Pertama di Indonesia, Selaawi Dirancang jadi Destinasi Wisata “Halal Tourism”

SEJUMLAH pengunjung saat berswafoto di area Leuweung Oko di Desa Cirapuhan, Kecamatan Selaawi, Garut, Jawa Barat, Minggu (22/10/17).*

PEMERINTAH kecamatan, desa serta seluruh masyarakat Kecamatan Selaawi saat ini berupaya mendongkrak potensi wisata. Beberapa Waktu sebelumnya, Desa Samida secara resmi sudah dijadikan desa wisata. Kini giliran Desa Cirapuhan yang sudah membuka area wana wisata bertemakan hutan pinus, yang biasa disebut “The Great Oko”.

The Great Oko merupakan salah satu wahana wisata alam yang mulai dikunjungi ribuan warga. The Great Oko terkenal dengan keindahan dan kesejukan hutan pinus. Berawal dari ide Paguyuban Alumni Angkatan Sembilan Lima (PAASA) SMPN 1 Selaawi yang tertarik dengan potensi Leuweung Oko, kini area hutan tersebut disulap menjadi area wisata alam menarik.


Setelah anggota paguyuban yang dibantu warga dan pemerintahan setempat menata Hutan Oko, kini pengunjung The Great Oko cukup membeludak. Salah seorang anggota PAASA sekaligus pengelola The Great Oko, Ayep Muhammad Saepuloh, menuturkan, di hari-hari biasa saja pengunjung The Great Oko melampaui angka seratus orang. Sedangkan di hari libur, bisa tembus seribu bahkan seribu lima ratus orang pengunjung.

“Untuk harga tiket, sementara ini belum ada ketetapan, jadi hanya seikhlasnya saja. Manfaat lain yang bisa didapatkan oleh para pengunjung, selain berwisata murah, The Great Oko ini memberikan pengetahuan di sisi edukasi, yaitu bisa langsung menyaksikan bagaimana proses penyadapan getah pinus.

Bagi wisatawan yang hobi selfie, The Great Oko ini sangatlah cocok. Dengan panorama alam yang asri, rumah pohon, ayunan serta panorama pemandangan nan indah akan memuaskan para pengunjung,” ungkap Ayep, Minggu (22/10/2017).

Tidak cukup di situ, kawasan wisata di Kecamatan Selaawi ini rencananya akan terus dikembangkan. Camat Selaawi, Ridwan Effendi, mengatakan, beberapa titik-titik kawasan wisata di Selaawi akan dijadikan satu rangkaian atau paket wisata.

“Rangkaian wisata tersebut akan diberi tema “Halal Tourism.” Walaupun belum ada standarisasi mengenai halal tourism, tetapi kita akan coba menyesuaikan dengan tema tersebut. Setidaknya, halal tourism ini harus mengacu pada “4F” yaitu “Food, Fashion, Financial serta Fun” yang harus dilandasi oleh norma-norma agama sehingga akan lahir istilah halal tourism,” kata Ridwan.

Dikatakannya,untuk food atau makanan yang dikonsumsi pengunjung atau pedagang di tempat wisata harus halal. Selanjutnya Fashion atau pakaian, dalam hal ini pengunjung dan pengelola wisata diwajibkan mengenakan pakaian yang sopan sesuai dengan nilai-nilai kearifan lokal.

“Artinya tidak boleh mengumbar aurat. Sedangkan untuk Financial atau keuangan yang digunakan oleh pengelola, setidaknya bersumber dari lembaga keuangan berbasis syariah. Dan yang terakhir adalah Fun atau kesenangan yang mengarah ke permainan. Permainan yang akan disediakan oleh pengelola paket wisata di Selaawi akan lebih mengarah ke nuansa religius,” ungkapnya.

Ditambahkannya, jenis permainan yang akan disediakan yaitu berkuda, memanah dan berenang. Yang penting, destinasi wisata yang ada Kecamatan Selaawi harus menghindari atraksi atau hiburan yang bisa menimbulkan kemadaratan.

Walaupun potensi alam dan kultur Selaawi sudah sangat mendukung akan program dan rencana di atas, tetapi semua itu harus dijalankan secara bertahap. “Saya yakin jika ada keseriusan dari semua pihak, semua rencana ini bisa terlaksana. Yang paling penting, dengan adanya destinasi wisata di Selaawi bisa dirasakan manfaatnya oleh semua pihak,” pungkasnya. (Useu G Ramdani)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI