Perkelahian Anak Kades, Berikut Penuturan Keluarga Terlapor

KUASA hukuim terlapor kasus penganiayaan, Syam Yousep, SH (kiri) saat mendampingi orang tua terlapor Ernawati (kanan) usai memberikan keterangan Pers di Tarogong Kaler, Kamis (21/7/2016).*

TAROGONG, (GE).- Kasus perkelahian yang melibatkan anak Kepala Desa Tegalgede, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, ternyata mendapatkan tanggapan berbeda dari keluarga pelaku. Berdasarkan penuturan Kades Tegalgede, Kartika Ernawati, yang didampingi kuasa hukumnya mengatakan jika perkelahian itu terja seperti perkelahian anak muda pada umumnya.

“Tidak ada unsur penganiayaan. Itu dilakukan seperti perkelahian anak muda pada umumnya,” kata Ernawati.

Ernawati mengatakan, dirinya sangat menyayangkan terhadap pernyataan yang mengatakan anaknya melakukan pengeroyokan. Menurut Kartika, itu tidaklah benar. Dirinya mengakui, memang sempat terjadi kontak fisik, antara anaknya yang bernama Rendi dan Randi dengan warga lainnya yamg bernama Fikri hidayat (16).

Tetapi itu bukanlah bentuk pengeroyokan, namun murni perkelahian, karena tidak dalam waktu yang bersamaan. Selain itu, Kades Tegalgede ini sangat heran terhadap tindakan yang di lakukan oleh kerabat fikri, yang melaporkan kejadian itu ke pihak kepolisian. Pasalnya perkara ini sudah diselesaikan secara kekeluargaan.

“Padahal usai kejadian perkelahian yang terjadi pada hari minggu malam (17/07/2016) pukul 20 Wib tersebut langsung di adakan pertemuan dengan keluarga fikri. Sebagai kepala desa, dirinya menawarkan kepada keluarga fikri mengenai cara penyelesaian permasalahan tersebut. Keluarga Fikri meminta diselesaikam secara kekeluargaan,” kata Ernawati kepada Wartawan, Kamis (21/7/2016) malam.

Kemudian, lanjut Ernawati, musyawarah yang berlangsung sekitar pukul 23 itu, menghasilkan kesepakatan damai antara kedua belah pihak. Bahkan Kartika sempat memberikan uang untuk biaya pengobatan Fikri atas luka yang diderita akibat berkelahi dengan anaknya.

Selain itu, memberikan uang senilai Rp 400n ribu, kepada Fikri, Kartika mempersilahkan Fikri untuk datang minta uang pengobatan jika uang yang sudah di terimanya dirasa tidak cukup. Namun sebagai warga negara yang baik, Kartika akan siap mendampingi anaknya, jika perkara itu harus di selesaikan secara hukum.

“Saat musyawarah itu, orang tua Fikri hadir. Bahkan mengatakan jika itu semua sudah dianggap selesai,” tambah Kartika.

Sementara itu, kuas hukum pelaku, Syam Yousef, SH, lebih mempertanyakan kapasitas Ade Manadin yang memberikan pernyataan di media. Yousep menilai, Ade Manadin terkesan menyudutkan keluarga Kartika secara sebelah pihak.

“Saya sangat heran, dalam pernyataan saudara Ade Manadin di media, yang mengatakan dirinya sebagai guru sekolah Fikri. Kasus ini kan terjadi di luar jam sekolah,” kata Syam.

Lebih mengherankan lagi, kata Yousep, kenapa Ade Manadin bisa-bisanya memberikan pernyataan seakan-akan dirinya tau persis kejadiannya. Padahal, saat terjadi perkelahian Ade Manadin sedang berada di Solo.

“Selanjutnya pihak kami akan menunggu apa yang menjadi niat keluarga Fikri yang sudah melapor ke Polisi. Jika kesepakatan damai secara kekeluargaan yang sudah disetujui dan di saksikan oleh banyak warga tetsebut, di ingkari keluarga saudara Fikri. Tetapi kami juga berniat melapor balik mengenai permasalahan ini, apabila harus di selesaikan secara hukum,” pungkas Yousef. (Useu G Ramdani)***