluncurkan roketnya sejauh satu kilometer, sedangkan balon sejauh 10 kilometer. Nantinya sensor yang ada di setiap roket harus tahan terhadap getaran.

“Mahasiswa ditantang untuk buat sensor perangkat. Jadi ketahanan roketnya terhadap getaran harus kuat. Nanti setelah roket dan balonnya turun juga mengambil data dan gambar,” ucapnya.

Data yang didapat tersebut, kata Thomas, dikirim langsung secara real time. Para peserta hatus bisa mengambil data atmosfer, suhu tekanan dan gambar ke sistem penerima.

“Untuk roket dengan sistem elektrik atau EDF mereka bisa mengerti konsep roket walau menggunakan sistem elektrik. Tapi sistem roket peluncur tetap dipelajari,” katanya.

Diakui Thomas, calon ilmuwan di bidang antariksa masih sangat kuran. Kendalanya dari masalah anggaran dan sumber saua manusia. Namun dengan segala keterbatasan, pihaknya tetap berupaya untuk maju. (Tim GE)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI

Komentar

BAGIKAN