Rangginang Hj. Kokom, Sensasi Renyahnya Dirasakan Sampai Belanda

Kades Mekargalih, H.Yana Mulyana menunjukan rangginang khas produk Hj. Kokom yang mendunia, Senin (14/8/17)/ Tim GE.

POTENSI ekonomi kretaif di Kabupaten Garut selama dikenal variatif, khususnya dari produk perkulineran. Selain dodol Garut yang memang sudah termasyhur, produk penganan khas Garut yang belum tereksplorasi secara maksimal ternyata masih cukup banyak. Padahal berbagai produk penganan khas jika dikelola secara maksimal dan profesional bisa menjadi ladang bisnis yang menjanjikan.

Desa Mekargalih, Kecamatan Tarogong Kidul adalah salah satu desa di Kabupaten Garut yang memiliki potensi ekonomi kreatif yang cukup bagus. Desa Mekargalih sejak kepemimpinan Kades H. Yana Mulyana, Mekargalih mengalami kemajuan cukup pesat, khususnya dalam pembangunan infrastruktur. Kini jalan pedesaan di wilayah Mekargalih mulus dihotmix. Dengan infrastruktur yang cukup mulus, tak heran perekonomian warganya pun mengalamai kemajuan signifikan.

Rangginang khas Hj. Kokom saat proses pengeringan dengan cara dijemur, Senin (14/8/17)***

Salah satu pendukung perekonomian warga di Desa Mekargalih diantaranya bidang ekonomi kretaif yang ditekuni beberapa wargannya. Penganan khas di Mekargalih yang sudah dikenal luas diantaranya makanan khas yang berbahan baku dari beras ketan, yaitu rangginang, angleng serta wajit.


Menurut Kades Mekargalih, H. Yana Mulyana, di desanya ada salah satu pengrajin rangginang yang sudah dikenal luas, yakni rangginang buatan Hj. Kokom. Berbeda dengan rangginang kebanyakan, rangginan buatan Hj. Kokom dikenal renyah luar dalam. Selain terkenal dengan kerenyahannya, rangginang Hj. Kokom jika digoreng lebih mengembang.

“Ya, rangginang Hj. Kokom ini memang berbeda dengan rangginang pada umumumnya. Selain renyah luar dalam, rasanya juga lebih nikmat juga ketika digoreng ukuruanya jeadi besar mengembang,” ujar H. Yana.

Kelezatan rangginang Hj. Kokom, memang bukan sekedar isapan jempol belaka. Terbukti, yang menjadi pelanggannya datang dari berbagai daerah. Sejumlah pelanggan penikmat rangginang ini datang dari berbagai daerah, semisal Jakarta, Bandung dan kota kota besar lainnya. Bahkan, menurut Hj. Kokom, ada diantara pelanggannya yang secara khusus membeli rangginang untuk oleh-oleh ke luar negeri seperti negeri Belanda dan Saudi Arabia.

“Alhamdulillah, pelanggan mah udah banyak. Ada juga dari luar daerah seperti dari Bandung, Jakarta dan lainnya. Bahkan, yang ada membeli rangginang katanya khusus untuk dijadikan oleh-oleh ke Belanda dan Arab Saudi,” tutur pemilik usaha rangginang asal Kampung Cirengit ini, Senin (14/8/17).

Meski produk ranggiang Hj. Kokom sudah termasyhur, bahkan produk industri rumahan ini telah eksis puluhan tahun. Uniknya pemilik home industry ini sama sekali belum meiliki merek dalam kemasan produknya.

“Polos saja, kemasannya tidak pakai merek. Karena memang sudah pada kenal yang beli dari mana-mana biasa sengaja datang ke sini (Kampung Cirengit/ Desa Mekargalih/red.),” tuturnya.

Menurutnya, untuk memenuhi permintaan konsumen, Hj.Kokom di hari hari biasa dalam seharinya bisa menghabiskan bahan baku utama, yakni beras ketan hingga satu kuwintal. Jika memasuki musim hari raya, seperti Idul Fitri kebutuhan bahan baku ini bisa meningkat beberapa kali lipat.

“Ya, untuk hari hari biasa bisa menghabiskan satu kwintal beras ketan. Kalau musim Lebaran bisa meningkat beberapa kali lipat,” ungkapnya.

Kades Mekargalih berharap, keberadaan potensi ekonomi kretaif di wilayahnya ini bisa mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Selama ini dukungan untuk pengemabangan ekonomi kreatif, khususnnya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dirsakan sangat minim.

“Belum ada mungkin. Sampai saat ini memang belum ada semacam kunjungan khusus atau pelatihan dari pihak terkait untuk pengembaang ekonomi kreatif atau Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Mudah-mudahan ke depannya bisa tersujudkan,” harapnya. (ER)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI