RA Lasminingrat, Ibu Literasi Indonesia

KAPOLRES Garut, AKBP Budi Satria Wiguna, turut hadir di panggung saresehan saat penyerahan penghargaan kepada sejumlah tokoh Garut yang selama ini sacara gigih memperjuangkan RA Lasminingrat menjadi Pahlawan Nasional. (Foto : Farhan SN/GE)***

BOLEH jadi sudah terlupakan. Tanggal 10 April 2017 lalu sebenarnya sudah dicanangkan sebagai Hari RA Lasminigrat.

Bagi Masyarakat Garut, Raden Ayu Lasminisngrat bukan nama asing. Ia tidak hanya sebatas pendirian Sakola Istri. Beliau telah memberikan kontribusi besar bagi  sekolah kecil yang didirikan ayahnya dengan cara menerjemahkan buku-buku cerita bahasa Belanda ke dalam bahasa Indonesia. Juga ke dalam bahasa dengan aksara Jawa dan Sunda. Sehingga kemudian terjemahannya meraih sukses besar. Bahkan sekian kali dicetak ulang. Contoh kecilnya adalah karya sastranya berjudul :  “Carita Erman”

Selasa (10/4/18) pagi tadi, digelar Sarasehan Peringatan Hari RA Lasminingrat. Acara berlangsung di Gedung RA Lasminingrat, Jalan Jend. A. Yani Garut.


Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kapolres Garut, AKBP Budi Satri Wiguna. Kadisparbud, Drs. Budi Gan Gan Gumilar, M.Si. Selain itu, Kadinsos, Dra. Hj. Elka Nurhakimah, Kabag Agkesra Setda Garut, Drs. H. Dahlan, serta budayawan Garut, Deddy Efendi.

Acara semakin bermakna karena turut dihadiri sejumlah keturunan RA Lasminingrat yang kini menetap di berbagai kota di Indonesia.

Dalam sambutannya, Kadisparbud Garut, Drs. Budi Gan Gan Gumilar, M.Si, mengucapkan terima kasih kepada keluarga besar RA Lasminingrat yang telah berjuang dengan segenap kemampuan guna mendapatkan literasi terkait RA Lasminingrat. Budi Gan Gan berharap, di masa datang RA Lasminingrat dapat diperjuangkan menjadi Pahlawan Nasional, di samping tokoh literasi asal garut.

Dikatakan lebih jauh, pada tahun 2010 Pemkab Garut telah mengajukan sosok RA Lasmingrat menjadi Pahlawan Nasional. Namun, akhirnya upaya tersebut gagal. Pasalnya, kajian ilmiah mengenai tokoh RA Lasminingrat dan sepak terjangnya waktu itu, dinilai belum lengkap, sehingga belum memenuhi kategori nomine pahlawan nasional.

Karena itu, saat berkunjung ke Garut tanggal 10 April 2017, Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar, menekankan agar dalam pengusungan RA Lasminingrat menjadi pahlawan nasional tidak perlu terburu-buru.

Menurutnya, data dan bukti harus terus digali secara berkesinambungan hingga mengerucut pada satu kesimpulan yang valid. Demiz juga meminta Tim Peneliti Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) untuk terus menggali data di kearsipan Belanda, Rusia, dan di mana pun data terkait kiprah RA Lasminingrat berada. Supaya fakta sejarahnya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Ketua Tim pengusung gelar pahlawan RA Lasminingrat, Rani Permata Dicky Chandra, berharap dukungan semua pihak agar perjuangan RA Lasminingrat dihormati dan dihargai. Ia pun meminta agar jasa-jasanya dikenang dan diperingati.

Pada tahun 2007, RA Lasminingrat sempat masuk pengajuan dalam daftar pahlawan nasional. Namun, pengajuannya terkendala minimnya data serta syarat lainnya yang diminta oleh pemerintah pusat. Meski belum diakui secara nasional, masyarakat Garut umumnya telah menganggap Lasminingrat sebagai pahlawan intelektual. Dialah Ibu Literasi Indonesia. (Farhan SN/GE)***

Editor : SMS

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI