Pentingnya Deteksi Dini Penyakit Kusta

Oleh : Adi Rustawa Dati 

Mycobacterium leprae adalah kuman penyebab kusta yang pertama kali ditemukan  oleh seorang ilmuwan barat yang bernama G.H. Armauer Hansen pada tahun 1873. Mycobacterium leprae hidup di dalam sel inang (intraseluler) terutama pada sel saraf (schwan cell) dan sel dari sistem retikuloendotelial.

Untuk mengenang jasa penemu pertama bakteri tersebut,kalangan praktisi medis kadang-kadang menyebut “Morbus Hansen” sebagai nama diagnosis medis bagi penyakit kusta atau lepra.


Sebagai mikroba ( jasad renik )yang berjenis tumbuhan bersel satu, maka Mycobacterium leprae sensitif terhadap antibiotika yang spesifik. Dengan kata lain kuman penyebab penyakit kusta tersebut dapat dibunuh, yang berarti proses infeksi pada tubuh manusia yang menderita penyakit kusta tersebut dapat dihentikan.

Ini salah satu contoh tangan manusia penderita kusta.***

Namun sayang, masyarakat pada umumnya tidak mengetahui tentang hal ini, yang berdampak adanya pengucilan atau stigma bagi penderita penyakit kusta. Biasanya masyarakat memiliki rasa khawatir yang  berlebihan bila bersentuhan dengan penderita penyakit kusta atau lepra, padahal proses penularan tidaklah mudah.

Tidak banyak orang yang akan terjangkit penyakit kusta setelah mengalami kontak dengan penderita, hal ini oleh sebabadanya daya tahan tubuh. Mycobacterium leprae sebagai bakteri obligatintraseluler secara efektif akan dimusnahkan oleh sistem kekebalan seluler.

Oleh karenanya hingga saat ini Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization / WHO) masih memegang teori bahwa dari 100 orang yang terpaparkumanMycobacterium leprae, 95 orang tidak menjadi sakit, 3 orang sakit dan sembuh sendiri tanpa obat, 2 orang menjadi sakit dan memerlukan pengobatan.

Orang yang tertular penyakit kusta biasanya orang yang satu rumah denganpenderita kusta, tetangga atau teman sekolah yang ada kontak dengan penderitakusta dalam kurun waktu yang cukup lama.

Dan penderita yang telah mengkonsumsipaket obat kusta standar WHO yang biasa disebut MDT (MultiDrugTherapy) tidak akan menjadi sumber penularan, karena kuman yang ada dalam tubuh penderita kusta tersebut sudah tidak utuh lagi (fragmented), sementara syarat kuman yang bisa ditularkan kepada orang lain adalah kuman yang masih utuh (solid) yang berarti kuman tersebut masih hidup.

Walaupun kuman kusta masih satu genus dengan kuman penyebab penyakit tuberkulosis tetapi ada perbedaan karakteristik dari kedua kuman tersebut, salah satunya adalah waktu pembelahan sel kuman penyebab kusta relatif lebih lama yaitu 2-3 minggu.

Diluar tubuh manusia (dalam kondisi tropis) kuman kusta dari cairan (sekret) hidung dapat bertahan sampai 9 hari. Kuman kusta dapat menyerang organ tubuh di bagian mana saja kecuali susunan saraf pusat (otak dan medulla spinalis) oleh karenanya kuman kusta tidak menyebabkan manusia mengalami gangguan jiwa organik.

Namun demikian kuman kusta dapat menyerang susunan saraf tepi ( perifer ) dan pada akhirnya dapat menimbulkan kecacatan yang permanen.Biasanya cacat kusta mengikuti kerusakan pada saraf-saraf utama, seperti : N.Facialis, N. Auricularis Magnus, N. Radialis, N. Medianus, N. Ulnaris, N.peroneuscommunisdan N. Tibialis Posterior.

Oleh karena adanya kerusakan pada saraf-saraf tersebut baik sebagian atau seluruhnya, maka dapatkita jumpai penderita kusta yang terlambat ditangani, memiliki kecacatanantaralain: lagopthalmus( kelopak matanya tidak bisa menutup rapat ) yang dapat menyebabkan kebutaan, adanya mati rasa pada tangan dan kaki yang dapat menyebabkan adanya kecelakaan karena organ tersebut tidak bisa menghindari dari bahaya trauma mekanik, thermis, kimiawi, dan yang lainnya.

Juga sering kita jumpai penderita kusta yang jari tangan maupun kakinya kaku bahkan hilang (absorpsi maupun mutilasi) yang menyebabkan adanya ketidakmampuan (disability ) yang berdampak pada rendahnya bahkan hilangnya produktivitas kerja penderita penyakit kusta. Belum lagi dengan adanya respon immunitas yang patologis pada penderita penyakit kusta terhadap kuman kusta yang sering dikenal dengan istilah “reaksi” yang perlu penanganan secara khusus.

Demikian buruknya persoalan yang dihadapi penderita penyakit kusta maka semua pihakharus ikut serta dalam upaya memberantas penyakit kusta dengan cara membantu menemukan penderita kusta secara dini, dan membawa ke pusat pelayanan kesehatan terutama milik pemerintah untuk memperoleh pengobatan sesuai standar WHO.

Hingga saat ini obat kusta dapat diperoleh secara gratis. Sebagai dasar pengetahuan yang harus kita miliki tentang kusta, paling tidak kita mengenal tanda-tanda orang yang mengalami sakit kusta atau dikenal dengan istilahcardinal sign ( tanda utama ).

Bila ada salah satu dari ketiga tanda utama tersebut apalagi lebih, maka orang tersebut perlu diperiksa olah tenaga kesehatan yang telah memiliki kompetensi dengan memperhatikan privacy  serta rasa aman dan nyaman bagi penderita.Berikut ini cardinal sign : a) Lesi atau kelainan kulit yang mati rasa (anaesthesi ), kelainan tersebut bisa berwarna putih ( hypopigmentasi ) atau kemerahan ( erithematous ); b) Penebalan saraf tepi yang disertai gangguan fungsi baik sensorik ( mati rasa ), motorik ( kelemahan / parese atau kelumpuhan / paralise ), otonom ( kulit kering dan retak-retak ); c) Ditemukan adanya bakteri tahan asam ( BTA positif ) pada kerokan jaringan kulit ( skin smear ).

Cardinal sign pada point b dan c biasanya diketahui oleh tenaga kesehatan yang terlatih melalui berbagai prosedur pemeriksaan.

Demikian pentingnya deteksi dini pada penyakit kusta diharapkan sebagai upaya untuk dapat mengobati penderita kusta sebelum mengalami kecacatan yang permanen serta dapat memutus mata rantai penularan penyakit kusta secara cepat dan menyeluruh.

Dengan motto sayangi penderita kusta, perlakukan secara manusiawi dan berdayakan mereka dengan penuh ketulusan.

( Penulis pernah mengikuti Diklat Pengelola Program Pemberantasan Penyakit Kusta di PLKN Makassar angkatan 146, tahun 2010, The course funded by Netherlands Leprosy Releaf / NLR ).

 

 

 

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI