Perbaikan Drainase di Garut Telan Anggaran Rp 7,8 Miliar

KOTA, (GE).- Sejumlah drainase di Kota Garut sedang diperbaiki oleh Dinas Sumber Daya Air dan Pertambangan (SDAP) Garut. Perbaikan drainase tersebut menggunakan dana APBD Kabupaten Garut tahun anggaran 2016 senilai Rp 7,8 miliar.

Dana sebesar itu, rencananya akan digunakan untuk merehabilitasi drainase sepanjang 2.500 meter. Proyek tersebut digagas untuk pengendalian banjir pada tujuh lokasi. Secara spesifik pembangunan tersebut akan diarahkan untuk perubahan dimensi, perubahan trase, serta rekayasa konstruksi.

Kepala Bidang Konservasi pada Dinas Sumber Daya Air dan Pertambangan (SDAP) Kabupaten Garut, Iwan S Wiradisastra mengatakan saluran pada masing-masing lokasi rata-rata diperlebar dari semula 40 cm menjadi satu meter. Bahkan, pada lokasi saluran seputar Bundaran Simpang Lima, diperlebar dari semula 60 cm menjadi 1,2 meter.

Dikatakan Wiradisastra, proyek tersebut nantinya akan berfungsi sebagai pengendalian banjir. Pasalnya, di seluruh kawasan perkotaan ini terdapat sedikitnya 118 lokasi saluran yang mendesak segera direhabilitasi.

Sedangkan yang direhabilitasi tahun ini hanya tujuh lokasi pada lima wilayah kecamatan. Sedangkan pada tahun anggaran 2015 lalu, direhabilitasi 11 lokasi saluran.

“Sehingga masih terdapat sedikitnya 100 lokasi saluran yang harus segera direhabilitasi,” katanya kepada “GE”, Senin (01/8/2016).

Dikatakannya, kegiatan pembangunan rehabilitasi pada tujuh lokasi saluran sudah selesai 30 persen. Proyek ini, kata Iwan, merupakan atensi Bupati Garut, Rudy Gunawan yang prihatin melihat banyak saluran drainase yang tidak berfungsi. Jadi beliau akan terus fokus untuk memperbaiki drainase agar jalan di perkotaan tak tergenangi banjir lagi.

Masih menurut Iwan, fenomena banjir pada saluran hingga air meluap pada badan jalan, di antaranya akibat terjadinya penumpukan sedimen ragam jenis sampah, serta penyempitan rase. Karena itu, sangat diharapkan kesadaran juga peran sereta seluruh masyarakat. Agar tak membuang sampah pada sembarang tempat.

Namun proyek pembangunan drainase ini, ternyata ditanggapi negatif oleh sebagian warga. Pengerjaan proyek APBD Kabupaten Garut tersebut dinilai manajemen pengerjaannya sangat buruk sehingga tampak semrawut akibat gundukan tanah bekas galian saluran air.

“Ini harusnya manajemen pengerjaan yang dilakukan pemborong benar benar diawasi karena proyek tersebut membuat tidak nyaman”, Kata Nova Sanjaya warga Tarogong Kidul, Senin (01/8/2016).

Nova menilai para pemborong pengerjaan proyek gorong-gorong dan trotoar kurang memiliki kecakapan dalam pengerjaan.

“Seharusnya kan tidak boleh membiarkan gundukan tanah lebih lama dipinggir jalan selain mengganggu juga membuat sesak melihatnya”, Ungkapnya.

Para pekerja yang mengerjakan proyek tersebut juga tampak mengerjakannya kurang rapi. Sehingga trotoar yang baru beres diperbaiki sudah tampak kusam lagi.

Sejumlah warga lainnya juga menyesalkan buruknya manajemen pengerjaan proyek di Garut. Mereka khawatir akan berpengaruh juga terhadap kualitas pekerjaan proyek tersebut.

Sementara itu,Bupati Garut Rudy Gunawan dalam berbagai kesempatan selalu mengatakan akan menindak tegas jika ada pemborong yang mengerjakan proyek di Garut asal asalan. “Kita akan tindak tegas kemungkinan sanksinya bisa diblack list pemborongnya”, Tegas Rudy baru baru ini kepada wartawan. (Farhan SN)***