Pengikut Rasul Akhir Zaman di Garut Terus Bertambah, MUI Desak Kejari Segera Eksekusi Sensen Komara

Garut, (GE).- Majlis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut mendesak Kejari Garut agar segera mengeksekusi, Sensen Komara, yang telah menyebarkan agama sesat. Sejak divonis bersalah oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Garut pada 2012, Sensen Komara yang mengaku sebagai rasul masih berkeliaran bebas.

Ketua MUI Garut, Sirodjul Munir mengatakan, eksekusi dari putusan hakim tak kunjung dilaksanakan. Akibatnya, kini Sensen leluasa menyebarkan ketakinannya yang menyimpang.

“Dari 2012 sampai sekarang (Sensen Komara) tak dieksekusi. Tidak melaksanakan amar putusan hakim,” kata Sirodjul di Fave Hotel, Senin (3/12/2018).


Ia mengingatkan kepada pemerintah dan kejaksaan untuk segera mengeksekusi Sensen. Seharusnya Sensen menjalani rehabilitasi di RSHS, Bandung.

“Memang di RSHS tak ada ruangan untuk penyakit jiwa. Tapi seharusnya setelah diperiksa di RSHS bisa dirujuk ke rumah sakit jiwa,” ucapnya.

Keberadaan Sensen yang masih berkeliaran, disebut Sirodjul malah kembali menyebarkan ajarannya. Keberadaan aliran Sensen sudah jelas meresahkan masyarakat.

“Sejak 2012 ada yang dilupakan karena Sensen belum kunjung direhabilitasi. Masalah pembiayaan dibebankan ke pemerintah daerah dan provinsi,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, Satu keluarga di Garut ikrar menjadi pengikut Sensen Komara yang mengaku sebagai rasul akhir zaman. Dalam surat yang beredar tertanggal 20 November 2018, Hamdani beserta empat anggota keluarganya membubuhkan tanda tangan di atas materai. Dalam surat yang ditulis tangan itu, Hamdani dan keluarganya mengakui Sensen sebagai rasul Allah.

Pernyataan, Hamdani dan anggota keluarganya itu, diyakinkan dengan tulisan kalimah syahadat. Kalimah syahadat yang dituliskan dalam surat itu berbunyi.

“Ashadu Anla Ilaha Illaloh Wa Ashadu Anna Bapak Drs. Sensen Komara Bin Bapak Bakar Misbah Bin Bapak KH Musni Rosulalloh,” tulis Hamdani.

Surat itu ditembuskan Hamdani kepada aparatur pemerintah. Mulai dari Ketua RT sampai Presiden Indonesia, serta TNI dan Polri.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), Wahyudijaya, menyebut sudah mendapat informasi terkait Hamdani yang mengakui Sensen sebagai rasul. Pernyataan itu juga sudah ditanggapi MUI Kecamatan Caringin dengan membuat laporan ke Polsek Caringin.

“Sekarang sudah diproses. Kami juga sudah pantau aktivitas Hamdani,” ujar Wahyu di Lapangan Setda Pemkab Garut.

Wahyu mengatakan, Sensen bukan orang baru di Kabupaten Garut. Ia sudah dikenal karena sempat mengaku sebagai nabi sekitar tahun 2011. Pengikut Sensen diklaim mencapai ribuan orang.

Wahyu, menyebut pihaknya mempertanyakan kembali hukuman inkrah kepada Sensen yang disebut alami gangguan jiwa.

“Dulu memang ada rekomendasi dari psikiater bahwa dia gila. Tapi kok masih ada aktivitas yang dilakukan oleh Sensen,” ujar Wahyu di Lapangan Setda Pemkab Garut, Senin (3/12/2018).

Menurut Wahyu, MUI Garut sudah mewacanakan kembali putusan pengadilan kepada Sensen. Pihaknya meminta kepada Badan Koodinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) untuk menerbitkan rekomendasi terkait aliran sesat Sensen.

“MUI sudah pertanyakan kembali serta akan menggugat keputusan pengadilan yang menyatakan Sensen keluar dari jeratan hukum,” katanya.

Bukan hanya mengaku sebagai rasul, Wahyu menyebut Sensen juga mengikrarkan diri sebagai seorang presiden. Secara intensif, pihaknta terus memantau aktivitas Sensen dan pengikutnya.

Sensen telah diadili pada tahun 2012. Majelis hakim menyatakan ia bersalah. Namun seluruh perbuatannya tidak dapat dipertanggungjawabkan. Pasalnya dari hasil pemeriksaan dokter, Sensen mengalami gangguan jiwa.

Majelis hakim akhirnya memutuskan Sensen untuk menjalani perawatan di rumah sakit jiwa selama satu tahun.

Sebelum nama keluarga Hamdani di Caringin muncul sebagai pengikut Sensen, pada 2017 ada nama Wawan Setiawan (52), warga Desa Tegalgede, Kecamatan Pakenjeng. Ia mengaku sebagai jenderal bintang empat Negara Islam Indonesia (NII). Wawan juga menjadi pengikut Sensen.

Wawan akhirnya dicokok polisi dan menjalani persidangan. Majelis hakim memutuskan Wawan bersalah karena terbukti melakukan perbuatan makar dan penodaan terhadap agama. Ia dihukum 10 tahun penjara.

Ia juga mengubah arah salat dari barat ke timur. Bahkan saat diperiksa di Mapolsek Pakenjeng, Wawan mempraktikan salat menuju ke timur.

Meski Sensen telah dicap mengidap gangguan jiwa, ajarannya tetap menyebar luas. Hingga kini, masih ada yang mengakui Sensen sebagai rasul. (Farhan SN)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI