Pemberdayaan Lahan Tidur untuk Anitisipasi Urbanisasi

KARANGTENGAH,(GE).- Tradisi mendulang rupiah dengan cara berbondong bondong pergi ke Ibu kota, merupakan hal biasa bagi mayoritas warga Desa Cintamanik, Kecamatan Karangtengah. Tidak diketahui persis sejak kapan kebiasaan ini bermula, yang jelas hampir setengah persen dari jumlah penduduk usia produktif dipastikan setiap tahunya “hijrah” ke luar kota.

Alasan perbaikan tarap taraf ekonomi menjadi latar belakang terjadinya arus urban. Jenis pekerjaan yang dijalaninyapun berpariasi mulai dari pekerja bangunan hingga menjual jasa.

Phenomena ini menjadi salah satu perhatian serius pihak Pemdes Cintamanik , sejak beberapa tahun terakhir. Potensi geografis wilayah dengan ketersediaan lebih dari 300 hektare lahan pertanian, menurut Kades Cintamanik, Misbahussudur, dapat dijadikan solusi menekan arus urban setiap tahunya. Apalagi peranan Pemdes selaku penyerta modal yang juga ditopang suntikan amunisi dari Dinas Pertanian melalui berbagai program bantuan.

” Ya, lahan kita luas , tapi separuhnya hanya merupakan lahan tidur, ini dampak dari gelombang urbanisasi penduduk. Angkanya juga sangat tinggi, hampir 60 % mereka kelompok usia produktif pencari kerja. Dan mereka pergi ‘hijrah’ ke kota kota besar. Kebanyakan ke ibu kota, namun ada juga yang berspekulasi mengadu nasib hingga ke luar pulau seperti Sumatra dan Irian jaya. Jenis pekerjaanya bermacam-macam. Namun mayoritas hampir 40% mereka bergerak di bidang penjual jasa sol sepatu.” Kata Misbahussudur.( 5/10/2015 ).

Selama ini mereka enggan menjadi petani atau bercocok tanam di kampung halamanya sendiri. Menurut Kades karena terseret arus temurun yang mengakar seolah menjadi sebuah keharusan mengikuti jejak pendahulunya pergi keluar kota. ” Pernah, saat saya menjabat BPD bersama pak Osim Kades waktu itu, melakukan antisipasi melalui program tanam strowberi yang mash berjalan sampai saat ini. Hasilnya, walaupun tidak signifikan kita berhasil menekan arus urban.

Dikatakannta, untuk perbaikan ekonomi lebih baik memilih berkarya di kampung halaman. Jangan sampai ada lagi lahan tidur . Potensi besar, bibit unggul , pupuk dan permodalan akan kita bantu. Semua sudah ada alokasinya.

“Dengan begitu, perputaran roda ekonomi dapat berjalan kencang di wilayah sendiri. Bila semua lahan tidur sudah mulai tergarap, otomatis akan banyak tenaga kerja terserap, hasil panin juga melimpah. Dan kita dari Pemdes sudah bersiap dengan wadah kelola Bumdes sebagai sarana penopang aktifitas mereka nantinya. Sebanyak 12 kelompok tani yang tersebar di 4 wilayah RW sudah kita bentuk sebagai langkah awal sosialisasi ke masyarakat.” Ungkapnya. (Doni Melody)***

TULIS KOMENTAR KAMU DI SINI

Komentar

BAGIKAN