Prihatin Masih Banyak Rumah WargaTak Berlistrik, Ujang Koswara Latih Siswa SMK Membuat “Limar”

Siswa SMKN 2 Garut memperlihatkan lampu hasil rakitannya, usai pelatihan Listrik Mandiri Masyarakat (Limar), Selasa (26/9/17)***

BERANGKAT dari keprihatinan dengan masih banyaknya rumah warga yang tak teraliri listrik, Ujang Koswara bersama Yayasan Pilar Peradaban menginisiasi sebuah program kreatif untuk memberi penerangan ke ratusan ribu rumah di Garut.

Salah satu inovasi yang dilakukannya diantaranya memberikan pelatihan kepasa para siswa di SMKN 2 Garut. Pelatihan yang diberikan Ujang tersebut diantaranya keterampilan cara membuat yang diberi nama Listrik Mandiri Masyarakat (Limar) yang diciptakan Ujang Koswara.

Pria asli Garut ini bertekad mewujudkan cita-citanya agar semua warga Garut dapat menikmati aliran listrik. Ilmu cara pembuatan Limar pun Ia tularkan kepada para siswa SMK. Diharapkannya,  ilmu yang diterima para pelajar bisa kembali diberikan kepada warga Garut lainnya.


Saat prosesi pelatihan membuat Limar tampak para pelajar bersemangat. Mereka tampak serius merakit Limar yang dipandu pihak yayasan tersebut.  Asep Ramdhani (16), salah pelajar di SMKN 2 Garut mengaku, ilmu yang didapatnya tersebut sangat bermanfaat. Ia menjadi siswa pertama yang berhasil merakit Limar. Dengan terampil Asep pun mengajarkan bagaimana merakit lampu listrik kepada ia dan teman-temannya.

“Komponen lampunya juga mudah ditemukan. Terus tidak perlu menyambungkan ke tiang listrik. Cukup memakai aki mobil. Bisa menerangi satu rumah,” ujar Asep, Selasa (26/9/17).

Dengan cara sederhana, rumah-rumah bisa mendapatkan penerangan. Ditambah biaya yang dikeluarkan cukup murah. Ilmu yang didapatnya pun akan diterapkan kepada warga.

“Walau sebentar pelatihannya, bisa disebarkan lagi ilmunya. Sangat bermanfaat buat warga yang kekurangan listrik. Apalagi di Garut belum semua dapat listrik,” kata siswa kelas XI jurusan Audio Video itu.

Ujang Koswara, penemu Limar, menyebut jika dirinya sangat prihatin karena lebih dar 100 ribu warga Garut belum teraliri listrik. Keprihatinannya berawal pada 2008 dari tempat asalnya di Pakenjeng yang belum teraliri listrik.

“Di rumah saya saja dulu, ibu saya masih pakai cempor. Adanya konversi minyak tanah ke gas membuat saya berpikir untuk membuat listrik yang mudah,” ucap Ujang.

Saat ditelusuri, jumlah warga yang senasib dengan ibunya di Jawa Barat mencapai 2,4 juta Kepala Keluarga (KK). Walau data terbaru menyebut berkurang menjadi 1 juta KK.

“Masalah penerangan saja masih kurang. Dampaknya ada dua setelah saya buat Limar. Anak-anak bisa belajar di malam hari dan orang tuanya bisa beraktivitas juga,” ujarnya yang sempat memasang baligo bukan calon Walikota Bandung tersebut.

Adanya Limar, ia berharap tanah kelahirannya bisa bebas dari kegelapan. Ia pun sengaja memberi ilmu yang dimilikinya kepada para siswa SMK. Nantinya ilmu tersebut bisa disalurkan kembali ke warga yang lain hingga membuat warga Garut mendapat fasilitas penerangan.

“Sekolah bisa berdayakan lagi. Ajarkan lagi ke tetangganya. Jika ada kelompok lain yang mau bergabung juga bisa,” katanya.

Dengan Limar, setiap rumah akan mendapat lima lampu yang usianya sangat panjang. Tenaga pembangkitnya berasal dari aki mobil. Aki akan habis dalam waktu satu bulan.

“Nanti tinggal diisi lagi saja. Cukup diisi selama tiga jam sudah cukup untuk satu bulan. Minimal masalah penerangan bisa diselesaikan,” ucapnya.

Bantuan para siswa, tambahnya, sangat diharapkan agar cita-cita Garut terbebas dari gelap bisa segera terwujud. Nantinya ia akan bekerja sama dengan sekolah untuk memproduksi Limar.

Ketua Yayasan Pilar Peradaban, Pradana Aditya Wicaksana, berharap keterampilan yang diberikan bisa membangkitkan gairah wirausaja bagi siswa walau berskala kecil. Kreativitas generasi muda bisa membantu kesulitan yang dialami warga.

“Jika berminat nanti kami ajak mereka untuk bekerja sama. Soalnya sekarang selepas keluar sekolah bingung mau ngapain. Jika ada keterampilan dan kreativitas tak perlu cari kerja,” kata Adit.

Menurutnya, Limar sudah tersebar ke seluruh Indonesia. Namun penerapannya di Garut masih sedikit. Padahal penciptanya merupakan orang Garut asli. Program tersebut direncanakan akan dilakukan secara berkelanjutan, sehingga warga Garut bisa terbebas daro kegelapan. (Tim GE)***

Editor: Kang Cep.

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI