PUISI-PUISI JIHAN Al-AMIEN

Jihan Al_amien.***

PUISI-PUISI  

JIHAN Al-AMIEN

PARADOKS

Kapan balik ?
tidak tahu
Kapan mati ?
Jangan sekarang
Jalur bumi dikembangkan
Jalur langit ditinggalkan
Memang nyata zaman edan
Hilangkan semua penciptaan
Seperti jam pasir yang gemulai
Mengisi ruang bawah dan mengurangi ruang atas
Suaranya berdesis seperti jeritan keras dari neraka
Peringatan sudah tertera
namun mereka masih menerka
Paradoks mulai tumbuh
Menciptakan sekelumit kisah manusia
dari waktu ke waktu
Tumbuhkan phobia akan berakhirnya kehidupan
Belum kebal di dunia
Tidak sadar akan nirwana

Payah !
Begitu dahsyat revolusi miring
seperti sinting saat melinting
Satu lusin ditinggalkan
Satu cangkir dihidangkan
Merambah luas perzinahan
Menganga keras perjudian

Sadarlah !
di kedalaman sana airmata terus menunggu
Sampai titik akhir darah membeku
Ada pengantar berselendang pedang
Memberi dongeng tentang tidur berkepanjangan
Pasir-pasir telah habis
Doa-doa mulai terlukis
Tanya jawab hampiri lagi
Kapan mati?
Belum siap!
Kapan balik?
Beri waktu sebentar saja!
Hey, kacau!
diamlah, semua terlambat.
Balas lembut dari bibir pengecap duka
gelegar guntur mengakar memaku
Hinggap di ubun pendosa dunia
jatuh sekarat terkubur pasir
kembali pada pencipta-Nya
(Bali, 7 April 2017)

AKU DAN KAMU

Pagi menggelinding lumrah
Mengantar surya ke gerbang nyawa
Alto bariton kokokan ayam
Memanggil tubuh pergi menerjang
Jika tubuh
Seumpama embun pagi yang berenang
di ketiak daun muda
akan kuberi 7 tetes yang berbeda
Sepucuk doa telah kuantar
Melobi langit di kedalaman subuh
Aku dan kamu gambaran satu
Adalah objek mata yang sedikit sama
Memetik hati dari yang mencipta
Mengantar doa kepada yang  didamba
Embun pagi mulai menghilang
Terganti secuil debu yang kegirangan
Siang datang mulai menggigit
Gigilkan angin terbangkan debu
Empat mata keracunan
dua kepala silih berdendang
Koyak-koyak bertiupan
Aku dan kamu kelilipan
Siang hilang bergegas sore
Menutup surya seindah bening
Sisa Embun kau teteskan
Sembuhkan mata yang kesakitan
Kelilipan pun menghilang
Namun debu cintamu
tetap ketinggalan.
(Dewata, 8 April 2017)

ROMANSA

Berawal dari kata terserah yang menyeramkan
Terdengar syahdu di beberapa lapisan langit ke tujuh
Ada petikan antara suaranya, seperti dawai-dawai syurga yang merona
Liuk-liuknya melukiskan romansa akan lagu sebuah rahsa
Pejamkan mata telanjang, menatap biru langit dengan tajam
Berlutut pasrah pada bidadari, memberi bunga yang tak pasti
Hujan deras menemani perjuangan romansa seribu kata
Kata-kata tentang cinta, untuk para sang pujangga
Kaki langit menemani, hujan deras meratapi bunga layu yang tak pasti
Teronggok lesu daging bertulang, terantai nafsu getaran cinta
Masih melekat eratan tangan pada pujangga di dambakan
Seratus derajat gejolak rahsa, pada kasih yang tak sampai
Ada cerita di balik hujan, antara titik dan riuhnya gemerlap cahya dari langit
Bidadari itu pergi meninggalkan jejak terhapus air-air yang meretak
Kelu , malu bahkan frustasi membelenggu saat romansa tak beroda
Hilang, musnah, dan ternoda karena hati tak ada rongga
Romansa menghilang
Meninggalkan pesan-pesan kekecewaan
Bunga-bunga tertawa malas
Karena harumnya tak pernah memakan cinta
(Bali, 07 Agustus 2016)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI