Permintaan Terakhir (oleh : Anne A. Permatasari)

Permintaan Terakhir
oleh : Anne A. Permatasari

Rindu, menghanguskan diri menjadi jelaga 
sayangnya, pekat berwarna darah
mengubah jernih hati
jadi pukat berperangkap
memberontak liar, tak terhalang
tak bisa lagi kuikat pada sebuah diksi romantik.

Tatapku beku tertuju padamu:
Aku Rindu.

“Aku menyerah…” tulisku penuh kekalahan.
“Pada apa?” jawabnya seketika tanpa kuduga. Setelah begitu lama dia mengujiku dengan kebisuan.
“Rindu. Kau… katakanlah sesuatu. Tentang marahmu, tentang lukamu, tentang bencimu, tentang apapun. Jawablah bukan dengan kebisuan.”
“Aku telah mengalah pada takdir. Tak ada yang bisa kulakukan. Tanpa perasaan yang sama darimu, apalah arti semua itu?”

Memanjang sudah luka. Aku dan dia adalah dua kata yang tak pernah bisa lebur menjadi ‘kami’.
“Jika kita tak bisa saling memiliki dengan utuh, apa yang rela kau berikan untuk kumiliki?” tanyaku.
Dia membisu.

“Bahkan sekedar angan pun, tak mau kau berbagi lagi?” Kudesak dia.
Dia tetap membisu. Aku tahu artinya itu.
*****
“Tak bisakah kita seperti ini saja?” pintaku pada suatu pertemuan yang disetujui, ketika rindu tak lagi bisa dikelabui.
“Tidak. Kau bisa kumiliki atau tidak, hanya itu jawabannya!”jawabmu tegas.

Aku tersentak, lalu mengundurkan diri. Pintu harapku pelahan tertutup rapat.
Aku berbalik arah, menempatkan, dan menguncinya dalam sebuah file tak bernama. Dia menarik tanganku dengan keras, penuh amarah, membalikkan arah mukaku.

“Kenapa kau tak berani menatap mataku?” tantangnya dengan kejam.
Aku tersenyum pahit.
“Kau takut menemukan sesuatu ya?” desaknya.
Aku tertawa hambar
“Apa? Cinta? Tenanglah… kau sudah tak kan menemukannya lagi di sana,” lanjutnya dingin.
Aku menantap tepat ke arah matanya.
“Dia telah kuletakan di sini. Kupasung dengan jeruji yang tajam. Kumatikan diam-diam,” ujarnya menunjuk ke arah tempat hatinya bersemayam. Aku menatap kekecewaan yang belum pergi darinya.
‘Kau tuh…,” elakku, “…semua kau taruh di situ. Cita, bahagia, luka, derita. Memangnya, masihkan ada lahan untuk itu?”
“Aku menyimpanmu utuh di sana. Menggantikan keping hati bernama cinta. Kepingan hati yang telah kuberikan kepadamu dengan suka rela. Di mana letaknya di hatimu sekarang?”
Aku tersentak.

Ya, di mana kini kusimpan cintanya padaku?
Aku tak mau menjawab. Bukan! Aku tak bisa menjawabnya. Cintanya kepadaku, telah larut dalam tiap partikel perasaan.
Kukumpulkan nyali di serakan asa yang patah.

“Dia kupindahkan ke sini. Pada logika dan kenyataan,” tunjukku pada kening. Jawaban itu tiba-tiba kutemukan tepat pada saat sekilas wajah, pemilik cincin di jemari kiriku yang berada jauh di belahan bumi lain, melintas dan mencengkram hati.

Dia tertawa berat. Penuh ironi untukku. Tapi aku akan menerimanya jika itu bisa meringankan dendam hatinya.
Aku memaklumi semua rasa sakit yang dia rasa. Kami pernah berada dalam masa yang sama. Membaca dan mengisi halaman yang sama. Berbagi canda tawa. Sampai akhirnya, suka dan cinta tumbuh menjadi putik yang indah.  Ketika dia memintaku memilih, aku tak punya keberanian. Ada banyak hal yang harus dipertaruhkan. Dia tahu itu.

Aku hanya menatapnya hampa, masih dengan satu kengerian akan makna hilang.
“Jika ternyata cinta tak dapat kita miliki, bisakah kita tidak saling menyakiti?” pintaku dalam hati.
Tak ada yang bisa kuharap lagi. Hanya itu permintaan terakhirku. Semoga saja dia mendengarnya sebelum semua berubah menjadi sebuah elegi.
(120417)

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI