Puisi-Puisi Karya Hani WR


Puisi-Puisi  Karya Hani WR

(1) SYAM

Kota yang indah sebelum akhirnya porak poranda
Kota yang indah  sebelum akhirnya penuh huru-hara

Ada banyak air mata
yang tak seharusnya tumpah
Ada banyak derita
yang tak seharusnya dirasa

Bocah menangis
Bukan karena mainannya
tapi orang tua yang hilang tepat di depan mata

Bocah menangis
meringis, penuh sakit, bom lukai badan mungilnya

Bocah menangis penuh ketakutan
sekeliling penuh dengan ketidakadilan

Banyak kehilangan,
anak dengan orang tua
adik dengan kakaknya
sanak dengan saudara
lalu hak makan mereka
tersisa pada rumput
yang masih  bersedia tumbuh

Wahai Negeri Syam
kotanya para nabi
yang hancur akibat penguasa dzolim kufur
Wahai Negeri Syam
deritamu sampai di mata kami
tiba pada telinga kami

Maafkan kami,
yang hanya mampu menangis penuh doa
tak bisa jawab apa kelak
ketika Allah bertanya tentang penderitaan kalian

(HWR, Grt, 13042017: 02.38)

(2) PULANG

Bersemayam pada kubangan lumpur kotor
Bermain dengan bara api bahaya
Berjalan penuh semangat untuk dunia
Tak peduli kanan atau kiri
madu atau racun
Itulah kini aku
Dunia… dunia… dunia

Wajahku penuh dengan kesemuan belaka
Terlalu cepat berlari untuk ambisi
Sampai lupa
bahwa ternyata
Terlalu jauh sudah aku melangkah
hingga enggan, bahkan lupa jalan pulang

Bisakah aku pulang dengan berlumpur?
Bisakah aku pulang dengan luka bara api?
Bisakah aku pulang dengan beracun?

Sungguh malu untuk pulang
bahkan tak mampu tuk sekadar bercermin

Tuhan,
tuntun aku untuk pulang
Ke tempat sebaik dari mana aku berasal

(Garut, 16042017: 23.07)
(3) LELAKI HEBAT

Ada gemuruh di sini
di hati yang paling dalam
pada lelaki hebatku

Ingin rasanya kukatakan tepat di dadamu
di saat kau mendekap erat penuh hangatku
Aku mencintamu

Lelaki hebatku, janganlah menua
meski rambutmu memutih
Lelaki hebatku, janganlah menua
meski  kulitmu mengeriput
Lelaki hebatku, janganlah menua
Sampai kau saksikan aku bahagia
Sampai seorang lelaki memanggilmu, Abah
Lelaki hebatku, janganlah menua
Sampai aku membuatmu bahagia
sebenar-benarnya bahagia

Lelaki hebatku,
Maafkan rajukanku, manjaku.

Lelaki hebatku,
terimalah hadiahku
hijab pengurang beban hisabmu
tanda cinta padamu

Tetaplah, jadi lelaki hebatku
Kini, nanti, dan selamanya

(HWR, 16042017: 23.26)
(4) Aku dan Penantian

Kadang kehabisan kata
mengekpresikan sebuah rasa
entah harus kusikapi bagaimana

Kamu yang datang kesekian kalinya mengetuk pintu hati ini,
Yang bahkan rapat kukunci

Tak ingin terjebak di ruang yang sama,
dan  salah

Masih ada cinta
di balik pintu yang  kukunci rapat
Masih ada rindu yang teramat sangat
di dalam ruang terjaga
bernama ibadah

Jangan  mengetuk  jika hanya mampir
Sejatinya pintu ini akan terbuka
selebar-lebarnya untukmu
Ketika kau miliki kuncinya

Jangan biarkan aku terlalu lama
menanti di balik pintu
dan bermain dengan prasangka

Di luar,
ada dunia yang ingin kujelajahi
bersamamu

(031217)

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI