Pengusaha Farmasi, Apotek dan Jamu Deklarasi Tolak Obat Ilegal

Simposium dan deklarasi penolakan peredaran obat ilegal, di Aula Gedung Fakultas Ekonomi UNIGA, Rabu (4/10/17).

GARUT, (GE).- Pengusaha bidang farmasi, apotek dan jamu, mendeklarasikan penolakan peredaran obat ilegal di wilayah Kabupaten Garut. Deklarasi tersebut digelar berbarengan dengan kegiatan simposium yang dipusatkan di Aula Gedung Fakultas Ekonomi (Fekon) Universitas Garut (UNIGA), Jalan Raya Samarang-Garut, Blok Hampor, Rabu (4/10/17).

Kegiatan tersebut dihadiri Ikatan Apotek Indonesia (IAI), Persatuan Pengusaha Farmasi Indonesia (PAFI), dan Pengusaha Jamu Garut (PJG) dengan narasumber dari Dinas Kesehatan (Dinkes), Badan Narkotika Nasional (BNN), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPPOM) dan Satuan Narkoba (Satnarkoba) Polres Garut.

Usai acara, Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinkes Garut, dr. Tri Cahyo mengatakan, simposium dan deklarasi penolakan obat-obatan ilegal merupakan ide dari IAI, PAFI dan Gabungan Pengusaha Jamu Garut. Menurut Tri, poin penting dalam kegiatan tersebut yaitu penekanan fungsi masing-masing lembaga dalam mencegah peredaran obat-obat terlarang.


“Disini Dinkes berlaku sebagai pembinaan dan pengelolaan obat sarana keparfamasian. Badan POM sebagai pengawasan, BNN sebagai pencegahan dan Polres Satnarkoba sebagai penindakan,” ungkapnya.

Di lain pihak, Ketua IAI Agus Hilman memaparkan, simposium ini bertujuan untuk mencegah penyalahgunaan obat dan peredaran obat terlarang di Kabupaten Garut. “Hal itu (penolakan) yang menjadi konsen kami sebagai keluarga besar farmasi dan saya mengapresiasi upaya sangat luar biasa ini sehingga deklarasi bisa terjadi,” ucapnya.

Agus Hilman pun menegaskan, Garut bebas dari peredaran obat PCC (paracetamol caffein carisoprodol). Deklarasi digelar supaya terjadi saling pemahaman di semua pihak. Sementara ekspektasinya adanya sebuah kesadaran bahwa Garut bisa terus terjaga dari hal-hal yang tidak baik.(Fauziani)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI