Ratna Ayu Budhiarti dalam Sejumput Puisi (Bagian 1)

Ratna Ayu Budhiarti

DI RUMAH IBU

Senampan subuh dipersembahkan semesta untukmu, Bu
Dalam derai air mata yang kerap kau sembunyikan
Doa-doa ngalir menjadi hujan, menjadi nyanyian nina bobo
Menjadi berlian sekaligus dian di langkah-langkahku

Hati baja, tekad tangguh, lengan merentang peluk
Sesekali melepas dan mengawasi dengan sejuk matamu

Aku menjadi pengelana yang betah mendengar derap kaki kuda menjauhi rumah
Dan kau selalu siap dengan secangkir doa lain, dengan kecemasan tersembunyi dalam senyummu
Aku kembali jadi pemenang atau pengembara yang lelah, kau tak peduli
“Kau anakku”, bisikmu selalu.
#RAB, 2014

PEREMPUAN BAJA

 Aku adalah perempuan dengan magma ratusan tahun siap meledak
Aku adalah perempuan yang memanggul sekeranjang anak panah kepedihan,

siap kubidik menuju jantungmu kapan saja
Aku perempuan angin, perempuan api, perempuan yang siap

menyerukan peperangan pada bala tentara berkuda
Aku perempuan dengan segenggam doa dan jubah baja
Aku perempuan, anakku perempuan,

KAU APA?

#RAB, 2014

PEREMPUAN ANGIN

Engkau yang paling mahir menciptakan ombak di laut hatiku,
malam ini aku sedang belajar mematikan kehendak
dan memanjangkan kembali lipatan jarak,
sebab dekatmu kawah itu selalu bergolak, menanti saat meledak.
Rindu, sedang disimpan rapi di saku.
Engkau yang akan mengambilnya jika bertemu, tentu.

Perempuan itu gusar, tergesa

menyumpalkan kenangan yang rompal
dalam sebait puisi di jejaring sosial
Lelaki langit menjadi alamat paling lekat di ingatan

ketika lagu-lagu lama mengalun dari piringan hitam di ruang baca
Sesekali tangan mengibas, meraup uar kopi dan sisa ambung parfum di udaraWaktu selalu tiada, janji adalah kemusykilan –

Betapa ingin ia berhenti menjadi angin.

#RAB, 2013

MENJADI PEREMPUAN MATA ANGIN

tak pernah dibolehkan memutuskan lebih dulu,

(diam-diam) ia menyesali takdirnya sebagai perempuan

setelah tahun-tahun lesak di dadanya yang hijau,

duka membiru dan memborok

menghibur matanya yang naïf dengan asa semu

tentang pangeran berkuda berpedang mengilat,

menyelamatkannya dari mimpi buruk, hidup buruk

ia tak sesali langkah yang diembuskan angin di tapak kaki

juga sebuah bibir mungil yang mengisap puting susunya

sebab hidup perkara mengambil pilihan salah

dan menyadarinya kemudian, lalu melanjutkan perjalanan,

bisiknya perih

  • mata menjadi jendela bagi jiwa yang sepi –

di tubuhnya telah tertanam rajah dan serentetan petuah

tentang dengan siapa ia harus membilang usia,

bagaimana kepalanya sibuk menentang setiap kata dari bibirnya sendiri,

juga hati yang tak boleh dijaja pada cinta yang tak mesti

ia akan selalu berjalan searah mata angin

meski ketika malam-malam mengurai doa pengaduan

dan air mata lerai-leler bergantian

serakan hati selalu harus dirapikan

menjadi lukisan, menjadi tulisan, menjadi catatan,

tapi bukan kecemasan

lalu ia ingin menyerah

menjadi perempuan dengan mata angin yang ditangkupkan dalam genggaman tangan

sejak ia dilahirkan, sejak ia ditasbihkan menjadi perumpamaan

ke jalan mana raga jiwa mengarah

setelah hatinya patah?

#RAB, 2013

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI