“Pikarunyaeun” Nasib Korban Pergerakan Tanah di Cisompet Terkatung-katung

CISOMPET, (GE).- Nasib warga dua dusun di Desa Sindangsari, Kecamatan Cisompet, Garut, Jawa Barat, korban pergerakan tanah masih terkatung-katung. Mereka mengaku resah sebab sampai saat ini masih menempati tenda pengungsian. Padahal peristiwa tersebut sudah terjadi sejak tiga bulan yang lalu.

Sedikitnya ada 571 jiwa yang terkena bencana pergerakan tanah, yang terjadi pada (19/2/2016). Tenda pengungsian yang kini mereka tempati sangat memprihatinkan. Kontruksi tenda yang terdiri dari kain terpal ini dirasakan tak nyaman untuk ditinggali.

Pantauan “GE” di lokasi tenda yang kini ditinggali sejumlah warga sudah tak layak lagi. Kondisi tenda yang berdempetan membuat udara pengap. Selain itu, jika hujan turun air masuk ke dalam tenda.

Salah seorang warga yang masih tinggal di tenda pengungsian, Dadang (43), semua warga yang tinggal di tenda pengungsian merasa sudah tak kerasan. Namun mereka tak bisa berbuat banyak karena rumah mereka sudah tak layak untuk ditinggali.

Sementara itu, tempat relokasi sementara para pengungsi yang dijanjikan Pemkab Garut baru terealisasi dua unit. Sehingga tak cukup menampung semua pengungsi korban pergerakan tanah.

Mereka berharap, pemerintah segera merealisasikan  janji untuk membangun tempat relokasi. Pasalnya banyak warga yang sudah merasakan dampak dari kumuhnya tenda pengungsian.

“Sudah tak nyaman pa tinggal di sini. Gatal-gatal dan pengap. Bahkan banyak pengungsi yang menderita batuk-batuk,” ujar Wati (35) yang masih tinggal di tenda pengungsian, Rabu (4/5/2016). (Farhan SN)***