Pengecer Gas 3 Kg di Atas HET Tidak Bisa Disanksi, ini Sebabnya

Garut, (GE).- Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) mengaku kesulitan mengontrol Harga Eceran Tertinggi (HET) gas 3 KG di tingkat pengecer. Itu sebabnya Hiswana dan pemerintah terkait belum bisa memberikan sanksi kepada pengecer yang menjual gas 3 kg di atas HET.

Saat ini HET gas 3 Kg bervariasi atara Rp 16.000 hingga Rp 18.000. Harga tersebut ditetapkan sesuai jarak tempuh pengiriman.

Ketua Hiswana Migas Kabupaten Garut, Iday Hidayatulloh mengatakan, pihaknya hanya bisa memantau pendistribusian gas sampai tingkat pangkalan. Gas yang sudah beredar di pengecer, sulit untuk dipantau.


“Di agen dan pangkalan, kami bisa pantau stok dan harganya. Kalau harga jual di agen dan pangkalan tak sesuai HET (harga eceran tertinggi), bisa kena sanksi,” katanya.

Terkait harga jual di eceran yang tak sesuai HET, Iday belum bisa mengambil tindakan. Pihaknya dan pemerintah tak bisa memberi sanksi kepada pengecer jika menjual melebihi ketentuan.

“Tapi kami usahakan setiap pangkalan bisa memantau harga di eceran. Agen ke pangkalan yang dipantau. Di luar itu sudah tak bisa dikendalikan. Sudah liar, tapi dasarnya minimalisir dengan laksanakan operasi pasar, dan sistem distribusi ke pengecer,” ujarnya.

Di Kabupaten Garut, tambahnya, terdapat 814 pangkalan dan 30 agen gas. Masyarakat diperbolehkan membeli gas langsung ke pangkalan.

“Kalau pangkalan tak mau menjual langsung ke masyarakat, bisa dikenakan sanksi. Apalagi kalau jual tak sesuai HET. Bisa kena PHU (pemutusan hubungan usaha),” katanya sambil menyebut suplai gas di Garut paling rendah di Priangan Timur.

Diakui Iday, terdapat beberapa pangkalan yang bermain dengan pengecer. Pihaknya sudah melakukan pendataan kepada pangkalan yang nakal.

“Selain PHU, sanksinya bisa juga dikurangi alokasinya. Sekarang pangkalan nakal sudah sedikit. Kami juga terus cek setiap saat,” ujarnya. (MHI)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI