Rapat Dengar Pendapat DPR RI Komisi IX, Hj. Siti Mufattahah Tampung Aspirasi Warga Cilawu

PANCASILA sebagai dasar dan falsafah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) idealnya menjadi acuan setiap tingkah warga negara. Namun saat ini dalam penyelenggaraan negara terkesan telah ditinggalkan .

Demikian disampaikan Ketua, Muhammad Budi Nur Isnaeni, saat membuka kegiatan Rapat Dengar Pendapat (RDP) terkait empat pilar kebangsaan. Kamis, (23 /02/2017).

Acara yang digelar di kawasan Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut ini dihadiri sejumlah elemen masyarakat sekitar. Dalam acara ini tampak para guru honorer swasta, petani, serta unsur pemerintah Desa yang tergabung dalam Asosiasi Perangkat Desa Seluruh Indonesia (APDESI) se Kecamatan Cilawu.


“Tak sedikit dari perilaku masyarakat sekarang yang tidak mencerminkan pribadinya. Khususnya sebagai warga negara Indonesia yang berasaskan Pancasila.” Tutur Muhammad Budi.

Ketua Yayasan Setia Bhakti, secara khusus menyampaikan apresiasi dan terimakasihnya kepada Hj. Siti Mufattahah PSi, MBA Anggota Komisi IX DPR /MPR RI dari Fraksi Partai Demokrat.

“Saya sampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Ibu (Hj. Siti Mufattahah/ red.) yang untuk kali keduanya hadir di Yayasan Setia Bhakti. Kami berharap kepada Ibu Hajjah tidak bosan datang ke Yasebha.” Harapnya.

Dalam rapat dengar pendapat ini bermunculan pertanyan-pertanyaan mendasar terkait Empat pilar kebangsaan. Selain itu harapan dan aspirasipun peserta yang hadir menyampaikan berbagai harapan dan aspirasinya.

Menanggapi berbagai pertanyaan dan aspirasi melalui Rapat Dengar Pendapat (RDP), Hj.Siti Mufattahah, menjelaskannya secara detail dan terstruktur.

“Pancasila adalah bagian dari sendi kehidupan yang sangat fundamental. Pancasila bagian yang tidak terpisahkan dari Empat Pilar Kebagsaan. Jadi harus benar-benar diamalkan oleh seluruh warga masyarakat. Empat pilar kebangsaan sebagai penyangga kehidupan berbangsa dan bernegara meliputi, Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia.” Urainya.

Dijelaskannya, pemahaman mengenai Pancasila pada masyarakat dipengaruhi banyak hal, misalnya menurunnya sosialisasi nilai-nilai Pancasila dalam masyarakat, pendidikan masyarakat, sikap apatisme, berkembangnya hedonisme dan materalisme, merupakan faktor-faktor yang menyebabkan masyarakat meninggalkan nilai-nilai luhur Pancasila.

“Masyarakat adalah kumpulan individu yang terdiri dari berbagai kepribadian yang berbeda-beda. Jadi pemahaman masyarakat mengenai Pancasila juga berbeda-beda. Dalam hal ini pemerintah memiliki peran yang sangat penting untuk membantu masyarakat dalam memahami Pancasila. Termasuk saya, sebagai wakil rakyat yang ada di parlemen.” Jelasnya. (TAF Senopati/ Adv.) ***

Editor: Kang Cep.

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI