Peternak Itik di Desa Situsari Hadapi Inefisiensi Usaha

KARANGPAWITAN,(GE).- Bagi hampir separuh masyarakat Kampung Bojongsari Desa Situsari Kecamatan Karangpawitan, beternak itik merupakan sumber penghasilan pokok di samping bercocok tanam jeruk keprok Garut. Kondisi geografis wilayah yang berupa dataran pesawahan subur turut menunjang eksisnya para peternak itik di kampung tersebut hingga saat ini.

Namun, keberlangsungan peternakannya masih dilakukan secara tradisional. Hasil usaha beternak itik pun belum sepenuhnya optimal. Cara tradisional itu salah satunya dalam sistem penetasan telur. Mereka masih menggunakan sistem tetas eram. Dengan cara alamiah ini siklus panen telur sedikit lebih lama ketimbang menggunakan mesin penetas telur.

Kendati tidak memiliki sarana berteknologi, peternak mampu mengembangkan populasi ternak itiknya. Yaying (30), salah satu contohnya. Ia kini memiliki hampir 1.000 ekor itik jenis lokal hasil jerih payahnya selama kurun waktu 5 tahun. Padahal saat memulainya pada tahun 2010 hanya memiliki 5 ekor itik indukan. Capaiannya ini berkat keseriusannya dalam menjalankan peternakannya.

Dikatakannya, belum lama ini, harga jual seekor anak itik baru tetas (day old duck/DOD) Rp 9.000. Sedangkan untuk indukan atau itik masa produktif mencapai Rp 70.000 per ekor.
Dari 1 ekor itik indukan, dapat menghasilkan sebanyak 25 telur dalam waktu 1 bulan dengan tingkat keberhasilan tetas sekitar 20 telur. Sementara, 5 buah telur atau 20%-nya merupakan angka risiko gagal tetas.

“Harga 1 ekor anak itik (DOD) kan Rp 9.000. Sementara untuk 1 buah telur hanya Rp 2.000. Jadi, secara keuntungan kita lebih memilih menetaskan telur dan kemudian menjual dalam bentuk anak itik meski harus sedikit sabar menunggu,” katanya.

Ditambahkannya, bila sistem perawatannya bagus, masa produktif bertelur itik indukan di daerahnya bisa sampai 2 tahun. Hanya saja, dirinya dan juga para peternak lainnya masih menggarap dengan cara tradisional dari mulai perawatan, pakan, hingga penetasan.

Walaupun demikian, Yaying mengaku dari beternak itik ini dapat menjadi sumber pokok pendapatan keluarga yang lumayan. Ia pun bercita-cita agar para petani dan pelaku ternak di daerahnya bisa berhasil dan menjadi sumber inspirasi banyak orang.

“Misalnya untuk para peternak itik. Selama ini kan masih dengan cara tradisional. Tapi hasilnya memang sudah lumayan. Nah, saya berhitung apalagi jika dibantu dengan perlengkapan modern, seperti mesin penetas misalnya. Ini akan lebih menunjang dan meningkatkan tarap ekonomi para peternak di sini. Dengan begitu bisa terjadi percepatan ekonomi dengan mempersingkat dan meminimalisir risiko masa tetas,” tuturnya.

Selama ini, katanya, bila ingin menetaskan telur melalui mesin penetas, para peternak harus membawa telur ke sebuah tempat jasa penetasan telur Kecamatan Leles. Hanya saja biaya cukup membengkak.

“Disamping biaya tetas Rp 2.000/telur, kita juga kena biaya transportasi yang cukup tinggi berikut resiko perjalanan. Ini sedang kita sama-sama pikirkan jalan keluarnya agar di Desa Situsari ini tersedia mesin penetas telur. Kebetulan Bu Kades juga sangat respon pada nasib para pelaku tani dan ternak di sini. Insya Allah ada jalan,” ujarnya.

Keterbatasan modal seperti yang dialami peternak itik petelur di Desa Situsari itu memang membuat kebanyakan peternak memilih pemeliharaan secara tradisional. Sulit bagi mereka untuk menerapkan pola intensif yang memerlukan sokongan dana.

Bank Indonesia, dalam publikasi mengenai Pola Pembiayaan Usaha Kecil (PPUK) Usaha Itik Petelur, menyebutkan, aspek investasi dan teknologi merupakan faktor kunci yang membuat peternak memilih cara pemeliharaan itik petelur tradisional.

Pemeliharaan tradisional memerlukan modal rendah dan teknologi lebih mudah dibandingkan dengan pemeliharaan itik petelur intensif. Namun apabila modal untuk investasi tersedia dan teknologi mampu dikuasai, maka dipastikan peternak memilih pemeliharaan itik petelur intensif.

Dengan pemeliharaan itik petelur intensif, akan diperoleh kelebihan-kelebihan yang sangat diperlukan dalam keberhasilan usaha.

Dituliskan, beberapa aspek penting yang merupakan kelebihan pemeliharaan itik petelur intensif adalah efisiensi tenaga kerja dan produktivitas pekerja yang lebih tinggi serta penanggulangan penyakit yang lebih mudah dibandingkan dengan pemeliharaan itik petelur tradisional. Kelebihan-kelebihan ini tentunya akan menghasilkan biaya produksi pemeliharaan intensif yang lebih rendah dibandingkan dengan pemeliharaan tradisional dan pada akhirnya pemeliharaan itik petelur intensif akan lebih menguntungkan daripada pemeliharaan itik petelur tradisional. (DONI)***

BAGIKAN