Pemerintah Jerman Kepincut Program Penanggulangan Sampah Paragita

GITA (kanan) saat memberikan pelatihan daur ulang sampah di salah satu desa di Garut.*

KURANGNYA kepedulian dari pemerintah setempat tidak dijadikan sebagai kendala berarti untuk terus berkarya. Dengan bermodalkan kegigihan dan dan keiklasan, akhirnya karya itupun malah mendapatkan perhatian dari negara lain.

Hal itulah yang kini dialami Komunitas Lingkungan Hidup Yayasan Paragita yang selama ini konsen dalam masalah penanganan dan pengelolaan sampah di Kabupaten Garut. Meski sudah cukup lama melakukan aktivitas di wilayah Garut, akan tetapi seolah tak pernah dilirik oleh Pemkab Garut.

“Kita sudah tiga tahun hadir dan mengabdikan diri dalam masalah penanganan dan pengelolaan sampah di Kabupaten Garut. Semuanya kita lakukan secara swadaya tanpa adanya bantuan apapun dari pemerintah setempat,” ujar Ketua Paragita, Gita Noorwardhani, Minggu (10/9/2017).


Dikatakan Gita, dirinya terpanggil untuk turun langsung dalam masalah penanganan dan pengelolaan sampah di Kabupaten Garut. Hal ini dikarenakan selama ini sampah di Garut selalu menjadi permasalahan pelik akibat tidak adanya penanganan dan pengolahan yang baik.

Menurutnya, permasalahan sampah di Garut sebenarnya masih bisa ditanggulangi asalkan pemerintah mau berpikir kreatif. Yang harus diketahui, penanggulangan sampah tak sekadar mengangkut dari Tempat Pembuangan Sementara (TPS) ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tapi juga cara penanggulangannya yang harus dimulai dari sumbernya.

Selama ini, tutur Gita, pemerintah hanya berpikir bagaimana bisa menambah armada pengangkut sampah atau memperluas tanah untuk pembuangan sampah. Walau cara itu bisa menanggulangi masalah penumpukan sampah, akan tetapi itu sifatnya hanya sementara.

“Selama berdiri, kami sudah sering memeberikan pembinaan dan pelatihan terhadap masyarakat bagaimana cara penanganan dan pengelolaan sampah yang baik agar tidak hanya menjadi limbah. Dengan kreatifitas, sampah-smapah tersebut bisa kita buat menjadi berbagai barang berharga yang bisa menambah penghasilan kita,” katanya.

Diakuyi Gita, saat ini telah ada lebih dari 20 desa di Garut yang ikut bergabung dengan dirinya melakukan gerakan penanggulangan sampah. Dirinya hanya memberikan kemampuan mengolah sampah jadi kerajinan, lalu membuka pemasaran produk yang dihasilkannya.

“Dari komunitas yang telah dibina, rata-rata hanya dalam waktu tiga bulan mereka sudah bisa mandiri. Bahkan perkembangannya sudah melebihi harapan,” ucap Gita.

Saat ini pun, tambahnya, roadshow ke setiap desa terus dilakukan untuk memperkenalkan teknologi penanganan dan pengelolaan sampah yang baik. Sayangnya, selama ini kegiatan sosialisasi ini kurang mendapatkan dukungan atau perhatian dari Pemkab Garut.

Gita berharap, Pemkab Garut juga bisa ikut terlibat dalam menyosialisasikan penanggulangan sampah dari sumbernya ini. Hal ini penting karena bukan hanya masyarakat yang diuntungkan tapi Pemkab Garut pun bisa mengirit anggaran dalam mengelola sampah.

“Hingga sejauh ini perhatian dari Pemkab Garut masih belum kita rasakan dalam menyuskseskan program ini. Padahal keuntungannya juga dapat dirasakan Pemkab Garut karena permasalahan sampah yang selama ini sangat rumit bisa teratasi,” kata Gita.

Namun kini Gita mengaku sangat bersyukur karena meski tak pernah dilirik pihak Pemkab Garut, perjuangan yang selama ini dilakukannya ternyata mendapat perhatian dari pemerintah Jerman.

Tanpa diduga-duga, Yayasan Paragita mendapatkan undangan dari Jerman untuk membahas isu permasalahan lingkungan, salah satunya sampah.

Gita mengaku bangga dengan perhatian pihak Berufli Fortbildungszentren der Bayerschen Wirtschaft (bfz) Gemeninnutzige Gmbh yang berkedudukan di negara Jerman tersebut. Apalagi pada awalanya ada 60 komunitas lingkungan di Indonesia yang masuk nominasi mendapatkan undangan akan tetapi kemudian disaring lagi menjadi 18.

Diungkapkan Gita, sebelumnya pihaknya belum pernah melakukan kontak maupun komunikasi dengan lembaga bfz Ggmbh yang bermarkas di Jerman tersebut. Dia memperkirakan, munculnya nama Yayasan Paragita mungkin karena adanya informasi yang diberikan sesama pengiat lingkungan lainnya.

“Tujuan dari undangan tersebut bukan tanpa alasan karena sudah beberapa kali Kementrian Ekonomi dan Energi dari Jerman tersebut melakukan kerjasaama dengan Indonesia. Pada saat ini kembali dilakukan lagi dengan tema penanganan sampah dan pengelolaanya,” ujar Gita.

Dalam kegiatan di Jerman tersebut, terangnya, dirinya akan diajak berkunjung ke beberapa instansi, sekolahan, kementerian, serta lembaga lainnya. Selain untuk melihat secara langsung tata cara penanganan dan pengolahan smapah, juga akan diperkenalkan pula teknologinya.

Lebih jauh Gita mengharapkan, sepulangnya dari Jerman nanti dirinya mempunyai solusi yang lebih baik tentang tata cara penanganan dan pengolahan sampah. Ia merencanakan adanya kombinasi dari teknologi sampah yang dirinya miliki dengan yang ada di Jerman sehingga memberikan hasil yang lebih baik.

“Event ini sekaligus akan saya gunakan untuk memperkenalkan sejumlah produk hasil olahan sampah yang kita miliki,” tandasnya.(Farhan SN)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI