Ramadhan Momentum untuk Mewujudkan Ketakwaan Hakiki

Oleh; Ummi Nasyabil

Bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan, berkah, rahmat dan ampunan telah hadir kembali dan sedang kita nikmati saat ini. Hampir dua pertiga dari bulan mulia ini telah kita lalui. Pada bulan ini Allah SWT telah suguhkan jamuan yang begitu luar biasa, bagi siapa saja yang menunaikan amal shalih yang dilandasi keimanan dan dilakukan ikhlas semata-mata mengharap ridho Allah maka baginya pahala yang berlipat ganda. Karena itu sudah sepantasnya setiap muslim bersemangat untuk menunaikan amal-amal shalih selama Ramadhan ini.

Namun sayangnya tak sedikit yang menjalaninya sekedar menahan lapar dan dahaga saja, tak berarti yang dalam bagi dirinya. Bahkan diantara mereka banyak yang kurang semangat menjalani puasa, tetapi justru lebih semangat menanti hari lebaran tiba.

Berbagai persiapan menjelang lebaran telah mulai dipersiapkan baik itu berupa kue-kue, makanan ringan favorit keluarga, hingga ke perburuan baju lebaran. Untuk mewujudkan keinginan itu banyak pengorbanan yang rela mereka lakukan, misalnya rela berdesak-desakan memilih baju yang diinginkan hingga mengantri di tempat pembayaran.

Bahkan untuk mempersiapkan lebaran yang dinanti ini, bermunculan juga para pelaku kejahatan dengan merampok, menjambret dan lain sebagainya demi mendapatkan rupiah untuk persiapan lebaran. Sungguh ini merupakan fakta yang menyedihkan.

Lalu bagaimana seharusnya kita menyikapi Ramadhan ini agar bermakna?

Perintah berpuasa termaktub dalam Q.S Al Baqoroh [2] : 183 yang artinya “ Hai orang-orang yang beriman , diwajibkan atas kalian berpuasa sebagimana puasa itu telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa”.

Dari ayat di atas, kita bisa pahami bahwa ibadah puasa merupakan kewajiban bagi setiap umat mukmin agar ia menjadi orang yang bertaqwa. Taqwa itu sendiri berarti melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi laranganNya, atau bisa dimaknai sebagai kesadaran akal dan jiwa serta pengetahuan syar’i atas kewajiban untuk mengambil halal dan haram sebagai standar bagi seluruh aktivitas, lalu merealisasikannya secara praktis.

Ibadah Ramadhan, khususnya puasa, seperti dalam Q.S Al Baqoroh [2]: 183 diatas diwajibkan oleh Allah SWT kepada kaum mukmin. Dengan melaksanakan ibadah puasa, kaum mukmin akan bisa memupuk ketaqwaan dalam diri mereka dan di tengah-tengah mereka.

Selain merupakan hikmah yang harus diwujudkan sebagai buah dari puasa dan ibadah Ramadhan, ketaqwaan itu juga diperintahkan oleh Allah SWT. Allah berfirman dalam Q.S Ali Imran[3] : 102 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”.

Ketaqwaan itu bisa direalisasikan oleh setip individu Muslim dengan jalan senantiasa terikat dengan hukum-hukum Allah SWT di dalam kehidupannya. Namun ketaqwaan ini tidak cukup hanya diwujudkan pada tataran individu saja, namun juga harus diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat. Seperti firman Allah SWT dalam Q.S al-A’raf[7] : 96 yang artinya : Jika saja penduduk negeri beriman dan bertaqwa, niscaya Kami akan membukakan bagi mereka pintu-pintu keberkahan dari langit dan bumi.

Meski ayat di atas menggunakan redaksi berita, namun di dalamnya berisipujian. Sesuai ushul fikih, jika suatu berita disertai pujian maka maknanya adalah perintah. Jadi, ayat di atas sesungguhnya memerintahkan penduduk untuk beriman dan bertaqwa secara bersama-sama dalam kehidupan bermasyarakat.

Menerapkan Syariah, Mewujudkan Ketaqwaan Hakiki.

Terwujudnya ketaqwaan hakiki, baik pada tataran individu maupun dalam kehidupan bermasyarakat, hanya akan terwujud dengan penerapan syariah Islam secara total, yaitu dengan menerapkan syariah Islam secara formal oleh negara untuk mengatur segala interaksi yang ada di tengah masyarakat. Dengan kata lain, penerapan syariah Islam adalah kunci agar ketaqwaan individu-individu anggota masyarakat terwujud.

Karena dengan penerapan syariah maka pintu-pintu ketaqwaan terbuka lebar, sedangkan pintu-pintu keharaman ditutup. Ini berbeda sekali dengan kondisi saat ini ketika Syariat Islam tidak diterapkan secara formal oleh negara bahkan dicampakkan jauh-jauh oleh negara dalam kehidupan ini, maka yang muncul adalah kehidupan yang sekuleristik, kapitalistik dan hedonistik yang membuka lebar pintu-pintu kemaksiatan dan mempersempit pintu ketaqwaan.

Allah SWT telah memerintahkan kaum muslim untuk menerapkan Syariah Islam secara kaffah, yakni berhukum pada seluruh hukum Allah SWT. Dalam banyak ayat al-Quran pun Allah SWT mensifati siapa saja yang tidak memutuskan perkara dengan hukum Allah SWT sebagai kafir jika disertai I’tiqad (QS al Maidah[4] : 44); atau fasik (QS al Maidah[4] : 47) ; atau dzalim (QS al Maidah[4] : 45) jika tidak diserta I’tiqad.

Penerapan Syariah Islam yang diwajibkan oleh Allah SWT tak akan tegak sempurna tanpa negara, namun keberadaan negara pun tak akan pernah berhasil jika dipaksakan dengan negara yang tidak menerapkan system pemerintahan Islam. Untuk sampai pada penerapan islam kaffah maka tak ada jalan lain kecuali dengan mewujudkan Negara Islam yang tegak berdasarkan akidah Islam, yakni Khilafah.

Oleh karena itu, mari kita jadikan momen Ramadhan kali ini untuk mewujudkan ketaqwaan yang hakiki dengan jalan berjuang untuk menerapkan syariah Islam dalam bingkai Khilafah Islamiyyah. Wallahu’alam bishowab.

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI

Komentar

BAGIKAN