PPKNR, Kebersamaan Para Pedagang Kelililing Wujudkan 4 Program Kreatif

SEJAK berdiri beberapa tahun lalu hingga saat ini, Paguyuban Pedagang Keliling Nunggal Rasa (PPKNR) eksis menjujung tinggi kebersamaan dengan berbagai positif. PPKNR kerap menggelar kegiatan sosial hingga keagamaan.Seiring berjalannya waktu anggota PPKNR terus bertambah.

PPKNR merupakan sebuah paguyuban yang didirikan oleh Ajat Sudarajat. Ajat mendirikan PPKNR bersama sembilan rekan seprofesi dari Kampung Tagog, Desa Leuwigoong, Kecamatan Leuwigoong, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Menurut Ajat, PPKNR pada awal berdirinya terinspirasi dari salah seorang pedagang keliling
perantau yang keliling meninggal dunia. Saat masih hidup peratau tersebut sudah dianggap saudara sendiri karena ikatan batin sesama pedagang keliling.

“Waktu itu saya bersama sembilan rekan yang berprofesi sebagai pedagang keliling tergugah mengumpulkan dana alakadarnya untuk memberikan sumbangan kepada keluarga yang ditinggalkannya. Mulai dari situ, kami bermusyawarah membentuk paguyuban dan menyusun para pengurusnya serta sekaligus memberi nama paguyuban, dengan nama Paguyuban Pedagang Keliling Nunggal Rasa, yang  disingkat PPKNR,” ungkapnya.

Ajat menyebut ‘Nunggal Rasa’ bisa diartikan menyatukan rasa menjadi satu rasa. Soalnya
paguyuban ini anggotanya terdiri dari para pedagang keliling dengan berbagai jenis dagangan yang dijual.

“Mereka ada yang menjual makanan, minuman, dan ada pula yang menjual mainan anak-anak dan lain sebagainya. Serta, tempat berdagangnya juga berlainan. Mereka ada yang berjualan di sekolah-sekolah, perkampungan-perkampungan, adapula yang menjajakan barang daganyannya ke tempat-tempat acara hajatan,” papar Ajat yang terpilih sebagai ketua paguyuban, kepada garut-express.com, belum lama ini.

Diharapkannya dengan paguyububan tersebut bisa menyatukannya rasa kebersamaan, berat sama dipikul ringan sama dijinjing, dengan mengedepankan satu rasa satu hati.

“Sementara ini, supaya terwujudnya dan terbinanya rasa kebersamaan, kami laksanakan empat program, yaitu 1) Menyantuni sesama pedagang yang sakit. 2) Santunan terhadap anggota yang meninggal. 3) Simpan pinjam paguyuban. 4) Sumbangsih terhadap pembangunan sarana ibadah mesjid, maupun madrasah,” kata Ketua PPKNR, belum lama ini.

Dijelaskannya demi terwujudnya empat program ini para pengurus mengumpulkan dana dari anggota paguyuban dengan jumlahnya Rp 10.000 per anggota.

“Adapun peruntukan dari uang tersebut, yaitu 8 ribu rupiah untuk uang kas, dan 2 ribu rupiah buat biaya jamuan konsumsi bagi anggota yang mendapat giliran rumahnya dijadikan tempat untuk berkumpul,” tuturnya.

Dalam dua minggu sekali anggota secara bergiliran, berdasarkan siapa yang menang dari hasil kocokan arisan. Disitulah, yakni dirumah pemenang arisan, akan diselenggarakan pertemuan seluruh anggota PPKNR.

” Alhmdulillah, dalam kurun waktu sembilan bulan dari sejak berdiri, PPKNR sudah mempunyai 75 anggota dari berbagai kecamatan, diantaranya dari Kecamatan Leuwigoong, Cibatu, Banyuresmi, Cibiuk dan Kecamatan Balubur Limbangan,” bebernya.

Tak samapi disitu, keberadaan PPKNR juga memmberikan sumbangsignya untuk masyarakat sekitar, di antaranya dengan memberikan sumbangan unuk pembangunan mesjid atau madrasah.

Keberadaan PPKNR kini telah diketahui pihak Muspika Kecamatan Leuwigoong. Diharapkan, PPKNR mendapatkan perhatian khusus dari Dinas terkait, khususnya Dinas Koperasi. Para pedagang keliling yang tergabung dalam PPKNR tentunya butuh suntikan modal segar untuk lebih mengembangkan ekonomi kerakyatan. (Ilham Amir)***

Editor: ER.

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI