Posting yang Penting, Bukan yang Penting Posting. Ratusan Pelajar MAN 2 Garut Diberikan Tips Cara Bijak Bersosmed

Perwakilan Diskominfo Garut saat memberikan tips bijak bersosial media di hadapan ratusan pelajar. Kegiatan tersebut digelar dalam acara Matsama (Masa Taaruf Siswa Madrasah) di Lingkungan Madrasah Aliyah Negeri 2 Garut, Rabu (18/7/18).***

GARUT,(GE).- Sebagai upaya untuk mengantisipasi dampak buruk sosial media,  baru-baru ini pengelola Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Garut bekerjasama dengan Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kabupaten Garut dalam kegiatan “Matsama” (Masa Taaruf Siswa Madrasah), Rabu (18/07/18).

Dalam kegiatan tersebut, Diskominfo yang diwakili Kepala Seksi Kemitraan Komunikasi Publik, Yanyan Agus Supianto dan Kepala Seksi Seksi Pengembangan Kepemerintahan Elektonik, Deden Ferry Martin,  menggambarkan bagaimana pentingnya pemahaman siswa dalam memanfaatkan  teknologi informasi dan tips terbaik dalam menggunakan sosial media untuk kalangan remaja.

Fery memaparkan materinya, Ia mengingatkan agar siwa lebih berhati-hati dalam memanfaatkan gadget dan sejenisnya. Meski media sosial ada manfaatnya, namun jika tak biak dalam menggunakannya, tak sedikit dampak negatif terhadap pemakainya.


“Meskipun ada manfaatnya, namun jika pemakaiannya tidal bijak, dampak negatifnya juga tidak sedikit. Apalagi dengan semakin gencarnya informasi yang hampir tidak terbendung,” katanya.

Kegiatan Masa Taaruf Siswa Madrasah) di Lingkungan Madrasah Aliyah Negeri 2 Garut, saat itu diikuti lebih kurang 324 siswa siswi. Antusiasme para peserta didik baru tersebut tampak sekali, hal itu dinatdai dengan banyaknya lontaran pertanyaan dari para siswa.

“Pak kenapa aplikasi Tik Tok diblokir ?”  Ini salah satu pertanyaan yang dilontarkan salah seorang siswa yang mewarnai kegiatan Matsama (Masa Taaruf Siswa Madrasah) di Lingkungan Madrasah Aliyah Negeri 2 Garut.

Menanggapi berbagai perntanyaan terkiat sosmed, perwakilan Diskominfo Garut, Deden Ferry Martin memaparkan beberapa tips antisipatif dalam menggunakan sosial medial.

“Ketika kita men-share suatu informasi yang belum tentu dijamin kebenarannya, sehingga perlu ada filter saat menerima atau menyebarkannya. Jika tak hati-hati, terkadang bisa berakibat fatal bagi pemakianya sendiri,” ujar Deden.

Sementara itu Kepala Seksi Kemitraan Komunikasi Publik, Yanyan Agus Supianto, memberikan tips bagaimana menerapkan etika bersosmed. Ia menyaranakan agar kalangan remaja pemakai teknologi informasi dengan media yang dipakai semacam facebook, whats app, dan sejenisnya dengan istilah THINK (True, Helpful, Illegal, Necessary, dan Kind).

Yanyan mengingatkan, banyaknya informasi yang beredar semacam “hoax” (bohong) yang sebenarnya sudah disunting oleh banyak tangan.

“Kita harus mampu menelaah kebenaran isi media sosial.  Biasakan cek ke beberapa sumber berbeda yang terpercaya. Semisal situs berita, ensiklopedi, atau bertanya langsung kepada sumbernya,” jelasnya.

Belum lagi apakah informasi itu bermanfaat (helpful) atau sebaliknya. Kebenaran infomrasi semestinya meiliki sumber yang jelas mengingat berhubungan dengan hak cipta. “Singkatnya, mari tanamkan posting yang penting, bukan yang  penting posting”, tandsnya. (Tim GE).***

Editor: ER.

 

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI