Produktivitas Panen Tomat Menurun, Petani Garut Mulai Lirik Varietas Hibrida

BANYURESMI, (GE).- Penasihat Kontak Tani Nelayan Andalan Kabupaten Garut Endang Solihin mengatakan, mayoritas petani tomat di Kabupaten Garut mengeluhkan produksi panen yang menurun dan kualitas yang buruk. Terlebih, harga jual di tingkat petani dan pasar juga menurun.

“Panen lagi jelek, yang biasanya bisa 2 kilogram per pohon atau 50 ton per hektare. Kini, rata-rata hanya 1,5 kilogram per pohon atau 35 ton per hektare,” tuturnya, Selasa (17/5/2016).

Endang menyebutkan, saat ini harga jual tomat di tingkat petani sebesar Rp 3.500 per kilogram dan Rp 5.000 per kilogram di pasar. Sebelumnya, harga jual tomat di tingkat petani mencapai Rp 6.000 per kilogram dan Rp 8.000 per kilogram di pasar.

Menurut Endang, penurunan produksi tomat disebabkan kondisi cuaca yang tak menentu dan hama. “Terkadang panas sekali, tiba-tiba hujan deras dan lama sehingga memengaruhi pertumbuhan buah. Belum lagi serangan hama atau virus,” ucapnya.

Dijelaskannya, ketika produksi tomat rendah, harga jual lebih mahal, tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Hal itu disebabkan kebutuhan pasar ditutupi oleh pasokan dari daerah Jawa Tengah dan luar Pulau Jawa.

Dengan demikian, sebagian petani mulai melirik varietas hibrida untuk meningkatkan produksi. Apalagi, petani mengharapkan produksi dan harga jual yang lebih baik menjelang Ramadan.
Mamat Rahmat, petani di Desa Tanjung Kamuning Kecamatan Banyuresmi, mengaku mulai beralih ke varietas hibrida jenis hortus tomat.

“Puas dengan hasil, perbedaannya jauh. Kalau yang sebelumnya daunnya jarang dan banyak buah, tapi tidak bagus hasilnya. Kalau hortus tomat banyak daunnya dan hasil buahnya bagus,” katanya.

Dia menjelaskan, lama penanaman varietas ini selama 2 bulan lebih 10 hari. Hortus tomat dipanen empat hari sekali dengan maksimal 10 kali panen. “Varietas sebelumnya maksimal hanya delapan kali panen, tapi dengan kondisi sekarang banyak petani yang panen hingga empat kali,” ucapnya. (Tim GE)***